Bahan I:
Logika Formal dan Logika Dialektik
Pelajaran dibawah ini adalah tentang pemikiran dialektika materialis, atau apa yang dikenal
sebagai logika Marxisme.
Betapa mengejutkan, apakah pelajaran ini memang penting? Di sini berkumpul anggota dan simpatisan dari sebuah partai revolusioner yang, di tengah-tengah perang dunia ke II, sedang
berada di bawah tekanan pemerintahan. Perang tersebut merupakan sebuah perang
terbesar dalam sejarah dunia. Buruh-buruh industri, kaum revolusioner
profesional, berkumpul bersama bukan untuk membicarakan dan memutuskan sebuah
aksi bersama, tapi untuk mempelajari sebuah ilmu yang menjadi tuntunan—sama
seperti matematika tingkat tinggi—bagi perjuangan politik sehari-hari sekarang
ini.
Alangkah
berbedanya dengan karikatur yang menyakitkan tentang gerakan marxis seperti
yang di gambarkan oleh tangan-tangan kelas kapitalis! Kelas-kelas pemilik
menggambarkan kaum sosialis yang revolusioner sebagai orang-orang gila yang
culas dan sedang membohongi diri sendiri dan orang lain dengan
pandangan-pandangan fantastisnya tentang dunia kelas buruh. Kita pun bisa
membuat karikatur seperti itu: penguasa-penguasa kapitalis layaknya seperti
anak-anak kecil yang yang sedang marah melihat gambaran sebuah dunia tanpa ada
mereka atau tanpa peran sentral mereka.
Mereka
mengaku bahwa mereka lebih logis dan masuk akal. Akhirnya, kini telah terbukti
bahwa, dengan melihat bagaimana cara mereka memandang dunia, bisa dipisahkan
siapa sebenarnya yang irasional dan siapa yang rasional dan masuk akal: kaum
kapitalis kah atau musuhnya—kaum revolusioner. Susunan masyarakat pada saat ini
sedang menuju ke arah kekacauaan dan berlaku seperti seorang maniak. Mereka
menenggelamkan dunia ke dalam pembunuhan massal untuk kedua kalinya dalam
seperempat sejarah manusia; mereka menyalakan obor peradaban; namun kemudian
menghancurkannya tanpa sisa-sisa kemanusiaan. Dan juru bicara mereka selalu
menyebutkan kita “gila”, dan perjuangan kita untuk sosialisme dilihat sebagai
sebuah bukti yang “tidak realistis”.
Mereka yang salah! Dalam pertempuran melawan kekacauaan-gila kapitalisme, demi sebuah
sistim sosialis yang bebas dari penghisapan dan penindasan kelas, bebas dari
perang, bebas dari krisis, bebas dari perbudakan imperialisme dan bebas dari
barbarisme—kita, kaum marxis, merupakan orang-orang yang paling beralasan dan
masuk akal sepanjang hidup kita. Itu lah mengapa—tidak seperti
kelompok-kelompok politik lainnya—kita harus mempelajari ilmu logika secara
serius. Perjuangan kita melawan kapitalisme, demi sosialisme, tak bisa
digagalkan dengan cara menghancurkan logika kita karena logika kita adalah
sebuah alat yang tak dapat dihancurkan.
Logika atau cara pikir dialektika materialis, pasti lah berbeda dengan logika atau cara
pikir borjuis yang ada sekarang ini. Metode kita, ide-ide kita—seperti yang
ingin kita buktikan—lebih ilmiah, jauh lebih praktis dan jauh lebih “logis”
ketimbang logika (cara pikir) lainnya. Kita menyusunnya dengan berbagai
perbandingan dan jauh lebih lengkap karena diisi oleh prinsip-prinsip mendasar
ilmu-pengetahuan yang bisa menemukan logika hakikat relasi-relasi semua
realita—oleh karenanya, hukum-hukum berfikir bisa disebarkan luaskan pada yang
lain (pada masyarakat di sekeliling kita yang terlihat tak berperasaan) dan
dapat dipelajari. Itu lah metode kita—walaupun harus hidup di tengah-tengah
kegilaan kelas kapitalis. Tugas kita adalah menemukan hukum-hukum yang paling
umum dari logika terdalam alam, masyarakat dan jiwa manusia. Sementara borjuis
kehilangan akal sehatnya, kita harus mencoba mengembangkan dan memperjelas
logika kita.
1. Pengertian Awal Logika
Logika adalahsebuah ilmu.Setiap ilmu memperlajari suatu gerak khusus dalam hubungannya dengan corak gerak material lainnya, dan berusaha untuk menemukan hukum-hukum umum dan corak tertentu dari gerakan tersebut. Logika adalah ilmu tentang proses
berfikir.Seorang akhli logika mempelajari kegiatan-kegiatan proses berfikir
yang ada di kepala setiap manusia dan mencoba merumuskan hukum-hukum,
bentuk-bentuk dan inter-relasi semua proses mentalnya.
Dua tipe
penting logika pernah muncul dalam dua tahap perkembangan ilmu logika, yakni:
logika formal dan logika dialektik. Keduanya merupakan bentuk-bentuk
perkembangan tertinggi gerak mental. Keduanya memiliki kesesuaian
fungsinya—pengertian sadar terhadap semua bentuk gerak.
Walaupun kita
baru saja tertarik pada dialektika materialis, jangan lah kita langsung
mempelajari dialektika materialis sebagai cara berfikir. Kita harus mendekati
dialektika secara tidak langsung dengan pertama kali menguji ide-ide mendasar
dari jenis lain cara berfikir: cara berfikir logika formal. Sebagai metode
berfikir, logika formal adalah lawan dari dialektika materialis.
Dalam ilmu
logika, mengapa kita harus memulai pelajaran kita tentang motode dialektika
dengan mempelajari lawannya?
2. Perkembangan Logika
Ada
beberapa alasan mengapa cara tersebut
kita ambil. Pertama, dalam sejarah perkembangan cara berfikir,
dialektika merupakan perkembangan lebih lanjut dari logika formal. Logika
formal adalah sebuah ilmu-pengetahuan besar tentang sistim proses berfikir.
Logika formal merupakan hasil karya filasat zaman yunani kuno. Pemikir-pemikir
Yunani kuno awal lah yang menemukan metode berfikir. Pemikir Yunani kuno,
seperti Aristoteles, mengumpulkan, mengkelasifikasikan, mengkritik dan
mensistimasikan hasil-hasil positif dari berbagai pemikiran dan membangun
sebuah sistim berfikir yang disebut logika formal. Euklides melakukan hal yang
sama untuk dasar-dasar geoemetri; Archimides untuk dasar-dasar mekanika;
Ptolomeus dari
Alexandria
kemudian menemukan astronomi dan geografi; dan Galen untuk anatomi.
Logika
aristoteles mempengaruhi cara berfikir umat manusia selama dua ribu tahun. Cara
fikir tersebut tidak memiliki lawan sampai kemudian ditantang, dijatuhkan dan
menjadi ketinggalan zaman oleh dan karena dialektika, sebuah sistim besar kedua
dalam ilmu cara berfikir. Dialektika merupakan hasil dari gerakan
ilmu-pengetahuan revolusioner selama seabad, yang dilakukan oleh
pekerja-pekerja intelektual. Dialektiaka muncul sebagai cara fikir
terbaru dari filsuf-filsuf besar dalam Revolusi Demokratik di Eropa Barat pada
abad ke-6 dan abad ke-17. Hegel, seorang tokoh dari sekolah filsafat idealis
(borjuis) di Jerman, adalah seorang guru besar yang pertama kali
mentransformasikan ilmu logika, seperti di sebutkan oleh Marx: “bentuk-bentuk
umum gerakan dialektika yang memiliki cara yang komprehensif dan sadar
sepenuhnya.”
Marx dan Engels adalah murid
Hegel di lapangan Logika. Dalam ilmu logika, mereka berdua lah yang kemudian
melakukan revolusi pada revolusi Hegelian—dengan menyingkirkan elemen mistik
dalam dialektikanya, dan menggantikan dialektika idealistik dengan sebuah
landasan material yang konsisten.
Pada saat
kita mendekati dialektika materialis dengan menggunakan logika formal, kita
harus memundurkan langkah kita pada sejarah aktual kemajuan ilmu logika, yakni
perkembangan dari logika formal menuju ke logika dialektik.
Adalah salah
jika kita mengira bahwa sejarah perkembangan cara berfikir adalah seperti ini:
bahwa para filsuf Yunani tidak mengetahui soal dialektika; atau mengira Hegel
dan Marx menolak sepenuhnya logika formal. Seperti yang dituliskan oleh Engels:
“filsuf yunani kuno sudah dialektik sejak kemunculannya dan Aristoteles,
sebagai intelektual yang paling ensiklopedis di antara mereka, bahkan sudah
menganalisa bentuk-bentuik paling esensial pemikiran dialektik.” Tak
ketinggalan pula, dialektika muncul dalam bentuk cikal bakalnya dalam pemikiran
filsuf Yunani. Namun filsuf Yunani belum dan tidak dapat mengembangkan serpihan-serpihan
pemikiran dialektik dalam sebuah sistimatika berfikir yang ilmiah. Mereka
menyumbangkan serpihan-serpihan pemikiran tersebut hingga menjadi bentuk akhir
logika formal Aristoteles. Pada saat yang bersamaan, penelitian dialektika
mereka, kritisisme pada cara fikir formal dan sebaliknya—dan semua persoalan
yang dihadapinya—dilakukan dengan keterbatasan logika formal, yang
diperjuangkan selama berabad-abad—yang, kemudian, dapat diselesaikan oleh
dialektika hegelian dan, kini, oleh dialektika marxis.
Para
akhli Dialektika modern tidak melihat logika formal
sebagai sesuatu yang tak berguna. Sebaliknya, mereka menganggap bahwa logika
formal tidak sekadar sesuatu yang penting dalam sejarah perkembangan metode
berfikir tapi juga cukup penting pada saat ini agar berfikir benar. Tapi, dalam
dirinya, logika formal jelas kurang lengkap. Unsur-unsur absyahnya menjadi
bagian dalam dialektika. Hubungan antara logika formal dengan dialektika
menjadi berkebalikan. Di dalam pemikiran Yunani klasik sisi formal logika
menjadi dominan dan aspek dialektiknya menjadi tergeser. Dalam ajaran modern,
dialektika berada di garda depan dan sisi formal logika menjadi sub-ordinat
terhadapnya.
Karena kedua
tipe yang bertentangan tersebut memiliki banyak kesamaan, dan logika formal
masuk sebagai materi struktural dalam kerangka logika dialektik, maka berguna
sekali bagi kita menguasai logika formal. Dalam mempelajari logika formal
secara tak langsung kita sudah siap menuju logika dialektik. Dengan
mengakui, atau setidaknya sedikit mengakui, logika formal, kita telah
siap memisahkan logika formal dari logika dialektik. Hegel menunjukkan hal yang
sama: ”Dalam kedekatannya yang terbatas (antara logika formal dan logika
dialektik) terdapat suatu kotradiksi yang bisa menyumbangkan sesuatu ke
belakang dirinya (logika dialektik).”
Akhirnya,
lewat prosedur tersebut, kita mendapatkan pelajaran berharga dalam pemikiran
dialektik. Hegel menjelaskan lagi: “Sesuatu tidak bisa dikenali secara
menyeluruh sebelum mengenali lawannya.” Contohnya, kau tidak dapat benar-benar
mengerti tentang seorang buruh-upahan sampai kau mengetahui bagaimana
sebaliknya lawan sosial ekonominya, kelas kapitalis. Kau tidak dapat mengetahui
Trotskyisme sampai kau mempelajari secara mendalam esensi antitesis politiknya,
yakni Stalinisme. Jadi kau tak akan bisa mempelajari kedalaman dialektika tanpa
pertama kali mempelajari secara mendalam sejarah pendahulunya dan antitesis
teoritisnya, yakni logika formal.
3. Tiga Hukum Dasar Logika
Formal
Ada
tiga hukum dasar
logika formal. Yang pertama dan terpenting adalah hukum identitas. Hukum
tersebut dapat disebutkan dengan berbagai cara seperti: “sesuatu adalah selalu
sama dengan atau identik dengan dirinya, dalam Aljabar: A sama dengan A.”
Rumusan
khusus hukum tersebut tak terlalu penting. Pemikiran esensial dalam hukum
tersebut adalah seperti berikut. Dengan mengatakan bahwa sesuatu itu sama
dengan dirinya, maka dalam segala kondisi tertentu sesuatu itu tetap sama dan
tak berubah. Keberadaannya absolut. Seperti yang dikatakan oleh akhli fisika: ”
materi tidak dapat di buat dan dihancurkan.” Materi selalu tetap sebagai
materi.
Jika sesuatu
adalah selalu dan dalam semua kondisi sama atau identik dengan dirinya, maka ia
tidak dapat tidak sama atau berbeda dari dirinya. Kesimpulan tersebut secara
logis patuh pada hukum identitas: Jika A selalu sama dengan A, maka ia
tidak pernah sama dengan bukan A (Non-A).
Kesimpulan
tersebut dibuat secara eksplisit dalam hukum kedua logika formal: hukum
kontradiksi. Hukum kontradiksi menyatakan bahwa A adalah bukan Non-A. Itu tidak
lebih dari sebuah rumusan negatif dari pernyataan posistif, yang dituntun oleh
hukum pertama logika formal. Jika A adalah A, maka menurut pemikiran formal, A
tidak dapat menjadi Non-A. Jadi hukum kedua dari logika formal, yakni hukum
kontradiksi, membentuk tambahan esensial pada hukum pertama. Beberapa contoh:
manusia tidak dapat menjadi bukan manusia; demokrasi tidak dapat menjadi tidak
demokratik; buruh-upahan tidak dapat menjadi bukan buruh-upahan.
Hukum
kontradiksi menunjukkan pemisahan perbedaan antara esensi materi dengan
fikiran. Jika A selalu sama dengan dirinya maka ia tidak mungkin berbeda dengan
dirinya. Perbedaan dan persamaan menurut dua hukum di atas adalah benar-benar
berbeda, sepenuhnya tak berhubungan, dan menunjukkan saling berbedanya antara
karakter benda (things) dengan karakter fikiran (thought)
Kwalitas yang
saling berbeda dan terpisah dari setiap benda ditunjukkan dalam hukum yang ketiga
logika formal. Yakni: hukum tiada jalan tengah. (the law of excluded middle).
Menurut hukum tersebut segala sesuatu hanya memiliki salah satu karakteristik
tertentu. Jika A sama dengan A,
maka ia tidak dapat sama dengan Non-A. A tidak dapat menjadi bagian dari dua
kelas yang bertentangan pada waktu yang bersamaan. Dimana pun dua hal yang
berlawanan tersebut akan saling bertentangan, keduanya tidak dapat dikatakan
benar atau salah. A adalah bukan B; dan B adalah bukan A. Kebenaran dari sebuah
pernyataan selalu menunjukkan kesalahan (berdasarkan lawan pertentangannya) dan
sebaliknya.
Hukum yang
ketiga tersebut adalah sebuah kombinasi dari dua hukum pertama dan berkembang
secara logis.
Ketiga hukum
tersebut mencakup sebagian dasar-dasar logika formal. Alasan-alasan formal
berjalan menurut proposisinya. Selama 2.000 tahun aksioma-aksioma yang jelas
dalam sistim berfikir Aristoteles telah menguasai cara berfikir manusia,
layaknya hukum pertukaran dari nilai yang sama, yang telah membentuk fondasi
bagi produksi komoditi masyarakat.
Lihatlah
contoh dariku tentang sistim berfikir Aristoteles, sebagai berikut: dalam
bukunya yang berjudul Posterior Analytics ( Buku I; Bagian 33),
Aristoteles mengatakan bahwa seseorang tidak dapat secara terus menerus
memahami bahwa manusia pada dasarnya adalah hewan, dengan demikian bisa juga
dikatakan bahwa manusia adalah bukan hewan. Dengan demikian, manusia pada
dasarnya adalah seorang manusia dan tidak dapat dianggap bukan manusia.
Hal tersebut
seperti yang diungkapkan dalam hukum logika formal. Kita mengetahui bahwa hal
itu berlawanan dengan kenyataan. Teori perkembangan alam mengajarkan bahwa
tidak bisa lain—manusia pada dasarnya adalah binatang. Secara logika manusia
adalah binatang. Tapi kita ketahui juga dari teori evolusi sosial, bahwa
manusia adalah kelanjutan dari perkembangan evolusi binatang. Dengan demikian,
dapat dikatakan bahwa secara esensial ia adalah manusia, yang spesiesnya cukup
berbeda dengan binatang lainnya. Kita mengetahui bahwa hal tersebut merupakan
dua hal: yang satu dengan yang lainnya berbeda pada saat yang bersamaan.
Aristoteles dan hukum logika formal tidak dapat berlaku lagi.
4. Isi Material dan Realitas Obyektif Hukum-hukum Tersebut
Kita bisa melihat dari contoh
tersebut betapa cepat dan spontannya karakter dialektik suatu materi, oleh
karena itu, dengan segera, muncul lah pemikiran yang merupakan cermin kritis
terhadap pikiran formal. Walaupun ada suatu intensitas yang mengetatkan logika
formal, namun tetap saja kita akan tergiring dan terdorong untuk melangkah
lebih ke depan, melewati batas logika formal, pada saat kita hendak mencari
kebenaran sesuatu hal. Dan sekarang kita kembali kepada logika formal
Seperti yang
aku katakan sebelumnnya, dialektika modern tidak menolak kebenaran yang
dikandung oleh hukum-hukum logika formal. Sikap penolakan terhadap logika
formal akan berlawanan dengan semangat dialektika, yang melihat beberapa
kebenaran dalam kenyataan logika formal itu sendiri. Pada saat bersamaan,
dialektika membuat kita bisa melihat batas-batas dan kesalahan dalam
memformalkan pandangan tentang sesuatu.
Hukum-hukum
logika formal berisikan unsur-unsur kebenaran yang sangat penting dan tak bisa
ditolak. Semua hukum tersebut bukan lah merupakan jeneralisasi pikiran-pikiran
yang random dan hasil khayalan yang tak berarti. Hukum-hukum tersebut keluar
lewat sebuh proses dunia nyata yang, selama ribuan tahun, oleh Aristoteles dan
para pengikutnya, digunakan oleh peradaban manusia. Jutaan orang yang belum
pernah mendengar tentang Aristoteles dan pikiran-pikirannya, sampai sekarang,
berpikir untuk mengabaikan hukum-hukum awal yang pertama kali dirumuskannya.
Mereka, yang seperti itu, tak akan bisa sampai mengerti tentang hukum-hukum
gerak
Newton
—walaupun mereka dapat melihat
kerangka fisik setiap hasil pemikiran
Newton
,
namun mereka gagal memahami teori Hukum Newton tersebut secara lengkap. Dalam
dunia obyektif, mengapa orang berfikir dan melakukan pensejajaran antara
hukum-hukum
Newton
dengan hukum-hukum Aristoteles. Karena, kenyatannya, hukum berpikir Aristotles
memiliki isi yang material, sama halnya juga dalam dunia objektif, sama halnya
juga dalam hukum gerak mekanika
Newton
.
“…metode berpikir kita, apakah itu logika formal atau logika dialektik,
bukan lah sebuah susunan serampangan akal sehat kita tapi lebih sebagai sebuah
ekspresi interelasi-aktual dalam alam kita sendiri.”[1]
Karakter
macam apa yang ada dalam realitas material yang hendak dicerminkan, dan secara
konseptual dihasilkan kembali, oleh hukum-hukum berfikir formal?
Hukum identitas bertujuan
merumuskan fakta material agar bisa mendefinisikan segala sesuatu dan
memperlakukan segala hal dalam semua perubahan fenomenanya. Dimana pun
kelanjutan (perubahan) esensial hadir dalam realitas, hukum identitas tetap bisa
mendeteksinya.
Kita tak bisa
berbuat atau berfikir secara sadar bila menolak hukum tersebut. Jika kita tidak
bisa lagi mengenali diri kita sendiri karena amnesia atau karena sesuatu
hal—karena kerusakan mental, misalnya—hingga menghilangkan kesadaran identitas
pribadi kita, maka diri kita akan hilang. Tapi hukum identitas hanya lah absyah
untuk melihat dunia secara universal ketimbang untuk melihat kesadaran manusia
itu sendiri. Hukum tersebut muncul setiap hari dan dimana saja dalam kehidupan
sosial. Jika kita tidak bisa mengenali bagian mental yang sama, lewat beberapa
tindakan, maka kita tidak akan bisa melakukan produksi. Jika seorang petani
tidak bisa mengerti perkembangan jagung yang ia tanam dari biji sampai
menghasilkan jagung lagi, dan kemudian menjadi bahan makanan, maka tidak
mungkin ada pertanian.
Anak-anak
yang telah mengerti lebih jauh, bisa memahami alam dunianya saat pertama kali
ia menemukan fakta bahwa ibu yang menyusuinya adalah orang yang sama yang,
dengan berbagai cara, memberinya makan. Pengenalan kebenaran dengan cara
seperti itu tak lain merupakan sebuah contoh khusus tentang pengenalan terhadap
hukum identitas.
Jika kita
tidak jernih melihat proses perkembangan dan perubahan-perubahan menuju negara
kelas pekerja, maka kita tentu saja akan dengan mudah terjebak dalam kekacauan
pemahaman saat berupaya untuk mengerti tentang perjungan kelas yang ada
sekarang. Dalam kenyataannya, oposisi borjuis kecil menjawab dengan cara yang
salah ketika merespon persoalan yang terjadi di Rusia, tidak hanya karena
mereka menolak metode dialektik, tapi juga karena mereka tak bisa
mengaplikasikan hukum identitas secara tepat. Dalam proses perkembangan Soviet
Rusia, mereka tak bisa melihat—lepaskan dari Uni Sovyet yang di bangun
selanjutnya oleh rejim Stalin—bahwa Uni Soviet bisa mempertahankan
landasan–landasan sosial ekonomi negara kelas pekerja, yang didirikan oleh
kelas buruh dan petani Rusia setelah revolusi oktober. Kelasifikasi secara
benar, yang lepas dari perbandingan yang berbasiskan suka tidak suka, merupakan
suatu basis yang sangat penting dan sebagai langkah awal dalam investigasi
ilmiah. Kelasifikasi sangat penting untuk memilah penambahan terhadap kelas
yang sama dan pengurangan terhadap kelas yang berbeda serta untuk menyatukan
kelas-kelas yang berbeda—semua itu tak mungkin dilakukan tanpa menggunakan
hukum identitas. Teori Darwin tentang revolusi pengorganisasian manusia berasal
dan tergantung dari pengenalan terhadap identitas esensial berbagai makhluk
yang berbeda di atas bumi ini. Hukum gerak mekanik
Newton
dapat disimpulkan berasal dari gerak
massa
,
dari logika batu jatuh hingga planet-planet yang berputar dalam sistim
matahari. Semua ilmu-pengetahuan lahir dan merupakan bagian dari hukum
identitas.
Hukum
identititas mengarahkan hingga bisa mengenali keragaman, perubahan permanen,
kesamaan, pemisahan dan penampakan yang berbeda, guna mencakup keseluruhan
semua itu, serta guna mendapatkan penghubung antar fase-fase berbeda dari
fenomena tertentu. Oleh sebab itu, penemuan dan penggunaan hukum tersebut
disimpulkan telah membuat sejarah dalam pemikiran ilmiah dan, oleh karenanya,
kita memberikan penghargaan pada Aristoteles untuk semua yang telah
dirumuskannya. Oleh karena itu pula, manusia berbuat dan berpikir sesuai dengan
hukum dasar logika fiormal tersebut.
Mungkin akan
muncul pertanyaan: “bagaimana hukum tersebut berlaku secara gampangannya?
Jawabnya: fakta bahwa sesuatu adalah sesuatu.
Amat lah
penting kehadiran hukum dasar tersebut dalam sejarah. Merupakan sebuah kemajuan
yang besar sekali dalam sistim pengetahunan tentang dunia ketika manusia
menemukan bahwa awan, uap, hujan dan es semuanya berasal dari air. Atau bawah
surga dan bumi adalah dua hal yang bertentangan namun juga sama (surga di
bumi). Ilmu Biologi mengalami revolusi dengan penemuan bahwa kehidupan
organisme bersel satu dan manusia terdiri dari substansi yang sama. Ilmu fisika
mengalami revolusi dengan bisa ditunjukkannya bahwa semua bentuk gerak material
dapat saling bertukar dan secara esensial sama.
Tidak kah
merupakan sebuah langkah yang menakjubkan dalam pengetahuan sosial dan politik
ketika kelas pekerja menemukan pengetahuan, di satu sisi, bahwa upah kerja
adalah upah kerja dan, di sisi lain, kapitalis adalah kapitalis. Pengetahuan
bahwa buruh di mana saja memiliki kepentingan yang sama, menembus batas
wilayah, nasional dan ras. Sehingga pengakuan terhadap kebenaran yang berasal
dari hukum identitas adalah sebuah syarat untuk menjadi seorang sosialis yang
revolusioner.
Satu hal,
bagaimanapun kita memperhatikan dan menggunakan suatu hukum, adalah merupakan
hal yang berbeda dengan mengerti dan memformulasikannya dalam sebuah cara yang
ilmiah. Semua orang dapat bertindak sesuai dengan hukum namun sulit untuk
mengetahui bagaimana hukum tersebut beroperasi. Sama dengan hukum logika itu
sendiri. Setiap orang berpikir tapi tak seorang pun tahu hukum yang mana yang
sedang berlangsung dalam pemikirannya.
Hukum
kontradiksi merumuskan fakta-fakta material yang hadir secara bersamaan dengan
yang lainnya, dan bisa dalam keadaan-keadaan yang berbeda-beda. Secara nyata
aku tidak sama dengan anda—jelas kita berbeda. Atau aku hari ini berbeda dangan
aku kemarin—jelas keberadaanku berbeda. Atau Uni Soviet berbeda dengan negeri
lainnya, dan perkembangan Uni Soviet membedakan Uni Sovyet dahulu dengan Uni
Sovyet sekarang—jelas perbedaan-perbedaannya.
Hukum formal
kontradiksi, atau penajaman perbedaan-perbedaan adalah penting untuk
memperoleh kelasifikasi yang tepat sesuai dengan hukum identitas. Tanpa
keberadaan perbedaan-perbedaan tersebut, tak perlu ada kelasifikasi, tanpa
identitas maka tak mungkin melakukan kelasifikasi.
Hukum tak ada
jalan tengah (excluded middle) menunjukkan bahwa semua hal saling
bertentangan dan saling mengisi dalam kenyataannya. Aku pasti lah aku atau
orang lain; hari ini aku seharusnya sama atau berbeda dengan kemarin; Uni
Soviet seharusnya sama atau berbeda dengan negeri lain; aku pasti lah manusia
atau binatang; aku tidak dapat secara bersamaan merupakan dua identitas yang
berbeda.
Oleh
karenanya, hukum logika formal mengekspresikan masa depan yang
merepresentasikan dunia nyata. Hukum-hukum tersebut berisi suatu materi
dan suatu dasar objektif. Hukum-hukum tersebut secara bersamaan merupakan
hukum berfikir, hukum masyarakat dan hukum alam. Ketiga akar Hukum tersebut
memiliki karakter universal.
Ketiga hukum
yang kita pelajari di atas bukan merupakan keseluruhan logika formal. Namun
merupakan hukum-hukum dasar yang sederhana. Di atas dasar itu lah, dan di
luar darinya lah, muncul sejumlah struktur ilmu logika yang kompleks, yang
memiliki kerumitan rincian-rincian setiap elemennya, dan yang di dalamnya
memiliki bentuk mekanisme berpikir. Tapi kita tak akan masuk ke diskusi tentang
berbagai kategori, bentuk proposisi, sikap-sikap, silogisme dan yang lainnya,
yang membentuk isi tubuh logika formal. Hal tersebut bisa dicari di buku
tentang logika elementer lainnya. Secara prinsipil kita lebih peduli pada
pemahaman ide-ide esensial logika formal, tapi bukan pada detail
perkembangannya.
5. Logika Formal dan Akal
Sehat
Dalam
lingkaran intelektual borjuis, akal sehat dijadikan satu pola dan cara berfikir
serta menjadi penuntun tindakan. Hanya ilmu-pengetahuan yang dilandasi akal
sehat lah yang bisa berada pada hirarki nilai yang tinggi. Atas nama akal sehat
dan ilmu-pengetahuan, misalnya, Max Eastman menuduh Marxis sebagai penjunjung
dialektika metafisik dan mistik. Sialnya, ideolog-ideolog borjuis dan borjuis
kecil jarang menginformasikan pada kita apa sisi logis akal sehat mereka dan
bagaimana hubungan antara akal sehat dengan ilmu-pengetahuan? Kita akan
menjawab mereka! Kenyataannya, mereka yang anti dialektika sebenarnya tidak
hanya tidak tahu apa dialektika itu. Mereka bahkan tak tahu apa logika formal
itu. Hal itu tidak mengejutkan. Apa kah kelas kapitalis tahu apa itu
kapitalisme, bagaimana hukum-hukumnya beroperasi? Jika mereka tahu, mereka akan
sadar akan krisis dan perang yang mereka buat, dan tak akan seyakin sekarang
dengan sistim yang mereka nikmati itu. Stalinis tak tahu apa sebetulnya
stalinisme itu dan akan ke mana arah sistim tersebut. Jika mereka tahu mereka
tidak akan lagi menjadi Stalinis, atau mereka akan menjadi sesuatu yang lain.
Sejauh ini,
akal sehat masih secara sistimatis tersusun dan memiliki karakter logis, serta
akal sehat menyatu dengan logika formal. Akal sehat bisa diurai menjadi bentuk
yang tidak sistimatis dan setengah sadar dalam hubungannya dengan
ilmu-pengetahuan logika formal. Ide-ide dan metode logika formal yang digunakan
sekarang, sebenarnya, telah digunakan sejak berabad-abad yang lalu, memiliki
saling hubungan dengan proses berfikir kita, masuk dalam pabrik peradaban kita,
dan nampak bagi kebanyakan orang sebagai sesuatu yang normal, ekslusif,
serta bercorak pikir wajar. Konsepsi dan mekanisme logika formal, seperti silogisme,
merupakan alat berfikir yang seakrab dan seuniversal layaknya pisau tajam.
Seperti kita
ketahui, borjuis percaya bahwa masyarakat kapitalis akan abadi karena, menurut
mereka, merupakan hal yang ilmiah dan tak dapat diubah. Sosialisme, kata
mereka, adalah tidak mungkin dan tidak masuk akal sehat karena manusia akan
selalu terbagi ke dalam dua kelas yang saling bertentangan. yakni yang kaya dan
yang miskin, yang kuat dan yang lemah, pemerintah dan yang diperintah, yang
bermilik dan yang tak bermilik, dan setiap kelas akan berjuang sampai mati demi
hidup yang lebih baik. Sebuah bentuk organisasi sosial yang tanpa kelas, yang
terencana sehingga tidak anarki, yang melindungi si lemah melawan si kuat,
terlihat absur, tak masuk akal, bagi mereka. Mereka melihat ide sosialis
sebagai fantasi, harapan-harapan kosong.
Sampai kita
tahu sosialisme bukan lah sebuah mimpi tapi sebuah keniscayaan sejarah. Sebagai
sebuah tahapan evolusi sosial selanjutnya. Kita tahu kapitalisme tidak lah
abadi tapi suatu bentuk sejarah tertentu cerminan produksi material, yang
terbentuk karena perkembangan produksi sosial, dan takdirnya: akan digantikan
oleh bentuk yang lebih superior, produksi sosialis.
Mari kita
lihat ilmu berpikir dari satu titik yang sama, yakni dengan melihat pada ilmu
sosial. Pemikir-pemikir Borjuis dan borjuis kecil percaya bahwa pemikiran
formal adalah bentuk akhir yang sudah final dan pas. Mereka menolak dilalektika
materialis sebagai bentuk tertinggi pemikiran.
Kau ingat,
ketika seseorang bertanya tentang kapitalisme permanen atau berargumentasi
tentang pentingnya sosialisme, kau akan jatuh dalam keraguan pada ide-ide
revolusioner yang baru. Kenapa? Karena dirimu telah diperbudak oleh ide
penguasa zaman kita yang, seperti di katakan Marx, sebagai ide-ide kelas penguasa.
Ide-ide kelas penguasa dalam ilmu logika sekarang ini adalah ide-ide logika
formal yang lebih rendah, lebih hina, dari akal sehat. Semua bagian dan kritik
dialektika sebenarnya berdiri di atas landasan logika formal—terserah mereka
mau mengakuinya atau tidak.
Tak diragukan
lagi, dalam masyarakat kita, ide-ide logika formal berisikan semua praduga
teoritis yang paling kepala batu. Meski telah beberapa orang menanggalkan
keyakinannya terhadap kapitalisme, dan telah menjadi sosialis yang revolusioner,
bisa saja mereka belum secara keseluruhan bisa melepas kebiasaan logika formal
mereka yang diperoleh dari kehidupan borjuis sebelumnya. Kesungguhan seorang
akhli dialektika bisa mengalami kemunduran jika mereka tak berhati-hati dan
sadar dalam cara berfikirnya.
Marxisme,
selain menolak keabadian kapitalisme, ia juga menolak keabadian kelas
kapitalis. Pemikiran manusia telah berubah dan berkembang sepanjang
perkembangan umat manusia. Hukum berpikir tidak lah lebih abadi daripada hukum
yang ada di masyarakat. Sama halnya dengan kapitalisme, yang hanya sekadar
sebuah mata-rantai bentuk sejarah produksi sosial, demikian halnya dengan
logika formal, yang hanya sekadar sebuah mata-rantai bentuk sejarah
produksi intelektual. Seperti halnya kekuatan sosialisme, yang sedang berjuang
untuk menggantikan bentuk produksi sosial kapitalisme dengan sebuah sistem yang
lebih berkembang dan maju, demikian pula halnya pembela dialektika materialis,
sebagai sebuah logika sosialisme ilmiah, sedang berjuang melawan logika formal
yang telah ketinggalan zaman. Perjuangan teoritis dan praktek politik praktis
merupakan bagian yang integral satu dengan yang lainnya, dan sama-sama berada
dalam proses revolusioner.
Sebelum
kemunculan astronomi modern, orang-orang percaya bahwa matahari dan planet
lainnya mengitari bumi. Mereka secara tidak kritis percaya pada pembuktian akal
sehat yang ditangkap oleh mata. Aristoteles mengajarkan bahwa bumi telah pas
dan sempurna. Tahun ini adalah peringatan 400 tahun penerbitan buku
Copernicus. Sebuah revolusi pemikiran tentang tata surya, yang menumbangkan
pemikiran bahwa bumi adalah pusat kekuasaan.
Seabad
kemudian Galileo membuktikan kebenaran teori Copernicus. Semua profesor yang
bertentangan dengan Copernicus mencemohkannya, seperti yang dikeluhkan Galileo:
”Aku berharap bisa menunjukkan bahwa planet Yupiter, yang menjadi satelit bagi
para profesor di
Florence
,
bisa mereka lihat lewat mata mereka sendiri atau dengan teleskop.”
Para
profesor tersebut, atas nama teori Aristoteles,
menyerukan perlawanan terhadap usaha Galileo tersebut, dan akhirnya menggunakan
kekuasaan untuk memenjarakan Galileo. Pelayan-pelayan negara dan gereja
tersebut berhasil menekan argumen Galileo, melarang pengedaran bukunya,
menteror dan bahkan membunuh lawan-lawan ilmuwan lainnya karena ide-ide mereka
sangat revolusioner. Mereka membudak pada dominasi kelas penguasa.
Sama halnya
dengan dialektika, khususnya dialaektik materialis, ide dan metode nya bahkan
lebih revolusioner ketimbang ide Copernicus tentang Astronomi. Pertama
pemutarbalikan sorga yang selama ini diagungkan oleh abad tengah, kemudian
penajaman terhadap kelas progresif dalam masyarakat yang akan memutarbalikan
masyarakat kapitalis. Itu lah sebabnya ide-ide dialektika materialis sangat
ditentang oleh para pembela logika formal dan akal sehat. Besok, dengan
revolusi sosialis, dialektika akan menjadi akal sehat dan logika formal akan
mengambil posisi sub-ordiansi, hanya dianggap sebagai penolong dalam cara
berfikir ketimbang seperti yang berlaku sekarang ini—mendominasi pemikiran,
menyesatkan fikiran dan menghambat semua kemajuan berfikir yang menjadi
tuntutan zaman.
Bahan
II: Keterbatasan Logika Formal
Pada
bahan pelajaran pertama kita telah menjawab tiga pertanyaan.
1.
Apa itu logika? Kita mendifininisikan logika sebagai sebuah ilmu proses
berpikir dalam hubungannya dengan semua proses yang lain di dunia ini. Kita
telah belajar mengetahui dua sistim penting dalam logika: logika formal dan
logika dialektik.
2.
Apa itu logika formal? Kita telah belajar memahami bahwa logika formal adalah
cara berpikir yang didominasi oleh hukum identitas, hukum kontradiksi dan kukum
tak ada jalan tengah (excluded middle). Kita telah paham bahwa ketiga
hukum fundamental logika formal tersebut memiliki isi materi dan basis
objektif; yang dirumuskan secara eksplisit berdasarkan logika instinktif
yang ada pada akal sehat; yang bersisikan aturan-aturan berfikir dalam
kehidupan borjuis.
3.
Apa hubungan antara logika formal dan logika dialektik? kedua sistim
berfikir tersebut tumbuh dan berhubungan di dua tahap yang berbeda dalam
perkembangan ilmu-pengetahuan berfikir. Logika formal berkembang secara
dialektik dalam evolusi sejarah logika, seperti yang biasa terjadi dalam
perkembangan intelektual seseorang. Kemudian logika dialektik muncul sebagai
kritik terhadap logika formal, menjatuhkan dan menggantikannya. Logika
dialektik menjadi lawan yang revolusioner, mengambil alih dan menjadi solusi.
Dalam pelajaran kedua
ini, kita berharap bisa mengungkap keterbatasan logika formal, dan mendapatkan
bagaimana dialektika bangkit karena ujian kritis terhadap ide-ide
fundamentalnya. Saat ini kita telah memahami apa yang menjadi dasar logika
formal, dan apa yang dicerminkannya dari realita, mengapa menjadi penting
dan bermanfaat bagi proses berfikir, dan sekarang kita akan melangkah lebih
jauh lagi untuk melihat apa yang menjadi distorsi dalam logika formal serta apa
yang harus ditolak dari logika formal. Kita akan melihat sisi yang tak
bermanfaat dari logika formal.
Dalam langkah selanjutnya
dari investigasi kita, kita tak akan mendapatkan hasil negatif yang bisa
dijadikan alasan keraguan kita sehingga harus menolak seluruh bagian dari
logika formal. Sebaliknya, justru kita akan mendapatkan hasil yang paling
positif. Walaupun terdapat beberapa kekurangan dalam logika formal, namun
terdapat juga beberapa karakter penting yang bisa diambil dari logika formal
yang bisa menyempurnakan logika penggantinya, logika dialektik. Sehingga dalam
proses pembelahan logika elementer dan pemisahan unsur yang absyah dari yang
salah, kita bisa mendapatkan sebuah landasan bagi dialektika. Tindakan kritis
dan kreatif, negasi dan affirmasi, saling bergandengan sebagai dua sisi dari
proses yang sama.
Kedua gerak
penghancuran dan pembentukan dilahirkan tidak saja dalam evolusi logika tapi
juga dalam semua proses. Setiap lompatan ke depan, setiap tindakan kreatif
melibatkan penghancuran. Agar dapat lahir, seekor anak ayam harus memecahkan
kulit telor yang membungkusnya, yang telah menjadi tempat tinggal dan sumber
kehidupan pada tahap tertentu. Sehingga, agar mendapatkan ruang bagi
kebebasannya dan melanjutkan perkembangan selanjutnya, ilmu berpikir harus
menghancurkan kulit pembungkus logika formal.
Logika formal selalu
mulai dengan preposisi: A adalah selalu sama dengan A. Kita mengakui bahwa
hukum tentang identitas ini mengadung beberapa kebenaran, yang merupakan sebuah
fungsi yang tidak bisa dipisahkan dalam pengetahuan berfikir, dan yang
selanjutnya digunakan dalam peradaban mansuia di dalam kegiatan sehari-harinya.
Tapi sejauh mana kebenaran hukum tersebut? Apakah hukum tersebut bisa terus
menjadi penuntun dalam realitas yang menjadi lebih kompleks? Demikian lah,
pertanyaan selanjutnya.
Pembuktian salah
benarnya setiap preposisi diperoleh dengan melihat realitas objektif dan
praktek nyatanya, derajatnya dan isi konkrit yang terkandung dalam
preposisi tersebut. Apa kah isinya berhubungan dengan sebuah output yang
bisa dihasilkan oleh realitas, sehingga preposisi itu menjadi benar. Jika
tidak, maka preposisi tersebut tidak bisa dibenarkan.
Sekarang apa yang bisa
kita dapat saat harus berhadapan dengan realitas, bukti apa yang bisa
membenarkan kebenaran preposisi: A sama denan A? Ternyata, tak ada sesuatu pun
dalam realita yang secara sempurna sama dengan isi preposisi tersebut.
Sebaliknya, kebalikan dari aksioma tersebut jauh lebih mendekati pada
kebenaran.
Bagaimanapun kita
berusaha membuktikan bahwa A sama daengan A—ternyata, kita tidak bisa berhasil
secara sempurna. Seperti kata Trotsky: “…meneliti dua huruf tersebut di
bawah sebuah lensa pembesar—satu dengan yang lainnya sama sekali berbeda.
Namun, orang bisa saja berkeberatan, karena hal-hal lain (misalnya) semata-mata
merupakan simbol bagi kuantitas-kuantitas yang sederajat, contohnya, satu pon gula,
masalahnya bukan ukuran atau bentuk dari huruf-huruf tersebut.”
“Di samping kecurigaan
ekstrim pada nilai praktis. Hal tersebut juga menunjukan ketidakkritisan
teoritis. Bagaimana dengan momentum? Hal yang pertama tentu berbeda momentumnya
dengan hal yang kedua karena segalanya ada dalam kurun waktu tertentu. Waktu
adalah sebuah unsur yang paling fundamental bagi keberadaan. Sehingga
aksioma A sama dengan A akan berlaku jika tidak ada perubahan, jika tidak, maka
aksioma tersebut tidak akan berlaku”[2]
Itu lah
sebabnya beberapa pembela logika formal mencoba membela diri dengan berkata:
memang benar hukum identitas tidak bisa absolut, tapi itu tidak berarti kita dapat
menolak prinsip tersebut. Kebenaran tersebut adalah absyah walaupun tidak
berhubungan dengan realitas. Posisi mereka tidak bisa memahami
kontradiksi; justru, dengan demikian, semakin menunjukkan bahwa, dalam
pandangan mereka, hukum identitas tersebut hanya berlaku sejauh tidak
berhubungan dengan realitas, dan jika berhubungan dengan realitas maka hukum
tersebut justru akan mendatangkan kesalahan-kesalahan tertentu.
Seperti yang di
kemukakan oleh Trotsky: “Aksioma A sama dengan A menunjukkan suatu titik
keberangkatan menuju ke keseluruhan kebenaran pengetahuan kita namun, di sisi
yang lain, juga merupakan titik keberangkatan menuju ke keseluruhan kesalahan
pengetahuan kita.”[3]
Bagaimana mungkin sesuatu hal, yang ada dalam hukum yang sama, menjadi sumber
bagi kedua pengetahuan—pengetahuan yang salah dan pengetahuan yang benar?
Kontradiksi tersebut dapat dijelaskan oleh fakta bahwa hukum identitas memiliki
dua sisi karakter: kesalahan dan kebenaran. Hukum identitas memiliki kebenaran
pada batas-batas tertentu. Batasan tersebut dikarenakan karakter esensialnya,
yang ditunjukkan oleh perkembangan aktual obyek pertanyaannya. Di sisi lain,
dilihat dari tujuan praktis cara pandang tertentu.
Sekali waktu,
batasan-batasan tersebut muncul, sehingga hukum identitas tidak lagi tepat dan
berbelok menjadi kesalahan. Semakin jauh kita maju tanpa pegangan batasan
tersebut, semakin jauh pula hukum identitas tersebut menyeret kita membelok
dari kebenaran. Hukum yang lain mungkin akan mengoreksi kesalahan yang semakin
banyak tersebut, namun tidak terlepas juga kemungkinannya akan masuk ke
persoalan yang lebih kompleks dan yang lebih baru lagi.
Mari kita lihat
contohnya. Dari Albany ke New York hanya disusuri oleh sungai Hudson, tak ada
yang lainnya. A selalu sama dengan A. Dengan keterbatasan tersebut akan sulit
untuk memastikan bahwa sungai Hudson tersebut merupakan satu-satunya sumber air
yang ada, dan sama dari hilir sampai muara, sungai Hudson. Setelah sampai di
muara pelabuhan New York, ternyata sungai Hudson telah kehilangan identitasnya
dan menyatu dengan Samudra Atlantik. Sedangkan air Sungai Hudson,
terpecah menjadi beberapa anak-anak sungai yang lain yang, walaupun
berasal dari mata air yang sama, tapi memiliki identitas yang berbeda-beda dan
materi yang berbeda pula, jauh berbeda dengan sungai Hudson itu sendiri.
Sehingga di kedua tempat tersebut—sumber mata air dan muaranya—identitas Sungai
Hudson menghilang, tak lagi seutuhnya sama.
Demikian pula halnya
dengan kemungkinan hilangnya identitas di sepanjang sungai Hudson tersebut.
Identitas sungai tersebut tergantung pada kedua sisi parit yang menahan aliran
airnya. Namun, jika sungai tersebut pasang atau surut, atau jika terjadi erosi,
maka parit tersebut akan berubah. Hujan dan banjir akan merubah batasan-batasan
sepanjang sungai itu secara permanen atau sementara. Walaupun sungai tersebut
tetap bernama Hudson, namun isinya tak akan pernah berupa air yang sama. Setiap
tetesnya sudah berbeda. Oleh karenanya, sungai Hudson tersebut terus berubah
identitasnya setiap saat.
Atau coba kita lihat
contoh Dolar yang di kemukakan Trotsky. Kita biasanya mengasumsikan bahwa mata
uang Dolar adalah mata uang Dolar itu sendiri. A sama dengan A. Tapi kita mulai
sadar sekarang bahwa Dolar sekarang berbeda nilainya dengan dolar pada waktu
yang lampau. Dolar tersebut semakin berkurang nilainya. Pada tahun 1942
kemampuan dolar hanya tiga perempat kemampuan pada tahun 1929.
Sepertinya, dolar tidak
berubah dan hukum identitas masih bisa di gunakan, tapi, pada saat yang sama,
nilainya juga sudah berubah.
“Pemikiran ilmiah kita
hanya lah salah satu bagian dari keseluruhan tindakan praktek kita, termasuk
teknik-teknik. Dalam konsep-kopsep, eksistensi “toleransi” juga diperkenankan.
Toleransi tersebut ditegakkan bukan dengan logika formal yang berasal dari
aksioma A adalah sama dengan A, tapi dengan logika dialektik yang berasal dari
aksioma bahwa semua hal selalu berubah. “Akal sehat” dikarakterisasi oleh
kenyataan bahwa ia secara sistematis melampaui “toleransi” dialektik.”[4]
Dalam bengkel kerja,
toleransi diukur di setiap seperseratus sampai seperseribu setiap incinya,
tergantung hasil kerja yang hendak diperolehnya. Sama halnya dengan kerja otak
dan konsep-konsep peralatannya. Bila batas atau marjin toleransi kesalahan
sudah bisa disetujui, maka hukum logika formal dapat berlaku. Tapi pada saat
tidak diizinkan oleh toleransi, maka sebuah alat baru harus dibuat untuk
memenuhi batas toleransi yang diperbolehkan. Dalam lapangan produksi
intelektual, peralatan tersebut adalah logika dialektik.
Hukum identitas bisa
diterapkan dalam toleransi dialektik pada dua arah yang bertentangan.
Misalnya, toleransi minimum dan toleransi maximum, sehingga hukum identitas
tersebut akan berlangsung semakin absyah atau kurang absyah seperti yang
dicontohkan oleh deflasi. Satu Dolar nilainya berlipat, sehingga A tidak sama dengan
A, tapi lebih besar dari A. Dan dalam contoh inflasi maka, sekali lagi, satu
Dolar tidak sama dengan satu Dolar sebelumnya, menjadi setengahnya.
Sekali lagi A tidak sama dengn A, tapi setengah A. Dalam beberapa kasus, hukum
identitas tidak lagi menjadi benar tapi menjadi semakin salah, tergantung
pada jumlah dan karakter khusus perubahan nilai yang ada. Selain A = A, kita
juga melihat kemungkinan A = 2A atau 1/2A.
Perhatikan bahwa kita
mulai menguji hukum identitas: A adalah yang kita uji. Yang kita dapatkan,
kontradiksi: benar bahwa A = A; tapi benar juga A tidak sama dengan A dan,
tambahannya, A bisa menjadi 2A atau 1/2A.
Cara tersebut membuat
kita lebih mengenal A. A ternyata tidak sesederhana yang kita bayangkan, pasti,
tidak berubah seperti yang dianut oleh akhli logika formal. Mereka hanya
melihat penampakannya saja. Dalam kenyataanya, A sangat kompleks dan bisa
kontradiktif. Tidak hanya A tapi menyangkut semua hal. Kita tidak bisa
menangkap A yang sama karena setiap saat A tersebut berubah menjadi berkurang
atau bertambah.
Kau mungkin bertanya:
kalau begitu, sebenarnya apa itu A? Jawaban dialektiknya adalah A adalah A atau
Non-A. Jika kau melihat A seperti akhli logika formal maka kau hanya akan
melihat satu sisinya saja, sisi negatifnya. A sama dengan A adalah sebuah
abstraksi yang tidak dapat secara penuh menjadi kenyataan atau ditemukan dalam
realitas. Abstraksi tersebut berguna sepanjang kau mengerti batasan-batasannya,
dan jika batasan telah tercapai maka segera kita akan mengabaikan logika formal
tersebut untuk mendapatkan kebenaran final. Hukum dasar identitas bisa dipegang
sebagai cara pandang dan untuk bertindak sehari-hari, tapi hukum itu harus
digantikan dengan hukum yang lebih dalam dan kompleks.
Para akhli mekanik akan
bertanya: mengapa harus ada batas, apakah peralatan yang dimiliki dalam
mekanika telah mencakup kebenaran? Segala hal berlaku dalam kondisi
tertentu dan dalam operasi tertentu: sebuah potongan, lengkungan, pendalaman
dan lain sebagainya, semuanya ditempatkan pada setiap tahapan proses produksi
industri. Kelas buruh menentang batasan-batasan yang nyata dalam setiap
peralatan dan mesin. Mereka berhasil mengatasi batasan-batasan tersebut dengan
dua cara: menggunakan peralatan yang lain atau mengkombinasikan beberapa peralatan
dalam proses produksi.
Berpikir secara
esensial merupakan produksi intelektual, dan keterbatasan peralatan berpikir
akan menghasilkan cara yang sama. Pada saat kita mentok dengan logika
formal maka kita harus menggunakan logika lainnya, yakni logika dialektik, atau
mengkombinasikan logika formal dengan logika dialektik untuk mendapatkan
kebenaran. Itu lah yang disebut dialektika. Sama seperti peralatan-peralatan di
pabrik yang harus dikombinasikan agar bisa mengoperasikan pabrik tersebut.
Jadi, kalau kita menginginkan hasil yang paling tepat dalam produkis
intelektual kita, maka kita harus mengembangkan ide-ide dialektika itu sendiri.
Jika kita kembali pada
abstraksi awal, A sama dengan A, maka kita melihat bahwa ada sebuah kontradiksi
dalam perkembangannya. A adalah berbeda dengan dirinya sendiri. Dengan kata
lain, A selalu berubah dan perubahan tersebut ke segala arah. A selalu
berkembang menjadi berlebih atau berkurang dari A sebelumnya.
Perubahan tersebut
memiliki nilai kwalitas tertentu, yang berbeda dari yang sebelumnya, sehingga
perlu juga membandingkan kwalitas awal dan kwalitas yang berikutnya dari
sesuatu hal yang terus berubah.
Sungai Hudson yang
kehilangan identitasnya, menjadi bagian dari samudara atlantik; atau seperti
yang terjadi pada mata uang. Mata uang yang semula koin yang bernama mark
Jerman telah menjadi kertas cetakan. Dalam bahasa aljabar, A menjadi
Minus A. Dalam bahasa dialektikanya perubahan kwantatif menghancurkan kwantitas
yang lama sehingga menjadi kwalitas yang baru. “Menentukan titik kritis pada
saat yang tepat, saat kwantitas berubah menjadi kwalitas, adalah merupakan
suatu tugas yang paling penting serta paling susah di dalam semua bidang
pengetahuan, termasuk sosiologi.”
Salah satu
dari problem sentral ilmu logika adalah mengetahui dan memformulasikan hukum
tersebut. Kita harus mengerti bagaimana perubahan kwantitas akan mendatangkan
kwalitas baru dan sebaliknya.
Kita tiba pada satu
kesimpulan. Pada saat hukum identitas secara tepat mencerminkan bentuk tertentu
realitas, hukum itu juga mendatangkan distorsi kesalahan dalam mencerminkan hal
yang lainnya. Lebih jauh lagi, aspek yang salah tidak bisa mencerminkan
kenyataan objektif yang ada. Campuran setiap partikel fakta jeneralisasi logika
yang mendasar bisa memiliki sisi kesalahan yang serius. Hasilnya,
instrumen kebenaran menjadi kesalahan umum.
Bahan III: Keterbatasan-Keterbatasan Logika Formal
Dari kedua bahan pertama yang kita pelajari, kita mendapat hukum-hukum
dasar logika formal; bagaimana dan mengapa mereka hadir; hubungan apa yang
dimiliki dialektika terhadapnya; dan batas-batas apa yang kemudian menjadikan
logika formal tak berguna lagi.
Kita akan melihat 5
kesalahan mendasar dalam elemen-elemen hukum identitas:
1. Tuntutan Logika
Formal: Semesta Tidak Berubah
Pertama sekali, logika formal menolak suatu gerak, perubahan dan
perkembangan dalam realitas. Penolakan tersebut tidak secara eksplisit
ditujukan pada keberadaan realitas. Tapi, secara tak langsung, yakni,
hukum-hukumnya menolak implikasi penting logika internalnya.
Seperti yang dikemukan
oleh hukum identitas, jika setiap hal sama dengan dirinya maka, seperi yang
ditunjukkan oleh hukum kontradiksi, tak ada yang tidak sama dengan dirinya,
semuanya sama. Tapi ketidaksamaannya merupakan manifestasi dari perbedaan—dan,
sebenarnya, perbedaan mengindikasikan operasional perubahan. Jika semua
perbedaan ditolak maka tidak akan ada gerak dan perubahan itu sendiri, oleh
karenanya tidak ada alasan menjadi berbeda.
Jika logika formal
ingin mendapatkan sisa kebenaran dirinya, bukan lah dengan menolak keberadaan
nyata dan rasionalitas gerak. Tak ada tempat bagi perubahan di dunia ini
yang bisa diterima oleh atau digambarkan oleh logika formal. Tak ada gerak
dalam dirinya. Tak ada ledakan logis dalam hukum-hukumnya yang dapat melewati
dan masuk ke dunia nyata. Tak ada dinamika dari dunia luar yang mendorong
segala hal keluar dari kondisinya yang sekarang guna menghasilkan formasi baru.
Gerak digambarkan atau ditunjukkan sebagai realisme statistik, yang segalanya
membeku di tempatnya masing-masing.
Mengapa formalisme
tersebut memunggungi realitas? Karena gerak memiliki karakter kontradiksinya
sendiri. Seperti kata Engels: ”…bahkan perubahan mekanis sederhana suatu tempat
bisa berlangsung dalam sebuah tubuh dan, pada saat yang bersamaan, keduanya
bisa berada di sebuah tempat lainnya, berada di suatu tempat atau tidak berada
di suatu tempat lainnya pada saat yang bersaman.”[5] Segala yang
bergerak memiliki kontradiksi dalam keberadaanya, di suatu tempat yang berbeda
pada saat yang bersamaan, dan bisa menundukkan atau keluar dari kontradiksi
tersebut dengan menerjang satu tempat guna menuju ke tempat lainnya.
Perkembangan dan bentuk kompleks gerak, seperti perkembangan pohon dan
tumbuhan, perkembangan spesies, perkembangan masyarakat dalam sejarah dan
perkembangan sejarah filsafat, hadir bahkan lebih sulit bagi logika formal.
Tahap sekarang, yang menggantikan setiap proses adalah serial kontradiksi. Pada
pertumbuhan tanaman, contohnya, tunas keberadaannya diganti oleh bunga dan
kemudian oleh buah.
Dimana pun mereka
dikonfrontasikan dengan kontradiksi nyata, penganut logika formal selalu akan
gagal. Apa yang akan mereka lakukan? Anak kecil sewaktu berhadapan dengan
sesuatu yang asing, sesuatu yang menakutkan mereka, yang mereka tak mengerti
dan tak dapat mereka kuasai, akan menutup mata mereka dan menutup mukanya
dengan kedua tangannya, serta akhirnya melarikan diri dari ketakutan tersebut.
Penganut formalis bereaksi dan terus bereaksi, sama seperti anak-anak
berhadapan dengan kontradiksi. Ketika mereka tidak bisa secara komprehensif
melihat kenyataan alamiahnya dan tidak mengetahui apa yang harus
dilakukan dengan semua hal yang mengerikan—itu lah yang menyedihkan dari dunia
logika formal—maka, dengan ledakan kontradiksi, segera mereka akan
menghancurkan logika formal mereka.
Dimana pun, saat
otoritas reaksioner diancam oleh kekuatan subversif, mereka akan menekan, memenjara
dan membuang kekuatan subversif tersebut. Penganut logika formal menjawab
kontradiksi dengan cara yang demikian. Seperti yang dilakukan oleh Sir Anthony
Absolute terhadap anaknya dalam lakon komedi Sheridan: “…Jangan masuk
dalam ruanganku, jangan berani menghirup udara dan menggunakan lampu bersamaku,
tapi carilah atmosfir dan matahari lain untuk dirimu! …”
Hukum tersebut
menunjukkan bahwa A tidak pernah menjadi Non-A. Itu bukan sebuah ekspresi nyata
dari kontradiksi yang nyata, atau, terbaca: A bukan Minus A atau bukan Non-A.
Logika formal tidak
dapat mentoleransi kontradiksi aktual dalam sistimnya sendiri. Logika formal
akan menekan dan menghancurkan kontradiksi tersebut. Dalam usahanya untuk
membebaskan dirinya dari kontradiksi, penganut logika formal memperketat
kontradiksi absolut di atas kenyataan objektif. Dalam dunia yang
direpresentasikan oleh logika formal, segala sesuatu berdiri dalam
oposisi absolut terhadap yang lainnya. A adalah A; B adalah B; C adalah C,
namun, sebenarnya, secara logis, mereka tidak ada yang sama
Kontradiksi dieliminasi
dari sistim logika formal, kemudian bergerak naik menghindari semua
kenyataan. Penganut logika formal menolak kontradiksi dalam sistimnya sendiri
hanya demi merestorasinya, mengambil kekuasaan dari luar sistim mereka.
Kontradiksi nyata harus
memasukkan kedua hal: kesamaan dan perbedaan di dalam dirinya. Penganut logika
formal tak bisa melakukannya. Semua hukum logika formal sebenarnya tidak lain
merupakan kesamaan-kesamaan dalam berbagai versi. Merka tak mengenal apa
perbedaan-perbedaan.
Itu lah sebabnya hukum
kategori yang pas bagi logika formal tidak dapat menjelaskan esensi gerak.
Gerak adalah sangat lengkap, terang-terangan, bahkan kontradiksinya kasar.
Dalam dirinya, ia memiliki dua sisi perbedaan waktu, unsur, fase dan lain
sebagainya secara diametris. Pada saat yang bersamaan, benda yang bergerak
adalah keduanya, disini dan disana, secara terus menerus. Jika tidak, dia tidak
bergerak tapi diam. A tidak semata-mata Non-A. Diam adalah gerak yang berhenti;
gerak adalah perhentian yang berurutan.
Logika formal tidak
bisa mengetahui atau menganalisa kontradiksi alam nyata—yang di dalamnya
terdapat gerak—tanpa melanggar dirinya sendiri, tanpa menjatuhkan
hukum-hukumnya sendiri, tanpa menerjang dan masuk ke alam yang
lain. Adalah mimpi mengharapakan logika formal menjadi dialektik. Itu
tepatnya dengan apa yang terjadi pada logika dalam evolusi. Tapi, logika
formal, dalam dirinya dan oleh dirinya, tidak dapat mengambil lompatan
revolusioner, tidak bisa keluar dari kulitnya. Semua pemikir formal yang
konsisten tetap bertahan pada azas jeneralitas identitas dan terus
menolak—cukup logis menurut logika mereka, tapi tak logis menurut
kenyataan-keberadaan objektif yang nyata, yakni kenyataan perbedaan diri atau
kontradiksi.
Kategori identitas itu abstrak: hukum logika formal merupakan ekspresi
langsung dari konsepsi dan persamaan logika ke-diam-an keberadaan objek. Oleh
sebab itu, logika formal, secara esensial, merupakan logika kematian,
hubungan yang dingin, sesuatu yang diam, pengulangan abadi dan kemandegan.
Sejauh kita mengganggap bahwa sesuatu itu statis dan mandeg, maka adalah
benar bahwa kita tidak bertentangan dengan kontradiksi. Kita mendapatkan
kwalitas tertentu yang sebagian merupakan hal yang bias, terpisah, bahkan
saling kontradiktif, tapi, dalam kasus ini (dalam sistim logika formal),
kwalitas tersebar di antara objek yang berbeda dan tanpa kontradiksi.[6]
Bila melihat apa yang terjadi pada kasus lain, yang bergerak, ternyata
tidak saja saling berhubungan, dan tidak saja secara eksternal tapi juga secara
internal, sesuatu akan kehilangan identitas dan bergerak menuju sesuatu yang
lain. Sungai Hudson mengalir dan bergabung dengan samudra Atlantik; Mark jerman
merosot menjadi secarik kertas cetakan dan lainnya. Apa yang bisa
dilakukan oleh sesuatu hal dapat dilihat saat ia kehilangan identitas. Hasil
internal dan eksternal gerak benda-benda nyata terwujud secara kontradiktif.
Tapi tetap ada benarnya juga bahwa: mereka berhubungan dengan realitas.
Tidak ada yang
permanen. Kenyataan tidak pernah berhenti, selalu berubah, selalu fluktuatif
(tidak stabil/naik turun). Proses universal, yang tak terbantahkan, membentuk
landasan material bagi teori yang di ajarkan Engels ”…seluruh alam, dari unsur
yang paling kecil sampai yang paling besar, dari debu hingga matahari,
keberadaannya ada dalam keabadian, yakni menjadi dan melenyap, menghilang,
kemudian bergolak dalam gerak yang tak berhenti…”[7] Dalam ilmu
modern, tak ada jeneralisasi yang lebih aman selain berbasiskan pada percobaan,
fakta, ketimbang memahami teori perkembangan universal pikiran manusia, yang
bergerak maju dalam abad ke-19.
Hukum logika
formal, yang berada di luar kontradiksi, mengabaikan kontradiksi dalam
teori dan realitas perkembangan universal. Hukum identitas itu
abstrak, tak melahirkan perubahan. Sebenarnya, dari dua preposisi yang
bertentangan tersebut, yang mana yang benar dan yang salah? Itu lah pertanyaan
dari penganut dialektika—yang melandasi pikirannya berdasarkan proses
alamiah—kepada penganut logika formal yang berkepala batu. Persoalan pikiran
ilmiah, yang sedang berhadapan dengan logika formal, tidak semata-mata
merupakan persoalan yang terjadi dari akhir abad ini saja namun sejak zaman
sebelumnya.
2.
Logika Formal Mendirikan Benteng/Hambatan (di Antara Segala Hal) yang Tak Boleh
Diterobos
Logika formal memiliki kesalahan-kesalahan karena dikepung oleh
persoalan-persoalan material, ditelikung oleh ketidakmengertian terhadap fase
perkembangan semua persoalan, dan tak bisa mengerti mengenai cerminan,
refleksi, kenyataan objektif dalam jiwa kita. Antara kebenaran dan kesalahan
tak ada fase antaranya, tak ada tahap transisi dan rantai penghubungnya.
Hegel bicara tentang
hal tersebut: “Pikiran-Jiwa, mengabil posisi oposisi di antara kebenaran dan
kesalahan, serta menjadi pas, terlebih-lebih setelah diterima entah sebagai
perjanjian atau sebagai kontradiksi antara sistim filsafat. Dan hanya melihat
alasan pada sesuatu yang ada dalam pernyataan-pernyataan sistim tersebut. Hal
tersebut tidak lah menggambarkan perbedaan sistim filsafat sebagai evolusi
progresif kebenaran; tapi harus lebih dilihat sebagai kontradiksi.”[8]
“Tunas menghilang setelah bunga berkembang, dan dapat kita katakan: yang
awal ditolak keberadaanya oleh yang berikut; sama dengan setelah buah muncul,
bunga bisa dijelaskan sebagai sesuatu bentuk yang salah (dari keberadaan
tumbuhan) bagi kemunculan buah, dilihat sebagai kebenaran alamiah menggantikan
bunga. Tahapan tersebut bukan berarti sekadar pembedaan; yang satu merupakan
pengganti, tak tepat lagi, bagi yang lain. Aktivitas tanpa henti hakikat
inherennya membuat mereka, pada saat yang sama, dan dalam seluruh momentumnya,
memiliki kesatuan organik, yang bukan saja sekadar nmengkontradiksikan yang
satu dengan dengan yang lainnya, namun yang satu merupakan keniscayaan bagi
yang lainnya; dan keniscayaan (setara) seluruh momen tersebut lah yang
menentukan kehidupannya secara keseluruhan. Tapi kontradiksi antar sistim
filsafat tidak bisa diselesaikan dengan cara seperti itu; di lain pihak,
pikiran-jiwa yang menerima kontradiksi tersebut bukan berarti, secara akal
sehat, ia memiliki pengetahuan bahwa kebenaran merupakan hasil perbaikan dan
pembebasan dari kesalahan bersatu-sisi, dan mengakui bahwa semua itu merupakan
hasil dari kehadiran momen-momen selayaknya (niscaya) yang saling melengkapi
atau berbalasan—walaupun kelihatannya saling bertentangan dan, secara inheren,
antagonostik.”
Jika kita menggunakan
logika formal sebagai nilai, maka kita harus mengakui bahwa semua hal,
atau segala keadaan sesuatu, adalah mutlak independen dari segala hal atau dari
segala keadaan. Dunia diperkirakan sebagai segala sesuatu yang eksis dalam
kesendiriannya yang sempurna, terpisah dari segala hal.
Posisi filsafat yang
menggambarkan logika tersebut mencapai hasil akhir berupa: filsafat
idealis-subjektif, yang muncul dengan membawa asumsi bahwa tidak ada yang
benar-benar eksis, kecuali dirinya sendiri. Itu bisa diketahui dari soligisme
(dalam kata latin) solus ipse (aku sendiri).
Itu lah cerminan posisi
absur dalam melihat sesuatu. Apapun teori yang dikemukakannya, ia hanya
mengakui keberadaan dirinya. Lebih jauh lagi, jika kita mau sedikit lebih
mendalam, bagaimanapun terisolasi dan independennya sesuatu hal, sebenarnya ia
membutuhkan keberadaan yang lain.
Untuk berada dan
menjadi dirinya, jika kita tidak menghubungkannya dengan sesuatu yang terkait
dengan realitas, maka kita tidak akan pernah bisa mengerti secara tepat dan
pas.
Segala sesuatu akan
melaju dan mengubah dirinya menjadi sesuatu yang baru. Untuk mengerti hal
tersebut, kita harus menerobos batasan-batasan formal yang memisahkan satu
dengan yang lainnya. Sejauh ini, kita tahu bahwa tak ada benda yang diam.
“Preposisi fundamental dialektika Marxisme: semua batasan dalam alam dan
masyarakat adalah konvensional dan bergerak, artinya: tak ada satu fenomena pun
yang, ketika berada di bawah kondisi-kondisi tertentu, tidak berubah menjadi
bertentangan,” kata Lenin.[9]
Dalam skala sejarah
yang lebih luas, Trotsky berkata bahwa: ”kesadaran tumbuh dari ketidak sadaran,
psikologi dari luar psikologi, dunia organik dari non-organik, sistim tata
surya dari nebula.”[10]
Penghancuran
batas-batas, perjalan sesuatu menjadi yang lainnya, ketergantugan bersamanya,
tidak terlepas dari garis perkembangan sejarah itu sendiri; semuanya berjalan
bersama kita. Kita bertindak berbasiskan ide, dan ide tersebut kehilangan
karakter mental yang mendominasinya serta menjadi kekuatan aktif di dalam dunia
lewat diri kita. Marx menunjukkan bahwa sebuah sistim ide, seperti sosialisme,
menjadi sebuah kekuatan material ketika ia berada dalam pikiran massa kelas
pekerja, dan akan bergerak dalam aksi-aksi untuk merealisasikannya—perjuangan
menuju sosialisme.
Segalanya memiliki
garis batas demarkasi, yang membatasi segala sesuatu. Bila tidak, ia tak akan
menjadi sebuah tubuh yang memiliki identitas yang unik. Kita harus
menemukan batasan-batasan tersebut dalam praktek dan menyusunnya dalam pikiran
kita. Tapi batasan-batasan tersebut jangan menjadi kaku dan menelikung
segala kondisi; batasan-batasan tersebut tak akan sama dalam setiap saat.
Mereka berfluktuasai menurut proses perubahan. Batasan-batasan
relatif, gerak dan cair dikenal namun ditolak oleh logika formal. Hukum
tersebut menyimpulkan segalanya memiliki batasan-batasan tapi, yang lebih
penting lagi, bahwa batasan-batasan tersebut memiliki pembatas-pembatas bagi
dirinya.
3. Logika Formal Menolak Pembedaan
Setiap Identitas
Kita telah melihat
bahwa logika formal menggambarkan pembatasan tajam antara kesamaan, atau
identitas (identity), dengan perbedaan (difference). Semuanya
ditempatkan dalam pertentangan yang mutlak satu dengan yang lainnya. Jika
terdapat hubungan antara keduanya, dianggap kebetulan dan eksternal serta tidak
akan berdampak pada keberadaan internalnya.
Penganut logika formal
melihat semua itu sebagai sebuah kontradiksi logis, dan merupakan sebuah horor
yang mengerikan untuk mengatakan—seperti para penganut dialektika—bahwa
identitas bisa menjadi perbedaan, dan perbedaan bisa menjadi identitas. Mereka
yakin bahwa identitas adalah identitas dan perbedaan dalah perbedaan, dan tidak
dapat sama pada saat yang bersamaan. Coba kita bandingkan
kesimpulan-kesimpulan tersebut dengan fakta-fakta pengalaman yang diuji dari
kebenaran semua hukum dan ide.
Dalam Dialectic of
Nature, Engels mengatakan: “Tumbuhan, binatang, dan setiap sel, setiap saat
dalam hidupnya adalah sama dengan dirinya dan menjadi berbeda dari dirinya,
karena bergabung dan mengalir dalam substansi hidup, karena respirasinya[11], karena
pembentukan sel dan karena kematian sel—lewat proses perputaran yang
bergantian, dengan singkatnya bisa disebutkan: karena ada perubahan molekul
yang membuatnya hidup. Dan karena kesimpulan dari setiap hasilnya merupakan
bukti bagi mata kita bahwa mereka memiliki setiap fase kehidupan: fase
embrio, remaja, kematangn seksual, proses reproduksi, usia lanjut dan kematian.
Semua itu adalah bagian dari evolusi semua spesies di bumi. Fisiologi lebih lanjut
menggamblangkannya: yang lebih penting adalah ia tidak berhenti, tidak selesai
dan, yang lebih penting lagi, adalah bahwa semuanya tetap berbeda di
dalam identitasnya. Namun pandangan abstrak-kuno indetitas formal memahaminya
bahwa suatu organik berada seperti sebuah identitas yang sederhana dalam
dirinya, konstan dan statis—menjadi ketinggalan jaman.
“Namun demikian, corak berpikir itu berbasiskan seperti itu, bersama
dengan kategorinya, terus menerus bertahan. Tapi, bahkan dalam hakikat
non-organik pun, identitas seperti itu tak terdapat dalam realita. Setiap orang
terus menerus menunjukkan dan menerima pengaruh-pengaruh mekanik, fisika dan
kimia, yang selalu merubah dan memodifikasi identitasnya.”
Hambatan/benteng
absolut tak mungkin bisa didirikan oleh logika formal—misalnya dalam kasus
antara dua hal yang saling berpenetrasi dalam realitas yang berlanjut,
bergerak—karena telah dicuci oleh proses perkembangan sehingga kemudian
perbedaan telah menjadi kesamaan. Sebelum kami datang ke gedung ini, kami adalah
orang-orang New York yang berbeda-beda. Persamaan menjadi perbedaan: setelah
pelajaran ini selesai, kita akan berpisah ke tempat yang berbeda-beda.
Perubahan dari perbedaan menjadi persamaan dan persamaan menjadi perbedaan
mengambil peran dalam semua hubungan. Tunas yang mekar menjadi bunga, bunga
menjadi buah, sehingga setiap fasenya yang berbeda adalah menjadi bagian dari
pohon yang sama.Tidak seperti hukum logika formal, kesamaan material yang nyata
tidak menyingkirkan dari dirinya sendiri perbedaan-perbedaan yang ada tapi
mengisi ke/di dalam dirinya sebagai bagian yang esensial. Perbedaan nyata tidak
membuang kesamaan tapi memasukkannya sebagai elemen esensial di dalam dirinya.
Kedua bentuk tersebut dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya dengan membuat
pembedaan dalam pemikiran, tapi itu tidak berarti—seperti dalam logika
formal—bahwa, dalam realita, mereka bisa dipisah-pisahkankan.
4. Hukum-hukum
Logika Formal: Absolut
Ketidaklengkapan
keempat hukum logika formal adalah bahwa mereka menyatakan dirinya sebagi
sesuatu yang absolut, mutlak, final, tak bersyarat, dan pengecualian adalah
tidak mungkin. Mereka mengatur dunia pemikirannya dengan cara yang totaliter,
memastikan kepatuhan yang tidak boleh dipertanyakan dalam segala hal, memanjat
otoritas tanpa batas demi kedaulatan mereka. A selalu sama dengan A, tak ada
satu pun yang bisa menggugatnya.
Sialnya, bagi penganut
logika formal, tak ada di dunia ini yang seperti mereka kemukakan.
Ternyata, segalanya hadir sebagaimana aslinya, dengan sejarah dan syarat-syarat
materialnya yang sudah tertentu, baik dalam hubungan satu dengan yang lainnya
maupun dalam keterpisahannya, dan setiap waktu proporsinya sudah tertentu serta
dapat diukur. Masyarakat manusia, contohnya. Manusia hadir di muka bumi pada waktu
tertentu dan secara material dibedakan evolusinya (lebih tinggi) dari binatang.
Namun Ia tak dapat dipisah-pisahkan sebagai sesuatu yang organik atau
non-organik; mereka berkembang dalam derajat-derajat tertentu dan kehadirannya
telah melangkah jauh, tumbuh, secara kwantitif penuh menuju kwalitatif
yang berbeda. Setiap tahap perkembangan sosialnya memiliki hukum perkembangan
sendiri dan memiliki karakter-karakter khususnya.
Hukum yang mutlak tidak
dapat lagi bertahan di dunia nyata. Dalam berbagai tahap alam, perkembangan
ilmu fisika, elemen kimia, molekul, atom, elektron diyakini oleh
pemikir-pemikir metafisika sebagai atau memiliki substansi yang tidak berubah.
Manusia tidak dapat mundur atau maju. Dengan kemajuan ilmu alam, setiap bagian
keabadian-mutlak telah ditumbangkan—setiap pembentukan materialnya telah teruji
memiliki syarat, terbatas dan relatif. Semua kepentingannya yang menjadi
mutlak, terbatas (secara absolut) dan tidak berubah telah terbukti: salah.
Ketika, pada akhir abad
ke-19, ilmuwan mulai mengadakan dan memperoleh berbagai macam penemuan, ilmuwan
sosial Amerika Serikat malah meyakini bahwa demokrasi borjuis merupakan bentuk
mahkota pemerintahan bagi peradaban manusia. Namun, pengalaman sejarah sejak
1917 telah menjadi saksi bahwa demokrasi borjuis telah ditumbangkan oleh
bolsevikisme dan fascisme—telah terbukti bahwa alangkah terbatasnya sejarah
ini, dan alangkah banyak serta bersyaratnya bentuk-bentuk kapitalisme.
Jika setiap hal hadir
di bawah syarat material sejarah tertentu, berkembang, beragam, kemudian
menghilang, bagaimana mungkin hukum absolut berlaku pada segala hal dengan cara
yang sama, pada derajat yang sama, di setiap waktu dan di bawah semua
syarat-syarat tertentu? Itu tentunya merupakan klaim yang dibuat oleh logika
formal. Tuntutannya pada realistas, dan dalam pencarian hukum-hukumnya, logika
formal menyebabkan ilmuwan jatuh pada kebutaan logika.
Pada analisanya yang
terakhir, hanya Sang Absolut lah yang memenuhi standar logika formal. Sang
Absolut lah yang seharusnya mulak, tidak terikat, sempurna, independen dari
segalanya…
5. Logika Formal
Bisa Membuat Perhitungan tentang Segala Hal—Tapi Bukan atas Dirinya
Akhirnya, hukum logika
formal, yang seharusnya memberikan penjelasan rasional bagi segala hal,
memiliki kesalahan yang serius. Logika formal tak bisa memperhitungkan atas
dirinya. Menurut teori Marxisme, segalanya menjadi ada karena hasil dari
sebab-sebab material, yang berkembang lewat fase-fase yang
silih-berganti, yang akhirnya mati.
Bagaimana logika formal
dan hukummya? Dimana, kapan dan mengapa segala hal bertumbuh, bagaimana segala
hal berkembang? Apakah segala hal abadi?
Jika kau menantang
penganut logika formal, bertanya bagaimana cara menerapkan hukum-hukum logika
ke dalam sejarah dan bagaimana menerima aturan-aturan universal tersebut
maka, tak ada yang berbeda, mereka akan menjawab seperti halnya kaum
monarki menjawabnya: kami melakukannya atas nama … (Sang Absolut)
Kita lihat berapa
banyak kebenaran dalam dialektika dan agama seperti yang dibuat profesor James
Burnham dan Sidney Hook. Dalam kenyataanya, logika formal berjalan bergandengan
dengan ke-Absolut-an dan dogmatisme. Sebagai hukum-hukum keabadian.
Logika formal berdiri
bersamaan dengan prinsip-prinsip keabadian moralitas, seperti yang digambarkan
Trotsky: “Surga selalu hanya dijadikan senjata—yang digunakan dalam operasi
militer—untuk melawan dialektika materialis.”[12]
Pada kenyataannya,
logika formal muncul dalam suatu masyarakat pada tahapan tertentu, dalam sebuah
titik perkembangannya. Dan, kemudian, manusia dapat menundukkan alam;
kemudian ia berkembang sepanjang pertumbuhan umat manusia, sepanjang
pertumbuhan tenaga-tenaga produktifnya, hingga bisa bekerja sama dengan
pemikiran dialektik, yang ditanamkan lewat perkembangan lebih lanjutnya. Tempat
bagi logika dialektik ada dimana saja, tapi dibutuhkan suatu revolusi dalam
pemikiran manusia untuk menempatkannya secara tepat.
Salah satu kelebihan
dialektika dari logika formal bisa dilihat dalam kenyataan; tidak seperti
logika formal, dialektika tidak hanya dapat menghitung keberadaan logika formal
namun juga dapat menunjukkan mengapa harus menggantikan logika formal tersebut.
Dialektika dapat menjelaskan tentang dirinya, pada dirinya, dan pada yang lain.
Oleh karenanya, dielektika lebih logis ketimbang logika formal.
***
Mari kita melihat
bagaimana kemajuan kritik kita terhadap logika formal. Kita mulai dengan
mencari kepastian tentang kebenaran logika formal. Kemudian kita mencapai
sebuah batas yang, bila kita teruskan (pencarian tersebut), hanya akan berisi
kesalahan-kesalahan semata. Kemudian kita dorong maju melewati batasan
tersebut. Maka kita, akhirnya, akan menolak “kebenaran” logika formal yang tak
bersyarat, absolut, bertentangan dengan apa yang hendak kita pastikan.
Hukum formalisme
terlihat memiliki dua sisi, kebenaran dan kesalahan.Kemudian, ketika segala hal
menjadi lebih kompleks dan kontradiktif, hukum-hukum bisa berkembang dan
berubah sesuai dengan akal sehat saat menganalisa tendensi yang berlawanan
(secara terus menerus)—memang demikian lah hukum yang ada dalam diri segala
hal. Ketika kita meganalisa dua kutub yang bertentangan dari segi karakter
kontradiksinya, melepas saling-hubungan di antaranya, maka kita dapatkan
bagaimana dan mengapa masing-masing kutub tersebut menjadi berubah sesuai
dengan hukum-hukum dirinya masing-masing.
Itulah metode dialektik
yang digunakan dalam berfikir. Hasilnya, kita akan tiba di depan gerbang
dialektika dengan menggunakan jalur dialektik yang sejati. Itu lah
sebabnya juga mengapa kemanusiaan akan sampai pada dialektika, memegangnya
sebagai sebuah sistim perumusan pemikiran. Manusia menemukan batasan-batasan
dalam logika, namun bisa menundukkannya dengan membuat sebuah bentuk logika
yang lebih tinggi lagi secara teoritis. Dialektika membuktikan kebenarannya
dengan mengaplikasikan metode berpikirnya demi menjelaskan dirinya dan asal
usulnya.
Dialektika hadir
sebagai hasil dari sebuah revolusi sosial yang kolosal, menembus
batas semua bagian kehidupan. Dalam politik, representasi massa yang
bangkit secara tidak sadar kemudian dibimbing oleh pemahaman dialektik.
Mengetuk pintu kaum monarki dan menghancurkannya: “Waktu telah berubah, kami
menuntut kesederajatan!” Dengan semangat formalisme, dengan semangat logika
formal, kaum pembela absolutisme menjawab: “Kau salah, kau subversif, tidak ada
yang berubah dan tidak ada yang dapat berubah. Raja tetap lah raja, dimana saja
dan kapan saja. A sama dengan A, kedaulatan tidak dapat mensejajarkan manusia
yang bukan A, yang Non-A.” Alasan formal semacam itu tidak dapat membendung
kemajuan, kemenangan revolusi demokratik borjuis lah yang, kemudian,
menghancurkan monarki. Dialektika revolusioner, bukan logika formal, yang
berlaku dalam politik praktis.
Dalam ruang
ilmu-pengetahuan, logika formal terjerumus dalam kriris revolusioner yang
sama sebagaimana yang dialami politik absolutisme. Kekuatan baru
ilmu-pengetahuan bangkit dalam perkembangan alam dan ilmu sosial—yang memukul
logika formal yang sudah berkuasa ribuan tahun—guna menuntut hak mereka.
Bagaimana revolusi logika dimulai dan dan ke mana arahnya, akan dijadikan topik
berikutnya.
***
This entry was posted on Monday, February 19th, 2007 at 11:57 am and is filed under Uncategorized. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.
---------------------------------------
apa itu demokrasi
Demokrasi kalau diterjemahkan betul2 berarti kekuasaan rakyat ( berasal
dari kata2 yunani : demos= rakyat, kratia = kuasa). Di negara2
kapitalisme didunia hampir setiap negara menggunakan kata2 ini didalam
undang2 dasarnya. Misalnya negara jerman : §20 Bag. 1 UUD nya - negara
jerman adalah negara demokrasi dan sosial.
Apa arti dari demokrasi tentu saja tidak dikatakan selanjutnya,
dibiarkan terbuka dan setiap orang boleh menginterpretrasika n sendiri2,
begitu juga lawyer dan hakim2 menginterpretasikan lain2. Menurut
marxisme , ini adalah suatu penipuan masyarakat yg besar2an.
Apa itu Demokrasi ? Menurut marx , kapitalisme adalah sistem masyarakat
yg berkelas, dan kelas2 ini mempunyai kepentingan2 sendiri. Dan kelas2
ini pada achrinya terdiri dari 2 kelas: kelas tertindas dan kelas yg
menindas. Jadi kelas yg netral , itu pada prinsipnya tidak ada, yg ada
hanya kelihatan netral, tapi pada achirnya harus berpihak.
Marx memberi definisi lebih jelas - demokrasi yg ada didunia
kapitalisme diberikan nama - civil democracy.
Dgn terjadinya oktober revolusi di rusia terbentuklah negara sosialisme
pertama didunia. Demokrasi di Rusia oleh Lenin diberikan nama demokrasi
proletar : yg berarti hak2 demokrasi tidak untuk semua manusia,
melainkan untuk kelasnya sendiri - kelas proletar atau kelas buruh. Hak
kekuasaan untuk kepentingan buruh sebagai kelas yg tertindas. Didalam
sistem sosialisme peranan penindas dan tertindas berubah, disini
berarti mayoritas menindas minoritas.
Jadi the item demokrasi di negara2 kapitalisme (juga di indonesia)
adalah salah satu manipulasi dari sistem masyarakat, yg seakan2 hak ini
berlaku untuk semua lapisan masyarakat, seakan2 pengertian ini tidak
mempunyai kepentingan sendiri2.
yg menjadi pertanyaan , mengapa negara2 kapitalisme mau menggunakan
kata2 demokrasi , yg tidak sepenuhnya berpihak kepada kapitalisme ?
Kadang2 malahan dirugikan, seperti hak berdemo terhadap politik
pemerintah dll..
ya memang ini suatu antitheses , suatu dillema dari kapitalisme.
Tindakan ini adalah tindakan terpaksa dimana negara harus memberikan
feeling , seakan2 negara adalah suatu bentuk yg netral didalam sistem
masyarakat , yg mengatur kemasyarakatan untuk kepentingan bersama; yg
terlepas dari kelas2 tertentu; dgn demikian keinginan masyarakat untuk
berjuang membebaskan diri dari penindasan turun menjadi minimal sekali,
kelas tertindas menjadi pasiv.
Lenin menulis tentang civil democracy dgn tepat sekali : /civil
democracy dibandingkan dgn jaman abab ke 15 adalah suatu kemajuan yg
tinggi - dan kapitalisme tidak mempunyai jalan lain - selain sempit,
terbatas, false dan manipulasi, satu paradiso untuk kapitalis, satu
penipuan and a trap untuk yg tertindas dan miskin" (Lenin, Book 28,
Page 241, - proletar revolusi dan renegat Kautsky).
demokrasi proletar dgn kata lain berarti : diktatur proletar adalah
satu instrument dari sistem sosialisme , demokrasi yg asli dan untuk
pembebasan : "persamaan hak dan satu demokrasi yg tidak hanya dalam kertas, tetapi
didalam penghidupan yg real, bukan hanya suatu phrase politik" /(Lenin,
book 30, page 40).
Demokrasi proletar adalah satu bentuk negara yg pertama, dimana bukan
minoritas menindas mayoritas, tetapi sebaliknya. Ini adalah suatu
bentuk demokrasi tertinggi didalam masyarakat yg berkelas.
Demokrasi proletar hanya bisa dijalankan didalam sistem masyarakat
sosialisme, selama bentuk2 kelas masih berada, dimana perjuangan kelas
masih bergolak.
Demokrasi di Venezuela sampai saat ini sama seperti indonesia juga,
masih berlaku apa yg dinamakan civil democracy.
Chavez dalam kemenangannya, akan menjalankan politik "*Sosialisme abad
ke 21" , merubah *bentuk negara menjadi demokrasi proletar.
Dalam menjalankan politik ini , pemerintah Chavez sekarang mendapatkan
perlawanan dari negara2 kapitalisme imperialisme yg besar sekali.
Pemerintah Venenzuela sekarang berusaha reduce kekuasaan kapitalis2
besar luar negeri, pertama2 dalam sektor minyak, perbankan dan
telekomunikasi.
Sampai sekarang dalam sektor minyak pemerintah Venezuela hanya
mempunyai bagian 15% , dimana selebihnya dikuasai oleh perusahaan asing (Exxon,
mobil dll.). Untuk merubah keadaan kekuasaan ini , Chavez mengambil tindakan yg
darurat, dimana pemerintah dalam waktu pendek boleh mengambil tindakan
ekonomi dan politik yg cepat selama 18 bulan, untuk melumpuhkan
pengaruh kapitalis2 besar baik dalam negeri, dalam perbankan dan komunikasi,
juga dalam militer, maupun luarnegri.
Oleh negara2 imperialis , tindakan ini dinamakan diktatur.
This entry was posted on Tuesday, February 6th, 2007 at 4:17 am and is filed under ghostpelian said. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.
One Response to “apa itu demokrasi”
1. uberallez_CAKRA Says:
May 7th, 2008 at 1:22 am
Jika ingin mendirikan yang namanya demokrasi baik itu demokrasi proletar, demokrasi kapitalist, itu hanya omong kosong, kenapa ? karena tidak ada satupun negara yang di bangun atas nama demokrasi ataupun di jalankan atas sendi demokrasi, dikatakan AS tidak, AS dibangun atas kapitalistik dan di jalankan atas kapitalistik, Inggris apalgi atas dasar kolonialisme, Sovyet apalagi di bangun atas revolusi otoriterian dan diktator di jalankannya, jadi negara demokrasi hanya di batas angan kita saja, rusia bukan demokrasi karena di bangun atas dasar diktatorial, bagi saya soasialisme adalah sebuah pilihan hidup saja ada sosialisme ada kapitalisme, analoginya seperti ini jika kita menjadi miskin maka kita memilih prinsip sosialisme tetapi jika kita kaya maka kita akan memilih kapitalistik , omong kosong jika kita kaya mau membagikan harta kita dengan orang lain sebagai prinsip dasar sosialisme, setelah kehancuran sosialisme yang tidak bisa membawa perubahan manusia maka akan tiba hancurnya kapitalistik, setelah itu bangkitnya prinsip keagamaan dalam segi politik, ekonomi, dan sosial budaya. dari cakra HI UNMUL
----------------------------------
ghostpelian said….
kalian sudah lama tertidur… bangun… bangunlah….. sambut tanganku… dan kita berjuang… dunia memang kejam… tapi lebih kejam jika kau menutup mata… palu arit muda… bangunlah……. atas nama INTERNATIONALE
________________________________________
« marx ttg agama
sajak pembebasan »
sejarah Internasionale 1, 2
SEJARAH
INTERNASIONAL PERTAMA DAN INTERNASIONAL KEDUA
Bab I:
Pembentukan Internasional Pertama (1864-1876)
Internasional
pertama dilahirkan di Inggris. Kelahirannya di Ingris ini bukanlah merupakan
suatu kebetulan belaka. Inggris –yang merupakan tempat kelahiran kapitalisme
industrial — adalah negeri yang paling maju secara ekonomi pada abad 19.
Antagonisme-antagonisme klas modern pertama kali muncul dan berkembang secara
sangat kuat di Inggris. Tidak mengherankan kalau bentuk-bentuk esensial dari
perjuangan proletarian melawan kapitalis, pada awalnya di wujudkan disana juga.
Dalam pergerakan besar kaum Chartis di tahun 1840-an, Inggris menjadi saksi
bagi gerakan politik pertama dari proletariat sebagai sebuah klas. Di Inggris,
pulalah klas buruh pertama kalinya mengorganisir dirinya ke dalam
serikat-serikat buruh. Adalah pimpinan-pimpinan klas buruh Inggris — yang
berani dan berwawasan jauh kedepan– yang pada mulanya sampai kepada pemahaman
jernih tentang perjuangan klas; baik sebagai faktor historis maupun sebagai
prinsip dalam merumuskan taktik. Di Ingggris juga proletariat pertama kali
memproleh wawasan yang mendalam (tentang solidaritas kaum buruh secara
internasional), dan melihat adanya keharusan bagi aksi terpadu dalam perjuangan
melawan kaum kapitalis, berlandaskan solidaritas.
Internasional
Pertama tidaklah jatuh begitu saja dari langit, dalam bentuknya yang sudah
matang/sempurna. Internasional Pertama juga bukanlah hasil buah pikiran Marx
yang jenius semata. Internasinal Pertama merupakan produk sejati dari
pergerakan klas buruh, buah dari inisiatif keras yang di hasilkan oleh
pelopor-pelopornya. Internasional tumbuh dalam rangkaian panjang perjuangan
klas, yang di semai dengan benih-benih internasionalisme. Kehadirannya juga
telah dipersiapkan oleh sejumlah perintis yang telah menyebarkan gagasan dan
sentimen-sentimen solidaritas proletarian; yang tumbuh dan berkembang dalam
lingkaran-lingkaran kecil kaum buruh yang paling sadar. Hal ini tetap
berlangsung, bahkan dibawah kondisi yang paling keras dan menindas.
Terhitung
sejak tahun 1854 sampai dengan 1864, telah berlangung serangkaian usaha yang
dilaksanakan oleh organisasi-organisasi klas buruh; yang berpuncak pada
pendirian Internasional Pertama. Kami akan mengedepankan tiga organisasi yang
paing signifikan pada masa-masa itu. Yang pertama adalah Masyarakat Fraternal
Demokrat ( Society of Fraternal Democrats). Organisasi ini di bangun pada tahun
1845 oleh Julian Harney di London; dimana pelarian -pelarian politik dari
seantero benua Eropa datang berkumpul. Inilah juga organisasi klas pekerja yang
pertama. Yang kedua adalah Liga Komunis (Communist League). Lewat liga inilah
untuk pertama kalinya karya-karya Marx dan Engels — dalam Manifesto Komunis–
membrikan arahan program dan teoritis yang benar bagi perjuangan buruh
internasional. Yang ketiga adalah Komite Internasional (International
Commitee), yang diorganisir oleh Ernest Jones di London. Lewat manifestonya dan
rapat-rapat akbarnya, organisiasi ini tetap mempertahankan tradisi internasionalisme
selama tahun -tahun reaksioner 1850-an.
Demikianlah
setelah kondisi-kondisi bagi pembentukannya telah matang, Internasional Pertama
didirikan berpondasikan kerja-kerja keras yang di hasilkan oleh para
perintisnya. Setelah kekalahan revolusi 1848 — dan perkembangan kapitalis yang
melonjak selama tahun 1850-an gerakan buruh menjadi sangat tertekan. Banyak
orang mengira bahwa gerakan buruh tidak akan pernah berhasil memulihkan api
revolusionernya’; sebagaimana yang pernah ditampilkan pada masa-masa puncak
Revolusi 1848. Walau gagasan internasionalisme sementara memudar, ia tidak
pernah benar-benar lenyap. Gagasan ini tetap dipelihara dalam
keloimpok-kelompok kecil di berbagai tempat yang terpencar, oleh pimpinan
klas-klas buruh yang teruji. Mereka yang pernah mengalami sendiri
periode-periode reaksi yang pasang surut sepanjang abad 19; dapat di mengerti
suasana macam apa yang berkecamuk saat ini .
Kemudian
pada tahun-tahun akhir 1850-an terjadilah serangkaian peristiwa yang mengubah
situasi internasional. Peristiwa ini membangkitkan kembali gerakan buruh, dan
mengobarkan semangat internasionalisme. Peristiwa-peristiwa penting tersebut
diantaranya adalah krisis ekonomi di tahun 1857 (tercatat sebagai krisis yang
sangat parah dan menyebar paling luas selama abad 19), yang lainnya adalah
perang kemerdekaan Italia di tahun 1859, dan pecahnya perang saudara di Amerika
Srerikat sejak tahun 1860-1861.
Peristiwa-peristiwa
sejarah tersebut membawa konsekuensi-konsekuensi yang sangat besar secara
ekonomi politik — di Perancis dan Inggris — dua negeri industrial yang paling
maju di Eropa saat itu, peristiwa-peristiwa tersebut mengakibatkan melemahnya
kediktatoran Napoleon III, dan memaksanya untuk memperluas konsesi-konsesi
ekonomi politik dalam rangka meredam kaum buruh Perancis. Selangkah demi
selangkah kaum buruh mencapai berbagai kemajuan. Mereka di berikan kesempatan
untuk memilih dalam Pemilu, dan Undang-undang yang melarang serikat buruh untuk
memperbaiki kondisi kaum buruh juga di cabut. Betapapun, perkembangan yang
menentukan terjadi di Inggris. Walau kaum buruh Inggris telah memenangkan hak
untuk membentuk serikat-serikat buruh sejak tahun 1825,
massa
buruh tetap tidak di perbolehkan
memilih dalam pemilu. Sementara itu perkembangan kapitalis di benua Eropa,
telah melahirkan persaingan yang mengancam buruh-buruh di Inggris. Ketika kaum
buruh di Inggris berjuang untuk upah yang lebih tinggi dan jam kerja yang lebih
singkat ; kaum pemilik modal di Inggris mengancam untuk mendatangkan
tenaga-tenaga buruh murah dari Prancis, Belgia, Jerman dan negeri-negeri
lainnya. Pecahnya perang di Amerika dan embargo atas produk-produk ekspor,
menyebabkan krisis persediaan kapas; yang akibatnya sangat memberatkan
buruh-buruh pabrik tekstil di Inggris.
Kondisi-kondisi
ini mengguncang serikat-serikat buruh Ingggris dan mendesak mereka untuk
mengembangkan apa yang kemudian di kenal dengan "Unionisme Baru";
yang dikepalai oleh sejumlah pimpinan berpengalaman dari kalangan buruh
permesinan, buruh bangunan, buruh pabrik sepatu, dan serikat-serikat buruh
lainnya. Orang-orang tersebut di atas mulai menyadari arti pentingnya
perjuangan politik bagi serikat buruh, dan mereka mulai menaruh perhatian besar
pada urusan-urusan politik dalam dan luar negeri. Mereka juga mulai menyelenggarakan
rapat-rapat akbar raksasa, menuntut Perdana Menteri Palmerston, atas
konspirasinya yang mengintervensi "pihak utrara" dalam perang saudara
Amerika. Pada saat yang sama, mereka menyelenggarakan resepsi penyambutan atas
Mazzini — seorang pejuang kebebasan dari Italia — ketika ia mengunjungi
London
di tahun 1864.
Kebangkitan
klas buruh di Inggris dan Perancsis juga membangkitkan kembali gagasan
Internasionalisme. Kunjungan delegasi buruh Perancis ke pameran dunia di
London
pada tahun 1864.
Terlebih lagi dengan konspirasi bersama antara negeri Perancis, Inggris dan
Rusia untuk memukul usaha Polandia untuk memisahkan diri di tahun 1863… telah
mendorong terjadinnya kontak, korespondensi, pertukaran hubungan yang timbal
balik —antar kaum buruh di negeri-negeri tersebut untuk membicarakan dan
berusaha memecahkan persoalan kaum buruh secara bersama-sama pula. Ini semua
bermuara pada kesepakatan untuk menyelenggarakan pertemuan bersama secara
resmi, dari perwakilan-perwakilan kaum buruh Perancis dan Inggris di gedung St.
Martin’s Hall, London, pada 26 September 1864. Pertemuan ini berhasil
mengeluarkan keputusan-keputusan, antara lain dengan terpilihnya sebuah komite
– yang bertugas merancang statuta AD/ART Pperhimpunan klas pekerja
internasional - untuk di timbang-terimakan/di sahkan dalam kongres
Internasional yang akan diselenggarakan di Belgia tahun depan.
Pemberitaan-pemberitaan
surat
kabar meliputi tentang pembentukan komite tersebut, yang terdiri dari
perwakilan barbagai serikat buruh yang berasal dari berbagai negeri. Sedikit
disinggung juga tentang Karl Marx. Sungguhpun kita semua tahu betapa besar
sumbangan yang diberikannya bagi organisasi tersebut.
PERANAN KARL MARX
Kegagalan
revolusi tahun 1848, mengakibatkan terguncangnya Liga Komunis, yang tidak lama
kemudian diikuti pembubarannya. Dalam tahun-tahun terakhir reaksi yang panjang
ini — walaupun masih mengikuti perkembangan berbagai peristiwa dengan cermat–
Marx dan Engels dalam pengasingannya, mencurahkan perhatian pada kerja-kerja
ilmiah mereka. Memaklumi bahwa "untuk segala sesuatu ada musim/masanya
sendiri-sendiri". — Mereka menanti–
kan
saat yang tepat bagi arus balik
gelombang sejarah — yang dapat mengembalikan mereka pada aktifitas-aktifitas
praktis keorganisasian gerakan buruh. Masa-masa dimana gerakan revolusioner dan
kaum buruh menampilkan semangat baru, saat-saat dimana para pejuang sejati
mengenakan perisai dan perlengkapan perangnya, maju ke
medan
laga . Pada 13 februari 1863, Marx
menulis
surat
kepada Engels, " era revolusi
telah kembali terbentan di Eropa " (Marx - Engels, Korespondensi
Terseleksi
New York
,
halaman 144) . Ketika Komite Buruh Internasional telah terbentuk, Marx
menuliskan kepadakawan-kawannya di Amerika, " walau selama bertahun-tahun
aku menolak secara sistimatis segala keterlibatanku dalam organisasi manapun
juga kali ini aku menerimanya, karena benart-benar ada peluang untuk melakukan
kerja-kerja yang berubah" (Mehring, Halaman 323)
Tidak
lama kemudian Marx tampil kemuka sebagai pemimpin imtelektual komite tersebut,
yang beranggotakan 50 orang, setengah daripadanya adalah buruh-buruh Inggris.
Setelah yang lainnya menyatakan tidak sanggup, Marx mengambil alih tugas
penyusunan draft/rancangan program dan statuta Internasional Pertama. Secara
antusias dan suara bulat, komite tersebut menerima rancangan " Amanat
Inagural/Pelantikan " dan Aturan-aturan Peralihan" yang disusun oleh
Marx. Hanya ada sedikit tambahan permintaan tentang penambahan beberapa
ungkapan abstrak, perihal hak dan kewajiban, kebenaran, moralitas, dan
keadilan". Marx kemudian menceritakan kepada Engels bahwa –Ia menyisipkan
ungkapan-ungkapan tersebut sedemikian rupa — sehingga ia tidak menyinggung
harapan para peserta lainnya.
"Amanat
Pelantikan Bagi Asosiasi Klas Pekerja Internasional" tersebut disampaikan
dalam sebuah pertemuan publik di gedung St. Martin,
London
, pada 28 september 1864. Bersama-sama
dengan Manifesto Komunis, "Amanat" tersebut merupakan sebuah dakwaan
yang keras dan berat terhadap kapitalisme yang sekaligus juga memaparkan
tujuan-tujuan klas buruh. Amanat itu di buka dengan rangkaian catatan tentang
sebuah fakta yang tajam –bahwa selama tahun-tahun 1848 sampai dengan 1864,
penderitaan dan penindasan atas klas buruh tidak kunjung berkurang — walau
dalam periode ini terjadi perkembangan yang sangat pesat dalam lapangan
industrial dan perdagangan. Hal ini di buktikan dengan menunjukan angka-angka
statistik yang diterbitkan dalam "buku-buku" resmi (yang mencatrat
penderitaan/penindasan klas buruh Inggris). Angka-angka tersebut diperbandingkan
dengan catatan resmi yang di buat oleh ketua bendahara,
Gladstone
, dalam laporan keuangannya. Hal ini
sekali lagi menunjukan bahwa " penumpukan kekayaan dan pemebesaran
kekuasaan yang menjijikan " (yang terjadi selama periode tersebut); hanya
terpusat seluruhnya pada klas-klas penindas/penghisap. Kalaupun ada
pengecualian, maka hal ini hanya berlaku pada segelintir buruh aristokrat yang
menerima upah agak lebih besar; walaupun perbaikan ini diikuti lagi dengan
kenaikan harga-harga secara umum . "dari waktu ke waktu , gelombang besar
masa klas buruh senantiasa terbenam dalam kemiskinan; sementara pada saat yang
sama klas-klas atas menikmati peningkatan kemakmuran dan kesejahteraan sosial …
tiap perkembangan segar dalam kekuatan-kekuatan produktif buruh, harus mengarah
pada semakin mendalam dan curamnnya jurang perbedaan sosial ; yang bermuara
pada antagonisme sosial … masa ini akan di tandai dalam catatan sejarah dunia
dengan percepatan, pembesaran dan efek-efek mematikan dari apa yang di –sebut
sebagai wabah sosial yang menular– dari krisis industrial dan komersial"
(Karya-Karya Terseleksi Marx-Engels, Volume 1, Halaman 345-346).
Amanat di
atas tersebut juga mencatat bahkan dalam tahun-tahun reaksioner 1850-an,
setidaknya kaum buruh telah mencapai dua kemajuan yang berarti. Pertama, adalah
pengakuan dan pemberlakuan 10 jam kerja secara legal; yang merupakan buah dari
perjuangan keras klas buruh Inggris. ‘Undang-undang sepuluh jam kerja (the ten
hourse’bill) bukan hanya merupakan sebuah keberhasilan praktis yang besar, itu
juga merupakan kemenangan secara prinsip. Hal ini merupakan yang pertama
kalinya dalam sejarah; di mana secara ekonomi politik klas menengah, tunduk
pada ekonomi politik klas buruh" (Karya-Karya Terseleksi , Volume 1
Halaman 345-346). Kemenangan lainnya adalah pendirian gerakan koperasi dan
pabrik-pabrik kooperatif (pabrik yang dikelola bersama-sama). Ini membukrtikan
bahwa dalam prakteknya kaum buruh sanggup dan mampu mengorganisir sendiri
produksi dan distribusi, tanpa bantuan apapun dari kaum penghisap.
Namun
lanjutnya, "Tuan-tuan tanah dan tuan pemilik modal akan tetap bertahan
dengan menggunakan segala hak istimewa mereka, demi perlindungan dan
kelanggengan monopoli mereka (atas alat-alat produksi) ". Itulah sebabnya,
sudah menjadi kewajiban besar klas buruh untuk merebut kekuasaan politik. Kaum
buruh nampaknya sudah mulai menangkap keharusan semacam ini. Sebagaimana yang
di buktikan dengan menjalarnya kesadaran pergerakan klas buruh Inggris,
Perancis, Jerman, Italia … dengan segala usahanya mengorganisir buruh secara
politis. Kaum buruh setidaknya "memiliki satu elemen untuk keberhasilan
yakni keunggulannya dengan jumlah yang sangat besar. Namun jumlah tadi hanya
memiliki bobot dan arti , jika mereka di persatukan dalam organisasi dan
berderap maju kearah tujuannya secara sadar" (halaman 347) .
Pengalaman-pengalaman lalu telah menunjukan kepada kita: bila kita mengabaikan
solidaritas yang seharusnya terjalin di antara kaum buruh sedunia … atau bila
kita gagal dalam menggalang kaum buruh untuk berjuang bersama — bahu membahu–
maka segala usaha kita hanya akan bermuara pada kegagalan.
Pertimbangan-pertimbangan inilah dan juga pertimbangan-pertimbangan yang
menytangkut kebijakan luar negeri (sebagaimana yang telah di uraikan di depan)
… yang telah mendorong rapat-rapat di (gedung) St. Martins Hall, untuk
mencertuskan pendidikan Asosiasi Klas Pekerja Internasional (lihat Mehring,
halaman 327). Amanat tersebut di tutup dengan seruan perang yang tak
tergoyahkan, "kaum buruh sedunia… bersatulah!".
Dalam
"aturan-aturan peralihan" termaktubkan pula prinsip-prinsip dasar
Marxisme. Tugas pembebasan klas buruh bukanlah semata-mata untuk mengakkan
hak-hak istimewa bagi klas yang baru berkuasa, namun untuk menghapuskan
keberadaan klas-klas itu sendiri. Penundukan kaum buruh secara ekonomis kepada
pihak-pihak yang memiliki, menguasai peralatan/alat-alat produksi (yang
merupakan sumber penghidupan): menghasilkan segala bentuk perhambaan:
kemelaratan sosial pengkerdilan intelektuan dan ketergantungan secara [politik
karenanya segenap gerakan politik haruslah juga merupakan sarana bagi pembebaan
klas buruh secara ekonomis. Pembebasan klas buruh bukanlah sebuah tugas di
tingkat lokal ataupun nasional belaka, namun harus meliputi tingkat dunia.
Mencakup juga seluruh negeri yang masyarakat modern. Dengan demikian tugas ini
hanya di capai lewat kerja sama dari perwaklan-perwakilan negeri-negeri
tersebut. Aturan-aturan yang dirumuskan, menetapkan tugas dan kewenangan Dewan
umum; yang terdriri atas buruh-buruh dari berbagai negeri yang terwakilkan
dalam asosiasi.
Amanat
inugerasi yang dicetuskan, memang berbeda dalam bentuknya, di bandingkan dengan
yang terdapat di dalam Manifesto Komunis. "Di butuhkan waktu yang wajar
" tulis Marx kepada Engels, sbelum pergerakan yang baru bangkit ini,
kembali dengan semangat yang setara sebagaimana yang setara sebagaimana yang
pernah kita capai dulu. Kebutuhan saat ini adalah bagaimana agar kita tetap
setia pada prinsip, namun tetap luwes pada saat yang sama" (Mehring, halaman
329). Karenanya, dokumen-dokumen yang di hasilkan di
London
tersebut memiliki beberapa perbedaan
juga, dari segi isinya … sebab tujuan pokoknya adalah untuk merangkul
buruh-buruh dari berbagai level perkembangan politik — dalam satu kerangka
kerja yang sama. Namun walaupun secara implisit (tak langsung), dokumen-dokumen
itu tetap memiliki muatan gagasan-gagasan fumdamental komunisme. Marx bertumpu
pada kesadaran klas kaum buruh yang berkembang lebih tinggi lewat aksi bersama
mereka (united action) … dalam rangka memastikan kemenangan final sosialisme
ilmiah ( yang sudah di mulai dalam Internasional ) untuk menaklukan klas
kapitalis.
PENCAPAIAN-PENCAPAIAN INTERNASIONAL PERTAMA
Internasional
pertama berlangsung seama 14 tahun, terhitung sejak tahun 1864 sampai dengan
1878. Karena tidak mungkin untuk membentangkan semua hasil-hasil kerja, maupun
perdebatan/pertimbangan-pertimbangan yang di hasilkan lewat kongres-kongresnya…
maka hanya pencapaian dan aktifitas-aktifitas organisasional yang paling
signifikan sajalah, yang akan kami kedepankan dalam kesempatan ini.
Internasional
mencatat tanda-tanda sukses pertamanya dalam perjuangan anggota-anggotanya,
yang menghasilkan perombakan franchise di Inggris. Pada 7 juli 1866, dengan
bersemangat Marx menulis
surat
kepada Engels, " Demonstrasi buruh yang berlangsung di Inggris cukup
dahsyat, di bandingkan dengan apa yang pernah kita saksikan di Inggris, sejak
tahun 1849. Semua ini sepenuhnya merupakan kerja-kerja Internasional. Lucraft,
contohnya seorang pemimpin demonstrasi
di Trafalgar Square
lapangan/alun-alun
Trafalgar; ia juga adalah anggota dewan kami.
Dalam akbar di Trafalgar Square
tersebut,
Lucraft menyerukan agar
massa
melakukan aksi
yang sama di
whitehall
Gardeens, ‘dimana suatu ketika kita pernah memenggal kepala seorang raja’. Tak
lama kemudian di galang pula aksi di taman Hyde (Hyde Park) , yang melibatkan
tidak kurang dari 60.000
massa
.
Aksi tersebut hampir saja berkembang menjadi sebuah pemberontakan"
(Mehring, halaman 349-350) .
Anggota-anggota
Internasional melancarkan kampanye yang bersemangat untuk peraturan kerja yang
progresif. Mereka menuntut hari kerja yang lebih pendek, mengutuk kerja malam
dan semua bentuk kerja yang beresiko bagi perempuan dan anak-anak. Kongres
Internasional di Jenewa 1866 menyerukan, bahwa pemaksaan pemberlakuan
peraturan/undang-undang semacam itu …klas buruh bukanlah mengkonsolidasikan
kekuatan klas yang berkuasa, malahan sebaliknya; klas buruh akan memanfaatkan
instrumen-instrumen klas yang berkuasa untuk menghantam ‘majikannya’ sendiri"
(Mehring, halaman 354).
Internasional
mendorong tumbuhnya organisasi-organisasi serikat buruh di berbagai negeri.
Internasional juga berusaha untuk meningkatkan level politik gerakan serikat
buruh dengan membuat anggota-anggotanya sadar akan misi/tugas historisnya,
"Menegakkan perang gerilya yang tak putus-putusnya — dalam kehidupan
sehari-hari — antara buruh dengan modal serikat-serikat buruh akan menjadi
jauh lebih penting lagi, sebagai pendorong utama bagi penghapusan kerja upahan
secara terorganisir. Pada masa yang lalu, serikat-serikat buruh terlalu
mengkonsentrasikan aktifitasnya bagi perjuangan yang segera dan frontal melawan
modal. Namun di masa-masa yang akan datang serikat buruh tersebut tidak boleh
pasif –dalam mengantisipasi pergerakan sosial politik secara umum– dari klas
buruh itu sendiri. Serikat-serikat itu juga harus sanggup memandu
massa
buruh yang luas, agar
massa
tersadarkan akan tujuan-tujuan mereka
yang lebih tinggi. Sehingga dengan tidak mementingkan diri sendiri, seorang buruh
telah berpartisipasi dalam pembebasan kaumnya yang jutaan jumlahnya (Mehring,
halaman 355). Segaris dengan pandangan di atas, Internasional mendokong
aksi-aksi pemogokkan buruh yang melanda berbagai negeri; menyusul terjadinya
krisis ekonomi yang parah di tahun 1866. Dimanapun terjadinya, Internasional
meyerukan agar kaum Buruh menggalang dukungan bagii perjuangan kawqan-kawannya
di negeri lain ( demi kepentingan mereka sendiri). Para kapitalis yang
merasakan betul akibat-akibatnya, dengan murka menyebiutkan bahwa aksi-aksi
buruh itu ‘di beli’ , di danai, atau di ‘tunggangi’ oleh Internasional Pertama.
Tudingan-tudingan mereka ini (persis seperti yang biasa dilakukan oleh kaum
mapan dewasa ini) terhadap aktifitas-aktifitas gerakan, dengan sebutan-sebutan
"kaum kiri", "orang-orang merah" ataupun "kaum
Trotskys" , dan lain-lain . Beberapa pemilik modal dari swiss, bahkan
mengirimkan utusan ke Londaon , untuk menginvestigasi dan mencari tahu
sumber-sumber keuangan Internasional. Ternyata di luar dugaan mereka
sumber-sumber kkeuangan tersebut hanyalah sedikit saja, dan jauh dari cukup
untuk "membeli " atau menyogok kaum buruh. Marx menggambarkan
kekonyolan mereka dengan kalimat sebagai berikut;" Kalau mereka–
orang-orang kristen kolot dan ortodoks itu — sudah lahir pada abad-abad
pertama penyebaran agama kristen … mungkin mereka sudah mentogok orang-orang
untuk membocorkan nomor rekening bank yang di pakai St. Paulus di Roma."
(Mehring, halaman 395).
Internasional
menyatakan solidaritas aktifnya kapan saja perjuangan rakyat mencapai titik
perang saudara ataupun perang berlevel nasional. Dari tahun 1864 sampai dengan
1869, Internasional mengirimkan empat amanat yang di tujukkan kepada rakyat
Amerika Serikat. Yang pertama di kirim kepada Presiden Lincol, untuk mendukung
perlaanan pemerintahnya terhadap kekuasaan perbudakaan. Yang kedua kepada
Presiden Johnson , sehubungan dengan peristiwa pembunuhan terhadap
Lincoln
. Yang ketiga di
tujukan kepada rakyat atas kemengannya melawan perbudakan. Yang keempat keempat
kepada William Sylvis, Presiden serikat buruh nasional (National Labour
Union
). Di tujukan sebagai bentuk protes terhadap
usaha-usaha klas yang berkuaa di Eropa, agar dapat menggiring Amerika Serikat
ke dalam kancah peperangan.
Internasional
membangkitkan kegeraman segenap borjuasi dan orang-orang murtad yang mau saja
tunduk menghamba kepada mereka. Dalam dua amanat yang ditulis oleh Marx,
Internasional menyatakan salut dan dukungan kaum buruh Perancis … ketika mereka
bangkit pada akhir perang Perancis-Prussia di tahun 1871 untuk mendirikan
Komune Paris. Sementara pasukan tentara musuh telah begitu dekat mengepung
pintu gerbang
Paris
(dan penguasa Perancis tidak bisa berbuat banyak untuk mencegahnya)… Kaum buruh
beraninya bergerak maju, menggalang kekuatan untuk membentuk Republik Kaum
Buruh. Melihat hal ini, borjuasi Perancis malah menikam pergerakan rakyat
tersebut dari belakang; justru dengan kekuatan/senjata yang mereka pinjam dari
musuh (yakni tentara
Bismarck
).
Pembantaian atas kaum buruh ini begitu keji dan berdarah. Seperti halnya ketika
Jendral Badoglio menjagal dan memadamkan revolusi Italia (1943-1945), yang
didukung oleh kekuatan Anglo-Amerika dan kaum Stalinis.
Pencapaian
nyata Internasional antara lain pada keberhasilannya dalam menyatukan perjuangan
kaum buruh secara internasional. Sungguhpun di tingkat internalnya masih
terbelakang, namun Internasional Pertama telah menyediakan model/percontohan
bagi semua Organisasi prolewtar berskala internasional. Betapapun istilah
"Internasionalisme" telah tercantuim dalam kamus-kamusb umum, dan
lagu "Internationale" di tulis berkat tegakannya Internasional
Pertama.
PERJUANGAN BAGI MARXISME
Bersamaan
dengan semakin gencarnya unjuk kekuatan solidaritas klas buruh, Internasional
telah menampilkan diri sebagai sarana dan ajang bagi penyebaran gagasan-gagasan
Marxisme. Sungguhpun Marx di akaui sebagai pemanduy teoritis dan inspirator
bagi Internasional; namun doktrin-doktrinnya perlu di perdebatkan terlebih
dahulu, sebelum dapat terima secara dominan… di dalam tubuh organisasi maupun
jajaraan kaum buruh yang berkesadaran klaas. Sejak semula Marx harus menghadapi
arus idiologi borjuis liberal, dan juga menangkal tekanan-tekanan yang
dilancarkan oleh pemimpin serikat-serikat buruh Inggrisyang duduk di Dewan
Umum.
Namun
saingan yang paling keras terhadap sosialisme ilmiah (yang berusaha
mempengaruhi kaumn buruh yang maju) datang dari berbagai macam sosialisme
burjuis kecil –anarkisme, berbagai bentuk sektarianismedan oportunisme–
sehubungan dengan persoalan-persoialan yang di hadapi pergerakan buruh. Tulis
Marx dalam suratnya kepada Bolte (23 Nonember 1871) , "sejarah
internasoiponal mewrupakan perjuangan berkelanjutan dari Dewan umum dalam
menangkal/menghadapi –kelompok-kelompok kecil (sects) , para petualang amatiran
– yanjg berusaha menonjolkan dirinya didalam tubuh Internasional. Merekalah
yang melawan gerakk maju pergerakan sejati klas buruh. Ajang pertarungan itu
sendiri resminya memang terselenggara di kongres-kongres. Namun telah terlebih
dahulu berlangsung dalam perundingan-perundingan perorangan di Dewan Umum, juga
dalam sesi-sesi individual "( Korespondensi, Terseleksi Karl Marx-Engels,
Moscow
, hlm 326)..
Marx juga
harus bergulat dengan ide-ide yang di ajarkan oleh Prodhoun (Prodhounisme).
Memang dewasa ini ide-ide semacam itu sudah tak terdengar lagi, namun pada pada
massanya, merupakan sosialismew borjuis kecil yang paling populer. Kedua
menantu lelaki Marx sendiri — Paul Lapargue dan Charles Longuet — sempat
menjadi penganjur setia ajaran Proudhon yang merepotkan sebelum menjadi Marxis.
Berbeda
dengan sosialisme ilmiah, Proudhonisme memang menghendaki penghapusan
kepemilikan perorangan, namun konyolnya tetap mempertahankan pertukaran
produk-produk yang dimiliki secara perorangan. ‘Resep praktis’ mereka untuk
mereformasi masyarakat borjuis adalah dengan membentuk suatu masyarakat
koperasi. Sementara itu, tanpa kapasitas/pengetahuan yang memadai, mereka
hendak ,merombak begitu saja sistim moneter yang ada. Kaum sosialis borjuis
kecil ini tidak sepakat dengan metode dan bentuk-bentuk pokok perjuanbgan
proletarian. Proudhon sendiri menentang tpembentukan serikat-serikat buruh,
bahkan ia menyayangkan aksi-aksi pemogokan buruh. Singkatnya ia menolak segala
bentuk partisipasi langsung dalam politik.
Para
pengikutnya beranggapan bahwa sebuah bangsa seharusnya di pecah-pecah menjadi
kelompok-kelompok kecil; yang kemudian akan membentuk semacam perhimpunan
sukarela sebagai penggantinya .
Marx dan
kawan-kawan harus bergelut secara terus menerus melawan kecenndrungan semacam
itu. Kecendrungan tersebut memang sangat kuat di kalangan buruh-buruh dari
Perancis dan Swiss. Mereka sendiri kebanyakanlah buruh-buruh pabrik , namun
para perajin tukang kecil yang masih begitu di liputi dengan cara pandang
borjui kecil.
Betapapun,
pertarungan teoritik dan organisasional paling keras yang di hadapi oleh Karl
Marx, adalah melawan gagasan -gagasan anarkisme Mikhail Bakunin. Bakunin
seorang veteran revolusioner Rusia, yang di anggap sebagai bapak pergerakan
politik anarkis. Perbedaan pokok antara Marx dan Bakunin akan coba kami
paparkan secara singkat saja. Marxisme mendasarkan diri sepenuh-penuhnya kepada
klas buruh industrial; sebagai kekuatan sosial yang paling menenntukan dalam
masyarakat modern. Sementara Bakunin mencari basis sosialk gerakan
revolusionernya pada petani, kaum miskin
kota
(lumpen proletariat) dan elemen-elemen borjuis kecil lainnya yang miskin dan
sengsara.
Marxisme
memerangi segala bentuk pemerintah ataupun otoritas yang reaksioner… dengan
menegakkan kekuasan negara di tangan klas buruh — sebagai sebuah transisi yang
di jalani — dalam rangka penghapusan segenap kekuasaan negara, maupun segala
bentuk penindasan. Sedangkan anarkisme menentang segala otorita maupun negara
– tidak perduli apakah negara tersebut berkarakter progresif atau reaksioner–
anarkisme tidak memandang hakikat klas sebagai yang perlu di pertimbangkan.
Itulah sebabnya kaum anarkis menolak segala bentuk partisipasi dalam politik.
Sementara kaum Marxis mendidik kaum buruh agar terlibat secara aktif dalam
politik; dan merebut kekuasaan negara dengan "segala sarana yang
memungkinkan".
Perbedaan-perbedaan
prinsipil ini mendorong Bakunin untuk menyusun sebuah organisasi rahasia di
dalam tubuh Internasional; yang bertujuan untuk mengambil alih kepemimpinan
Internasional lewat taktik-taktik konspirasi. Tak pelak lagi pertarungan
internal di dalam tubuh internasional (antara dua arus kecendrungan yang tak
terdamaikan ini), mengganggu dan memperlemah kekuatan Internasional.
Kaum
Marxis juga masih menghadapi pimpinan gerakan buruh Jerman (yang cenderung ikut
ajaran-ajaran Lassale) . Kaum Marxis harus menghadapinya, paling tidak dalam
dua persoalan pokok . Pertama mengenai Oportunis mereka dalam menurunkan taktik
–sehubungan dengan persoalan kekuatan manakah yang akan dilibatkan bersama–
dalam perjuangan. Mereka mendorong kebijakan proletarian yang independen pada
saat yang sama "kaum sosialis
Bismarck
"
ini bersikap sektarian terhadap serikat-serikat buruh. Mereka menolak atau
memasuki ataupun mengorganisisr serikat buruh manapun; yang tidak menjalankan
kepemimpinan dan program-program mereka sendiri. Mereka tidak mengerti
perbedaan antara serikat buruh sebaghai organisasi
massa
(yang merangkul buruh dari bermacam
latar belakang politik maupun ekonomi) … dengan partai proletar, yang merupakan
organisasi kaum buruh revolusioner dengan cara pandang yang khas , yakni cara
pandang sosialis.
Sepanjang
hayatnya para pendiri internasional harus mengahadapi berbagai musuh (secara
ekternal), maupun meladeni perlawanan-perlawanan di dalam (secara internal ).
Kekuatan-kekuatan destruktif tersebut semakin tak tertahankan, apalagi di bawah
kondisi-kondisi yang keras. Yakni tertekannya pergerakan buruh secara
internasional, dengan di pukulnya Komune Paris. Kesemuanya ini mengakibatkan
terjadinya demoralisasi, perpecahan, dan akhirnya pembubaran Internasional
Pertama secara formal. Persisnya terjadi pada tahun 1878, setelah markas
besarnya di pindahkan ke
New York
.
Sungguhpun
Internasional Pertama telah bubar, tapi hasil kerjanya masih bertahan. Pada
tahun 1878, untuk menangkis kesimpulan bahwa Internasional telah gagal, Marx
menulis sebagai berikut ,"lihatlah dari fakta bahwa partai-partai buruh
sosial demokrasi di Jerman, Swiss ,
Denmark
, Portugis, Italia, Belgia,
Belanda, dan Amerika Utara ( yang diorganisir dalam batas wilayah nasional) …
tidak lagi merupakan bagian-bagian yang sama sekali terpisah-pisah. Mereka
lebih nampak sebagai klas buruh itu sendiri dalam hubungannya yang langsung,
aktif dan berkesinambungan yang di persatukan oleh tujuan-tujuan yang sama ,
pertukaran bantuan , pertukaran gagasan.. jauh dari lenyap sama sekali,
internasional telah tumbuh dari satu tahap menuju tahap yang lebih tinggi lagi
(dimana semua potensi awalnya, harus dituntaskan/ dilampaui terlebih dahulu
sebelum menginjak tahap yang lebih tinggi). Selama menempuh rangkaian
perkembangan yang yang berkesinambungan ini, Internasional harus menjalani
berbagai perubahan sebelum bab final dalam sejarahnya dapat di terapkan
(Mehring , halaman 383-384).
Akan
terlihat bahwa pandangan kenabian Marx, tentang pergantian/perubahan yang
dijalani Internasional telah di benarkan sejarah.
Bab II :
Kebangkitan Kaum
Buruh dan Sosialis Internasional (1889-1904)
Trotsky pernah mengkatagorikan periode aktifitas
klas buruh dalam Internasional Pertama sebagai periode antisipasi. Manifesto
Komunis di pandang olehnya sebagai antisipasi teoritik dari pergerakan buruh
modern. Internasional Pertama sebagai antisipasi praktis dari perhimpunan
(organisasi) buruh di tingkat dunia. Sedangkan Komune Paris dilihatnya sebagai
antisipasi revolusioner atas kediktatoran proletariat.
Lenin sendiri kemudian memandang internasional
ketiga sebagai periode aksi internasional (baca periode internasional dalam
aksi). Yang telah menempatkan sumbangan besar Marx atas teori politik ke dalam
praktek : gagasan bahwa klas buruh harus berjuang untuk mendirikan kediktatoran
proletariat.
JembaTan historia anatara penyambung antara
periode -antisipasi- internasional dengan periode -aksi- internasional kedua,
Sehingga Internasional Kedua itu sendiri merupakan periode -organisasi-
internasional; yang mengangkat massa buruh yang tersebar di seluruh dunia dari
himpitan ketertindasannya, dan mengorganisir mereka dalam serikat-serikat buruh
dan partai-partai politik kaum buruh. Ringkasnya menyiapkan lahan bagi
pergerakan
massa
buruh yang independen.
Walau masih bertahan sampai sekitar enam tehun ke
muka. Namun International Pertama benar-benar bubar pada tahun 1872.
"Tulang punggungnya" di patahkan oleh kekuatan Komune Paris.
Dibutuhkan waktu selama selama 17 tahun, sebagai masa penyembuhan, sampai
kekuatan klas buruh benar-benar di pulihkan. Untuk kembali berderap di arena
internasional dan membentuk Internasional yang baru.
Tahun-tahun sekitar 1870-an sampai 1880-an adalah
masa penindasan politik yang reaksioner di seantero Eropa . Ini merupakan hasil
kondisi-kondisi eksternal yang pada hakekatnya sama., dengan mendorong
terciptanya konservatisme di tahun 1850-an. Yang disebabkan oleh perkembangan
kapitalisme yang luar biasa atas negara -negara bangsa. Kesemuanya ini tidak
hanya memberikan kepercayaan diri pada penguasa-penguasa kapitalis, namun juga
membuat takjub kaum buruh. Membuat kaum buruh terkungkung dalam sistim
kapitalis, di bawah negeri kapitalis dan idiologinya. Sikap yang
menghamba/patuh terjadi pada buruh-buruh aristokrat dan birokrat, yang juga
mendapatkan jatah dari penghisapan kapitalis, yang dilakukan oleh negeri-negeri
yang lebih maju . nampaknya sudah menjadi hukum sejarah; bahwa dengan semakin mapannya
kekuatan material kaum kapitalis, semakin keras pula reaksi-reaksi yang
ditimpakkan kapada kaum buruh., Hal ini tercermin dalam pengalaman Amerika
Seriakt, dari tahun 1923 sampai dengan 1929, dan dari tahun 1923-1929, dan
tahun 1947 sampai dengan saat ini.
Namun ironisnya, perkembangan industri yang pesat
pada saat yang sama; memberikan benih bagi kelahiran gerakan buruh dalam bentuk
yang paling sederhana. Perkembangan industri yang pesat ternyata juga
menyefdiakan kondisi-kondisi material bagi pembentukan organisasi buruh.
Sungguhpun di bawah kondisi politik yang menekan, serikat-serikat buruh –
bahkan dalam kasus-kasus tertentu partai sosialis — masih dapat menghimpun
kekuatannya. Bahkan tampil secara cukup di perhitungkan. Gejala yang sama ini juga
terjadi di Amerika Serikat… di mana serikat-serikat buruh tertentu berkembang
cukup baik dari segi kuantitas; waklau harus di akui terdapat kecendrungan
untuk mengalami keterbelakangan secara politik maupun idiologi.
Proses kontradiktif di atas, secara mencolok
terjadi di Jerman. Sehingga pusat International Pertama adalah di Inggris, maka
pusat Internasional Kedua di Jerman. Setelah kemenangan dalam perang
Perancis-Prusia di tahun 1871 –Jerman yang bersatu di bawah monarki Prusia –
bangkit sebagai kekuatan industrial. Proses yang hampi sama, dengan yang
terjadi di Inggris dua puluh tahun lalu Dengan dilakukannya perombakan
besar-besaran atas pondasi ekonomi Jerman, gerakan buruh menjadi lebih hidup
dan bersemangat … bagi perjuangannya bagi kondisi-kondisi kerja dan penghidupan
yang lebih baik, kaum buruh menemukannya salurannya di dalam organisasi.
Konsekuensi dan karakter revolusi industrial di
Jerman ini di gambarkan oleh Engels dalam suratnya kepada Bebel. Bebel adalah
seorang Marxis pimpinan
massa
gerakan sosial Demokrasi Jerman. Pada tanggal 11 desember 18874, Engels menulis
dari
London
:
Fakta-fakta yang menguntungkan kita dalam revolusi industrial di Jerman, adalah
pada laju pertumbuahan yang begitu deras. Sementara hal yang sama, tidak
terjadi di Perancis ataupun Inggris. Di Inggris dan Perancis, berpedesaan
dengan perkotaan, daerah agraris dengan industrial — begitu jauh. (Sehingga di
butuhkan proses/waktu yang begitu lama agar tani dapat ke
kota
menjadi buruh).
Massa
rakyat yang luas, masih demikian
terikat dengan kebiasaan/tradisi yang berlaku di Inggris ataupun Perancis. Ini
semua di tambah dengan ingatan masa akan pengalaman buruk, atau kegagalan
gerakan di Perancis tahun 1848. Di lain pihak berbeda dengan kita (di Jerman)
.. di sini segala sesuatunya bergerak dengan arus yang deras . Revolusi
industri di Jerman justru menemukan momentum gerakannya setelah revolusi 1848 .
Dengan tumbuhnya borjuasi Jerman (walau masih sangat rapuh) . Namun ini semua
di percepat oleh beberapa faktor. Pertama, disingkirkannya hambatan-hambatan
internal pada tahun 1866 sampai dengan 1870. Kedua , Pembayaran pampasan perang
oleh Perancis, akibat kekalahan dari Jerman pada tahun 1870 ( kemudian material
pampasan perang I itu di tanamkan sebagai modal secara kapitalistik). Maka kita
dapat membangun revolusi Industrial yang lebih dalam dan menyeluruh. Dan
khhusunya yang lebih luas dan komprhensif di bandingkan negeri-negeri lain.
Masih di tambah lagi dengan klas buruh yang utuh dan masih segar, tidak
mengalami demoralisasi ( akibat pukulan atau kekalahan telak). (Korespodensi
Terseleksi Marx-Engels,
Moscow
,hal 455-456)
Dalam rangka membela kepentingan klas borjuis ,
para tuan tanah kaya , dan juga kerajaannya; Perdana Menteri Bismarck berusaha
mematahkan gerakan sosial Demokratik yang tengah berkembang, di kalangan kaum
buruh Jerman yang maju, namun fakta menunjukan, bahwa total suara yang di
peroleh sosial Demokratik mengalami peningkatan dari 102.000 suara (tahun 1871)
menjadi 493.000 suara (tahun 1877). Kemudian pada tahun 1879 penguasa Jerman
mengeluarkan UU anti Sosialis. UU ini melarang/mengilegalkan aktifitas
propaganda sosialis demokratik Jerman. UU ini juga membatasi aktifitas partai,
sebab kegiatan-kegiatan parlementer (persis seperti apa yang terjadi pada saat
pemberlakuan Smith Act di Amerika Serikat, yang mengilegalkan Partai Pekerja
Sosialis (Sosialis Workers Party/SWP) dan Partai Komunis). Akibat di
berlakukannya UU tersebut, tak terhitung banyaknya tindak kekerasan
/penganiayaan yang dilakukan oleh aparat negara, terhadap buruh-buruh dan
pimpinan Sosial Demokratik.
Namun penindasan yang dilakukan terhadap partai
Marxis tersebut, bukannya menghancurkan… malah menaikan popularitasnya di
hadapan
massa
Buruh. Setelah sempat mengalami penurunan (pada tahun pertama pelarangan)
pertumbuahn/ Kenaikan suara melonjak dengan cepat pada tahun-tahun berikutnya.
Pada tahun 1884 Partai Sosila Demokrasi meraih angka perolehan suara tertinggi
pada saat itu, yakni 550.000 suara . Pada tahun 1890 , ketika UU itu di canbut,
angkanya malah melonjak tiga kali lipat.
Pemilihan umum telah menunbjukan", tulis
Engels kepada
Babel
tanggal 18 November 1884 , " Bahwa kita tidak boleh terlena, misalkan
dengan memberikan kompromi-kompromi kepada lawan-lawan kita. Kita sendiri telah
mendapatkan popularitas … dan menjadi kekuatan perlawanan yang di perhitungkan.
Nyatalah bahwa kekuasaanlah yang "berbicara ",; dan hanya selama kita
cukup kuat (berkuasa) sajalah, kita akan di dengarkan oleh orang-orang murtad
sekalipun. Proletariat Jerman saat ini telah menjadi partai yang besar, semoga
kehadirannya tidak di sia-siakan " (Korespodensi
Terseleksi Marx-Engels
,
New York
,
hal 429-430).
Sementara perkembangan yang menggembirakan telah
berlangsung dalam gerakan buruh Jerman, Organinsasi-organisasi buruh di Inggris
justru sedang mengalami kemandekan (stagnasi). Engels menggambarkan hal ini
dalam suratnya kepada Bebel (30 agustus1883) : "Keikut sertaan dalam
penguasaan (pendominasian dan Monoipoli) pasar dunia adalah merupakan basis
bagi kemandulan politik klas buruh di Inggris. Penghisapan eksternal memang di
lakukan oleh klas Borjuis tarhadap klas buruh di Inggris , namun di pihak lain,
mereka dengan cerdiknya membiarkan kaum buiruh ikut srta "
mencicipi", segelintir dari keuntungan berlimpah yang mereka peroleh.
Pengekoran seperti inilah yang membuat kaum Inggris mengikuti jejak langkah
patai liberal. Sayang sekali hal seperti ini luput dari antisipasi kaum buruh
di Inggris…" (
Korespodensi
Terseleksi
,
New York
,
hal 420). Kemudian pada tanggal 17 Juni 1889 Engels menjelaskan kepada
Barnstein, " Pada prinsipnya, serikat-serikat buruh di Inggris bahkan
membatasi semua aksi-aklsi politik dalam ketetapan-ketetapan mereka . sehingga
pada hakikatnya mereka juga memberangus — seluruh aktifitas umum klas buruh–
sebagai sebuah klas tersendiri. Dengan demikian yang kita lihat hanyalah
fenomena gerakan buruh … sebagai aksi-aksi pemogokan di berbagai tempat secara
terpisah-pisah … tanpa adanya peningkatan gerakan, atau langkah kemuka"
(Korespodensi Terseleksi,
Moscow
hal 386) .
Di bawah sarat-sarat seperti ini, Marx menganggap
tiap usaha untuk segera membentuk Internasional baru sebagai sesuatu yang
prematur. Karenanya Marx menulis
surat
kepada seorang revolusioner berkebangsaan Belanda F. Domela Nieuwenhuis, pada
tahun 1881. Tulisnya ."Aku yakin bahwa momentum yang tepat bagi sebuah
asosiasi Internasional yang baru bagi klas pekerja, belum tiba, . Sehingga aku
menimbang bahwa semua — kongres-kongres kaum buruh atau kongres-kongres kaum
sosialis … sejauh tidak berkaitan langsung dengan pembahasan persoalan
negeri-negeri mereka sendiri — sebagai upaya yang sia-sia, bahkan
membahayakan. Pada saat ini, segencar apapun di adakannya
pertemuan/kongres-kongres berlevel intrernasionaal … hanya akan terbentur pada
kejenuhan yang menjenuhkan (Korespodensi Terseleksi,
Moscow
, hal 411) . Pandangan Marx ini teruji
dalam kenyataan, ketika sejumlah kaum sosialis Belgia dan Jerman, berusaha
membangkitkan kembali Internasional pada tahun 1880-an, tanpa hasil yang nyata.
Barulah pada akhir 1880-an terjadi perubahan
situasi, akibat beberapa faktor penting. Pertama, pertumbuhan yang bertahap
dengan penguatan gerakan sosialis dan serikat-serikat Buruh di seantero Eropa.
Kedua, Inggris kehilangan monopolinya secara industrial atas dunia ; yang
mengakibatkan munculnya serikat buruh dengan semangat baru di Inggris (New
Unionisme). Ketiga , Perjuangan kaum buruh-buruh sosialis di Jerman sebagaimana
telah di uraikan sebelumnya .
Di Perancis misalnya , Julies Gaude, yang telah
mendapatkan pengampunan (amnesti), sehubungan dengan keterlibatannya dalam
"pemberontakkan" komune Paris … telah memperoleh sambutan dan
perhatian yang antusias dari gerakan/serikat-serikat buruh yang baru. Bahkan
setelah tahun 1880 ia berhasil mengorganisir pembentukan partai sosialis yang
kuat. Di Inggris sendiri, telah dibentuk kelompok-kelompok propagandis bagi
penyebaran ajaran-ajaran Marx dan gagasan sosialis. Misalnya Federasi Sosial
Demokratik (the Sosial democratic Federation ), masyarakat Fabian (fabian
society) . melewati tahun 1880-an partai-partai buruh maupun sosialis , di
organisir atau bahkan telah di tegakkan di berbagai negeri antara lain ;
Denmark
, Sewedia,
Belgia
,
Austria
,
Swiss dan Italia. Kelompok-kelompok Marxis sudah mulai bekerja di Finlandia dan
Rusia. Di Amerika Serikat, Partai buruh Sosialis (Socialist Labour Party) di
bentuk tahun 1877; kemudian pada tahun 1886 kita dapat saksikan masa-masa
kejayaan Knights of Labour (Ksatria-ksatria buruh ) yang menggelar aksi-aksi
pemogokan buruh berskala nasional.
Kejatuhan monopoli Inggris atas pasar dunia
(setelah 1878), berakibat pada melonjaknya angka pengangguran dan
tekanan-tekanan sosial. Hal ini secara tajam terjadi di pojok timur
kota
London
.
Tahun 1886 di
Hyde Park
, terjadi aksi
demonstrasi kaum pengangguran yang berakhir dengan kekerasan. Dengan anjloknya
industri (yang berakibat menyempitnya lapangan kerja) , membanjirlah gerakan
besar dari kalangan
massa
pengangguran (yang tak berpendidikan/tak berketrampilan) . Ini terjadi pada
tahun 1889. Momen yang paling mengesankan dari gerakan "Unionisme
Baru" tersebut di pimpin oleh John Burns, Tom Mann dan Bemn Tillet ( yang
juga adalah anggota-anggota Federasi Sosial Demokratik /Social Federatinj
Democratic, yang bersimpati dengan gagasan-gagasan ssosialis). Momen tersebut
ketika buruh-buruh galangan kapal dan minyak melancarkan aksi pemogokan
besar-besaran. Berikut ini adalah pengamatan ringkas yang di buat Engels
sehubungan gerakan ini (di tulis oleh Engels tahun 1892);
Pojok timur
kota
London
(East end of
London
)
tidak lagi merupakan "kubangan" yang mandul sebagaimana halnya 6
tahun lalu. Ia telah kembali hidup — menggugurkan sisa-sisa ketidak
berdayaannya– dengan menjadi pusat markas Unionisme baru ("New
Unionism"). Yakni oirganisasi
massa
buruh yang " tak berketrampilan" . Organisasi iini mungkin saja
menyerap sebagian bentuk dari serikat-serikat buruh lama (yang beranggotakan
buruh-buruh yang "terampil") namun sama sekali berbeda dalam
wataknya. Serikat-serikat buruh yang lama di bangun dan bekerja, dengan berlandaskan
tradisi mapan yang masih juga di pertahankan. Contohnya saja mereka memandang
sistim pengupahan sebagai sesuatu yang sudah
baku
, mapan, sinal; sesuatu yang hanya perlu
di ’sesuaikan ‘ saja, sesuai kebutuhan anggota-anggotanya. Sementara serikat-sertikat
buruh yang baru, di lahirkan ketika kepercayaan/jaminan bagi kelanggengan
sistim pengupahan tengah terguncang sangat keras.
Para
pendiri dan penganjur gerkan ini adalah –kaum sosialis– secara sadar ataupun
secara emosional.
Massa
buruh yang berlimpah ini — yang di persatukan dalam ketertindasan yang sama–
memang nampak lugu, kasar, di pandang remeh oleh kalangan aristokrat klas
buruh. Namun harus di camkan. Pikiran mereka masih benar-benar murni. Semuanya
terbebas dari prasangka-prasangka/pandangan-pandangan "terhormat"
kaum borjuis. Sesuatu yang masih juga di pertahanakan dan diwarisi oleh para
pimpinan/anggota serikat - serikat buruh "lama". Dan sekarang kita
lihat sendiri, betapa serikat-serikat buruh yang baru ini mengambil posisi
memimpin. Memberikan arah gerakan kepada klas buruh pada umumnya. Bahkan dari
waktu ke waktu mulai menyeret serikat buruh lama yang kaya dan sombong (
Korespondensi Terseleksi
,
New York
, halaman 465).
Momen penting yang melatari intrernasional kedua
adalah peringatan ke-100 tahun Revolusi Besar Perancis 1889. Tercatat tidak
kurang dari 69 kongres bertaraf internasional di selenggarakan — bersamaan
dengan pameran internasional yang juga di adakan di Paris oleh Pemerintah
Perancis — untuk memperingati peringatan bersejarah tersebut. Di antara
kongres-kongres tersebut, terdapat dua kongres terpisah yang mewakili kaum
buruh dan sosialis dari dua kubu yang berbeda. Yang satu di rancang oleh kaum
sosialis Jerman dan di selenggarakan oleh kaum Guesdites Perancis, sedangkan
yang lainnya di rancang oleh pimpinan serikat Buruh Inggris bersama kauam
reformis Perancis (biasa di sebut kaum Posibilis)
Mengenai hal ini, Hyndman, seorang sosialis dari
Inggris berkomentar," Dua kongres yang dsaling menjelek-jeelekkan satu
sama lain itu, diselenggarakan di gedung yang terpisah; oleh kaum posibilis dan
imposibilis. Sedangkan kaum anarkis, bersikap[ netral dengan menghadiri
kedua-duanya. Pemberitaan di koran-koran tyentang pertengkaran di antara
persaudaraan sosialis yang tidak mau akur, di sambut dengan cemooh/ ejekan oleh
dunia yang bebal " (lihat-Braunthal, Sejarah Internasional, Volume 1
halaman 198-200).
Apapun juga, adalah kongres kaum Imposibilis yang
berbasiskan prinsip-prinsip Marxis; yang ternyata menghasilkan kesatuan dan
vitalitas. Sejarah mencatat bahwa kongres itu pulalah yang merupakan tonggak
pendirian Internasional Kedua. Kongres itu sendiri secara resmi di sahkan
menjadi kongres Internasional Kedua.
Ada
dua persoalan praktis yang mengedepan dalam kongres ini. Untuk menangkis
anggapan pihak-pihak yang bersikap bahwa, " Undang-undang perburuhan
adalah tidak sesuai dengan prinsip-prinsip sosialis"; kongres ini justru
menyerukan kaum buruh untuk mendukung program legislassi/undang-undang
perburuhan secara internasional. Kongres juga menetapkan dukungan untuk
perjuangan delapan kerja, yang di lancarkan oleh Federasi Buruh Amerika
(American Federation of Labour/AFL) Walaupun pada saat itu, AFL tidak hadir
dalam salah satu kongres tersebut di atas; AFL telah mengirimkan pesan dukuhgan
kepada kedua-duanya. Pada saat yang sama AFL mengajak kaum buruh, untuk ikut
mendukung kampanye tuntutan delapan jam kerja. Kampanye itu sendiri di
jadwalkan untuk di mulai pada 1 Mei 1890. Kongres Pertama Internasionbal kedua
menetapkan, untuk melakukan persiapan bagi demonstrasi serentak yang akan di
lancarkan secara Internasional pada tanggal tersebut. Dengan demikian, di
awalilah tradisi peringatan 1 Mei (May Day) secara Internasional. AFL
sendiri,– yang ajakannya melahirkan peringatan 1 Mei — di kemudian hari
ternyata memisahkan diri dari tradisi peringatan hari libur kaum sosialis
(secara internasional) . Mereka malah mempromosikan hari buruh secara
tersendiri, dengan semangat nasionalis borjuis.
Tahun-tahun awal internasional kedua… diwarnai dengan
perjuangan prinsip secara politik, dalam menangkis gagasan maupun metode
anarkisme. Anarkisme yang tidak lain adalah kelanjutan dari pertarungan Marx
melawan Bakunin(di inrternasional pertama). Kaum anarkis yang di gelari sebutan
"internasional Hitam" (Black Internasional) menentang segala aksi
politik dan bentuk parlementarian . Mereka justru mempraktekan bentuk aksi-aksi
terorissme dan sedemikian mendewa-dewakan aksi-aksi pemogokan besar (yang
spontan/tak terorganisi, tanpa oriewntasi penerjemah). Pengaruh-pengaruh
anarkisme ini di perangi oleh kaum Marxis dari Jerman. Bahkan pada kongres
Internasional di London (tahun 1896) kaum anarkis dan anti parlementarian tidak
di ikut sertakan. Di tetapkanlah aturan, bahwa peserta kongrees hanya berasal
dari serikat-serikat buruh atau partai-partai politik saja. Pengentalan kaum
sosialis ini menasndai konsolidasi dan organisasi permanen dari internasional
kedua. Terhitung sejak saat itu, sampai sekitar tahun 1914, kepemimpinan
internasional kedua di akui sebagai garda depan klas buruh.
Sepuluh tahun kemuka mencatat Internasional Kedua
dalam puncak ketinggian kekuatan dan prestasinya. Dalam Kongres Internasional
Kedua — pimpinan-pimpinan utama kaum buruh dari berbagai negeri memperdebatkan
semua problem pokok klas buruh — hasil-hasilnuya di tetapkan dalam
resolusi-resolusi. Sebelum dan sesudah kongres-kongres tersebut,
persoalan-persoalnn pokok tadi di godok dan di tetapkan di berbagai partai
nasional. Watak Internasiomal dari perdebatan-perdebatan tersebut memperkaya,
dan memajukan gerakan buruh secara pesat di berbagai berbagai perdebatan yang
berlangsung di angkat ke level teoritik secara berkala. Sehingga cara pandang
sempit yang yang mementingkan perjuangan nasional/bangsanya sendiri, dapat
dituntaskan disini. Sejak saat itu, persoalan-persoalan besar yang dihadapi
klas buruh di sebuah negeri tertentu; menjadi tanggungan bersama kaum buruh
maju di segenap negeri.
Salah satu juga persoalan yang mengedepan adalah
mengenai masalah hubungan reformasi (perbaikan) dengan revolusi. Teori Marxis
kedua masalah ini dengan tepat. " perjuangan sehari-hari bagi reformasi –
bagi perbaikan kondisi-kondisi kerja dan buruh (dalam kerangka kerja tatanan
masyarakat yang ada) dan juga perjuangan bagi lembaga-lembaga demokratis –
hanya merupakan saran/alat bagi kaum sosial demokratik . sebuah sarana untuk
memasuki kancah peperangan klas proletarian … untuk bekerja bagi tujuan final…
yakni perebutan kekuasaan politik dan penjungkiran kaum upahan ",
demikianlah tulis Rosa Luxemburg dalam pamfletnya Reformasi atau Revolusi
(Reform or Revolution, halaman di tulis tahun 1899.
Dalam menghadapi persoalamn di atas ini, kaum
Marxis harus memerangi dua kecendrungan yang keliru dan membahayakan dalam
gerakan sosialis. Yakni, kecendrungan oportunis dan sektarian. Kaum oportunis
yang mandasarkan dirinya pada pada praktek-praktek yang menitikberatkan kapada
partai-partai sosial demokrat (karena pada saat itu tahap perkembangan
perjuangan baru sebatas reformasi/sebatas kerja di tingkat nasional dalam tubuh
negara-negara kapitalis)… kaum oportunis ini berusaha untuk memutar balikan
rerformasi dengan revolusi sosial. Mereka justru menjadikan reformasi sebagai
esensi/hakikat, yang di pandangnya sebagai puncak pencapaian total pergerakan
sosialis. " Kesalahan kaum revisionis adalah… bahwa mereka mau
mengabadikan/ melanggengkan reformisme negara teoritik; dan bahkan hendak
membuat reformisme sebagai satu-satunya metode perjuangan klas proletar"’
demikianlah pernyataan Trotsky dalam tulisannya Perang dan Internasional (the
war and the international). "Dengan demikian kaum revisioinis gagal
mengantisipasi kecendrungan-kecendrungan obyektif dalam perkembangan
kapitalistik. Padahal dengan semakin mendalamnya perdebatan-perdebatan klas,
semakin terbuka pulalah jalan revolusi sosial, sebagai satiu-satunya jalan
menuju pembebasan proletariat". (halaman 60)
Cara pandang kaum reformis dapat tergambarkan
dengan jelas dalam pernyataan Bernstein : " Bagi saya apa-apa yang di
sebut tujuan utama sosialisme, bukanlah apa-apa, bagiku gerakan adalah
segala-galanya" (Reformasi atau Revolusi, halaman 64) Dalam kecamannya
Rosa Luxemburg menunjukkan bahwa di antara reformasi dan revolusi sosial,
terdapat dua hal yang tak terjembatani bagi kaum sosial demokratik. Perjuangan
reformasi sebagai alat/sarana, revolusi sebagai tujuan sejati" (halaman
8).
Sekarang tentang kaum sektarian. Kaum sektarian
justru melakukan kesalahan yang sebaliknya. Kaum sektarian ataupun ultra
radikal sama sekali menolak reformasi sebagai alat/sarana revolusi. Mereka
menolak perjuangan lewat reformasi secara prinsip, karena menurut mereka ,
reformasi cenderung melunakkan kaum buruh ke haribaan kapitalisme. Sehingga
hanya akan merepotkan/menghalang-halangi perjuangan revolusioner bagi
pembebasan klas buruh. Amerika merupakan contoh yang mengerikan pihak
sektarianisme yang sangat kaku di dalam Partai Buruh Sosialis (Socialis Labour
Party). Socialis labour Party memandang segala bentuk aksi
massa
bagi reformasi sebagai tindakan
reaksioner, dan oleh karena itu menolaknya sama sekali.
Dalam perdebataan teoritik menghadapi dua
kecendrungan di dalam tiubuh internasional, Marxisme muncul sebagai
pemenangnya. Dalam menghadapi kaum oportunis yang berusaha untuk melunakan
gerakan sosialis ke dalam ‘pelukan’ tatanan kapitalis .. Kaum Marxis menekankan
keharusan untuk mempromosikan perjuangan klas , untuk merebut kekuasaan, dalam
rangka menjungkirkan kapitalisme dan menegakkan sosialisme. Sedangkan dalam
menghadapi kaum ultra kitri, kaum Marxis menunjukkan arti pentingnya perjuangan
lewat reformasi … untuk, memanfaatkan semaksimal mungkin lembaga-lembaga
demokrasi dan parlemen, demi mendidik, mengorganisir dan mencerahkan kaum
buruh.. sampai mayoritas rakyat siap bagi pengambil alihan kekuasaan; bagi
sebuah hujaman telak yang revolusioner atas kapitalisme.
Konflik berkesinambungan antara kaum Marxis
melawan kaum oportunis meletup dengan keras di Eropa. Di negeri-negeri dengan
perkembangan pergerakan sosialis yang paling maju, yakni Jerman dan Perancis.
Di Perancis, Konflik tersebut mengedepan sehubungan dengan persoalan politik
praktis yang dilakukan oleh Alexandre Millerand. Millerand adalah seorang
anggota Partai Sosialis Independen (Independent Socialis Party) . Pada tahun
1899 ia menerima tawaran (dengan pertanggung jawaban perorangan) untuk
menduduki jabatan menteri urusan industri, dalam sebuah kabinet kapitalis. Ini
adalah yang pertama kalinya seorang pimpinan sosialis menerima tawaran jabatan
di dalam pemerintahan borjuis; namun ini bukanlah yang terakhir kalinya. Millerand
membela dirinya dengan dalih, bahwa hal tersebut merupakan sebuah keharusan,
demi menyelematkan demokrasi Perancis dari kaum Monarkis dan Bonapartis.
Menurutnya kaum Monarkis dan Bonapartis sedang mengeruk keuntungan lewat
agitasi-agitasi yang di lancarkan atas kasus Dreyfus; dengan tujuan untuk
mengahancurkan republik Perancis yang ketiga (Third Republik). Pertikaian
berkelanjutan atas penyelewengan Millerand dari garis sosialisme, mengakibatkan
terkjadinya perpisahan (split) ; antara sayap kiri dan sayap kanan dalam partai
sosialsi Perancis. Polemik dan kontoversi ini bahlkan menyebar juga seluruh
kalangan Sosial Demokrasi Eropa.
Persoalan mendasar tentang politik koalisi
(tentang kolaborasi/kerjasama persekongkolan klas kaum sosialis dengan sayap
liberal dari klas kapitalis) dalam menghadapi kekuatan reaksioner lainnya…
bukan lagi permasalahan masa lalu, melainkan persoalan yang masih harus kita
hadapi sampai saat ini. Persoalan ini kembali berulang dari waktu ke waktu,
dalam rangkaian perkembangan sosialis. Dan selalu saja kaum oprtunis
menyeruhkan slogan-slogan dan argumen-argumen palsu yang itu-itu juga … sambil
mencari upaya merusak klas buruh, pada tahun 1918, misalnya, Ebert dan
scheidemann memasuki pemerintah republikan kaum borjuis, dengan dalih
"Untuk menyelamatkan demokrasi Jerman ". hasil nyatanya adalah :
Pemukulan keras atas revolusi proletarian, dan kemenangan Nazi. Ketika sosialis
dan belakangan juga kaum Stalinis, berpartisipasi dalam pemerintahan republiken
klas borjuis Spannyol;(dengan alasan yang kurang lebih sama , menyelematkan
demokrasi Spamyol dari ancaman kaum monarkis dan fasios). Hasil bersih; naiknya
Franco ke panggung kekuasaan. Suatu ketika pimpinan kaum buruh dan kaum
stalinis menyatakan Bahwa; Presiden Roosevelt harus di dukung, dalam rangka
menangkal kaum ultra reaksioner di Amerika Serikat … Dan program perangnya
harus di ikuti untuk memukul balik Fasisme dari Eropa. Hasil melimpah ruahnya
pengangguran dan pengupahan yang rendah; masih di tambah dengan tindakan keras
pemerintah atas setiap aksi-aksi pemogokan buruh. Dan inilah ‘buah’ yang dapat
di petik setelah mengikuti perang: di lancarkannya program "pembersihan
orang-orang merah" dari serikat-serikat buruh; dan perburuhan kaum kiri
oleh Mc Carthy, di bawah restu dari "kawan" kawan buruh liberal,
yaitu Harry Truman. Lagi-lagi pada tahun 1968 terdengar seruan untuk mendukung
Presiden Lyndon Johnson, untuk menghadapi "pedagang perang" Barry
Goldwater. Semua ini sama saja.
Hal-hal tersebut di atas maupun pengalaman-pengalaman
sejarah lainnya yang memiliki kesamaan selama abad ke-20 … telah menguji dan
membuktikan, ketetapan pandangan kaum Marxis (yang sudah di lontarkan semasa
Millerand); Bahwa kolaborasi politik kaum sosialis dengan representasi
perwakilan kapitalisme manapun juga, hanya akan memperkuat klas penguasa yang
reaksioner. Dengan menyingkirkan kaum buruh dan merongrong demokrasi.
Bukti-buktinya sudah terdapat dalam diri Millerand, yang di kemudian hari
"memotong" aksi pemogokan buruh-buruh kereta api Perancis. Kolaborasi
semacam itu menjadi basis bagi pendirian "Front-front rakyat"
(palsu), yang ternyata menggiring kaum buruh Eropa ke dalam jurang kekalahan
sebelum perang dunia II … ataupun persatuan masyarakat dengan imprealis (yang
berkedok) demokratik, yang terbukti hanya membawa kehancuran selama peperangan.
Kaum buruh dapat membela hak-hak ekonomi dan demokratiknya, dengan
mengorganisir diri mereka sendiri dalam perjuangan melawan pemerintah mereka.
Dan sama sekali bukan dengan menggabungkan kekuatan (dengan musuh-musuh klas
mereka sendiri), dalam sebuah koalisi politik.
Dua persoalan ini merupakan bagian integral dari
perjuangan yang lebih luas , antara kaum marxis dengan sayap-sayap revisionis
sosial demokrasi. Penganjur utama dan pimpinan teoritik kaum revisionis adalah
Edward Bernstein. Dalam rangkaian artikelnya yang berjudul problem Sosialisme
(Problem of Socialism) yang di terbitkan tahun 1897-1898; maupun dalam bukunya
yang berjudul Sosialisme Evolusioner (Evolutionary Socialism) yang di terbitkan
tahun 1899 … Bernstein menganjurkan revisi (perbaikan) atas Marxisme, di bawah
terang "realitas hidup" (yang palsu). Ia adalah pimpinan teoritik
oposisi borjuis kecil yang menytimpang dari garis Marxisme. Bernstein-lah yang
dengan pongahnya memperolok-olok dialektika, dengan cara yang sama seperti yang
di lakukan oleh Burnham-Shachtman, ketika menentang Socialist Workers Party
(SWP)/ Partai Pekerja Sosialis) pada tahun 1939-1940. Ia mencampakkan metode
historical materialism (Materialisme historis); bahkan ia menentang makna
pentingnya teori pergerakan sosialis secara keseluruhan. Masih juga ia
melakukan hal yang sama terhadap teori nilai kerja/labour theory of value (yang
merupakan pondasi dari keseluruhan struktur ekonomi politik Marxis)… yang
mencakup: Keniscayaan(keharusan) historis atas sosialisme, keruntuhan yang tak
terhindarkan dari kapitalisme, hukum akumulasi modal dan kecendrungan
penghisapan yang sermakin mendalam atas klas buruh … ringkasnya ia menjadi
penganjur aliansi dengan partai-partai borjuis demokrat dan metode-metode
oportunisme.
Sejarah telah menunjukan ketidakbenaran teori
maupun maupun ramalan-ramalan Bernstein. Bernstein sendiri sangat meyakini
bahwa kapitalisme telah berkembang secara lebih damai, lebih progresif,
menghapuskan krisis-krisis yang ada, meningkatkan standar kehidupan
massa
. Ia meramalkan
bahwa reformasi dengan sendirinya (secara bertahap) akan membuka jalan bagi
sosialisme; bahwa negara kapitalis akan berubah menjadi sosialisme (secara
damai/tanpa konflik sama sekali). Dan bahwa antagonisme klas akan hilang dengan
sendirinya. Padahal paruh dari abad ini sendiri telah mempertunjukan barbagai
konflik krisis yang menganga, kelaparan/kemelaratan, pengangguran… berbagai
proses pembusukan Kapitalisme. Bersamaan dengan antagonisme klas yang
bergerak/berkonflik, dan meletus dalam bentuk perang maupun revolusi.
Bahkan pada masa seperti itu, kaum Marxis– yang
di persenjatai dengan sosialisme ilmiah– memenangkan pertarungan teoritik
melawan ide-ide revisionisme. Walaupun memang masih ada saja orang yang senang
memelihara kebiasaan dan praktek-praktek reformis di tubuh partai. Di Jerman :
Babel
, Kautsky, Rosa
Luxemburg — ketika itu — memukul mundur kaum revisionis yang di piimpin oleh
Bernstein dan Vollmar ( yang ‘kebetulan’ merupakan pendahulu Stalin, dalam
menganjurkan teori tentang "sosialisme di satu negeri").
Dalam kongres kaum sosial demokrasi Jerman pada
tahun 1903 di kota Dresden, Bebel dan Kautsky berhasil mempetahankan keutuhan
partai, sekaligus mengeluarkan sebuah resolusi yang di tujukkan kepada kaum
revisionis. Resolusi tersebut berbunyi antara lain:
Dengan ini kongres mengutuk keras, upaya-upaya
para revisionis untuk mengubah garis-garis taktik yang sudah teruji dan sukses.
Yang telah kita emban selama ini, yang juga berasal dari perjuangan klas .
Taktik para revisionis ini secara tak terhindarkan akan mengubah watak partai
kita .. dari sebuah gerakan yang bertujuan– uintuk melakukan penyingkiran
secepatnya atas masyarakat borjuis (dan menggantikan dengan masyarakaat sosialis
) — menjadi sebuah kelompok yang puas dengan perbaikan-perbaikan dalam
masyarakat borjuis. Selanjutnya, kongres mengutuk tiap upaya untuk
menyembunyikan antagonisme-antagonisme klas (pertentangan-ppertentangan klas)
yang semakin meningkat terlebih-lebih bila di maksudkan untuk memfasilitasi
kerja sama dengan partai-partai borjuis (di kutip dari Landauer, Sosialisme
Eropa/ European soocialism, vol.1, halaman 359).
Pada kongres Internasional di Amsterdam tahun
1904, resolusi
Dresden
di atas, menjadi pusat perdebatan sengit yang berlangsung sampai empat hari.
Kongres ini juga menjadi saksi bagi terjadinya " duel dua raksasa
berkaliber internasional" antara Jaures (seorang sosialis Peranncis)
melawan
Babel
(pimpinan sosialsi Jerman) . Dengan menerima resolusi
Dresden
, internasional secara resmi
menyingkirkan teori kaum revisionis, dan sekali lagi mengukuhkan dirinya
berdiri tegak di bawah panji-panji revolusi Marxisme.
Kongres Amsterdam sendiri menandai titik puncak
internasional kedua. Kongres di hadiri oleh 444 delegasi, yang merupakjan
kelompok perwakilan gerakan sosialis terbesar dan paling solid, sejauh yang
pernah di catat. Ketika Van Kol (seorang sosialis dari Belanda) memberikan
sambutan, ia membandingkan perbedaan yang sangat ,mencolok antara kongres internasional
tahun 1872 dengan 1904 ini. Di tahun 1872 seingatnya, beberapa lusin delegasi
International Pertama bertemu di Den Haag (*Belanda) , di sebuah Kafe … hanya
untuk membubarkan organisasinya . Dalam waktu 30 tahun orang-orang pengasingan
dan pejuang-pejuang buruh yang tadinya di buru-buru tersebut telah menggerakan
dunia.
Tahun itu (1904), merupakan masa kejayaan
internasional kedua dan gagasan Marxisame yang di embannya. Kejayaan ini masih
tetap di tingkatkan, ketika revolusi Rusia yang pertama meletus pada tahun
berikutnya (1905) … ketika klas buruh yang masih begitu mudah — di bawah
kepemimpinan sosial demokrasi — untuk pertama kali menunjukkan kegagahan
Revolusionernya.
Itulah titik puncak internasional kedua. Titik
tersebut turun bersama dengan surutnya gelombang pasang revolusioner.
Bab III
Menjangkitnya Oportunisme dalam Sosialis Internasional
(1904-1914)
Kongres Amsterdam tahun 1904 dan revolusi Rusia
tahun 1905 adalah dua puncak semangat revolusioner dalam sejarah internasional
kedua. Kongres tersebut menandai kemenangan Marxisme atas ide-ide sayap kanan
kaum revisionis. Juga kemengan cita-cita kaum proletarian terhadap upaya-upaya
penggiringan buruh yang terorganisir ke arah demokrasi parlementer. Kemenangan
taktik yang berbasiskan perjuangan klas yang tegar, atas taktik yang
berbasiskan oportunisme dan reformisme sosialis. Pendeknya, kemenangan semangat
proletarian atas pengaruh-pengaruh borjuis kecil di dalam internasional kedua.
Revolusi Rusia tahun 1905 menjadi saksi atas
program dan semangat ini, yang memandu aksi pengerahan
massa
secara besar-besaran. Harap di ingat
sejak di pukulnya komune
Paris
tahun 1871, di
Eropa tidak pernah ada lagi gejolak revolusioner dalam skala besar, selama
sekitar tiga puluh
lima
tahun terakhir. Sekarang , justru di kekaisaran Tsar yang terbelakang, yang
merupakan negeri yang paling reaksioner di Eropa … dengan sebuah rejim absolut
yang menindas lembaga-lembaga demokrasi, memburu-buru kaum sosialis dan gerakan
buruh… justru segenap rakyat Rusia yang tertindaslah yang mulai bergerak lebih
dulu di Eropa; terutama setelah kekalahan menyakitkan yang di alami Rusia dalam
perang Rusia- Jepang. Adalah klas buruh Rusia yang masih muda, yang berdiri
paling depan dalam barisan
massa
rakyat; dan ini semua di pandu oleh kaum sosial Demokratik Rusia.
Dalam sebuah kuliah tentang revolusi 1905 (yang
di berikan Lenin dalam dalam pembuangan di Swiss, satu bulan sebelum pecahnya
revolusi tahun 1917) Lenin mengamati:
Sebelum 22 Januari 1905 partai revolusioner Rusia belum memiliki keanggotaan
secara luas … saat itu kaum reformis menyebut kita sebuah "sekte"
(kelompok kecil). Seratusan organiser revolusioner, sekian ribu anggota
organisas lokal, setengah lusin koran revolusiner yang terbit tidak lebih dari
sekali bulan (material-material/ koran ini biasanya di terbitkan di luar
negerri dan di selundupkan ke Rusia dengan kesukaran luar biasa; dan dengan
bayaran pengorbanan yang tidak kecil.) Seperti itulah partai-partai yang
revolusioner dan khususnya Partai Sosial Demokrasi Rusia, sebelum 22 Januari
1905. Kondisi seperti itu membuat kaum reformis yang picik dan pongah,
mengeluarkan justifikasi (pembenaran) Revolusi Rusia adalah peristiwa besar
pertama yang membawa hembusan segar dalam atmosfir Eropa yang
pengap/membosankan, selama 35 tahun terakhir sejak komune
Paris
. Perkembangan cepat dalam klas buruh
Rusia, dan kekuatan tak terbayangkan dari pemusatan sktifitas revolusioner
mereka….menghasilkan kesan yang mendalam bagi dunia dan dimana-mana
menghasilkan menih yang mempertajam perbedaan-perbedaan politik. Di Inggris,
revolusi telah mempercepat pembentukan partai buruh independen. Di Austria
terjadi desakan-desakan yang kuat untuk menegakkan hak-hak politik rakyat. Di
Perancis, gaung revolusi Rusia ( mengambil bentuk dalam gerakan sindikalisme) …
memberikan pencerahan pada tingkat praktek dan teori … bagi terbangunnya
kecendrungan revolusioner proletariat Perancis . Di Jerman revolusi Rusia
menunjukan pengaruhnya dalam penguatan buruh dalan sayap Kiri partai; menyeret
mayoritas kaum tengah ke Kiri . Menghasilkan penyingkiran kaum revisionis
(Kanan). Sehingga secara prinsip partai menetapkan metode revolusioner dalam
aksi-aksipemogokan umum. (Perang dan Internasional , halaman 61).
Pemberontakan besar tahun 1905 juga meninggalkan
jejak yang mendalam, di seluruh Asia dan merangsang revolusi-revolusi melawan
kekuatan kolonial
di Turki
,
Persia
dan
China
.
Betapapun revolusi itu di pukul balik dengan
sangat keras. Kekalahan revolusi dan kemenangan kekuatan kontra revolusi; telah
mendorong berlangsungnya periode reksi yang berkepanjangan , hal ini bukan
hanya berlangsung di Rusia, namun juga ditiap penjuru Eropa. Trotsky
menggambarkan kemunduruan politik tersebut sebagai berikut:
Di Rusia kekuatan kontra revolusi menang . dan
bersamaan dengan ini dimulailah periode kemunduran dalam proletariat Rusia;
kemunduran kekuatan, baik secara politik maupun organisasi di
Austria
,
jalinan-jalinan kemajuan uang telah di capai oleh klas buruh terpotong-putus.
Tuntutan bagi pengesahan jaminan sosial untuk rakyat banyak, terbengkalai di
kantor-kantor pemerintah. Tuntutan-tuntutan bagi hak-hak politk universal
terpuruk dalam kepentingan kaum nasionalis belaka; semua ini bermuara pada
semakin melemah dan terpecahnya kekuatan Sosial Demokrasi. Di Inggris, setelah
sekian lama Partai Buruh melepaskan diri dari Partai Liberal , belakangan ini
mulai menjalim hubungan kembali. Di Perancis, kaum sindikalis menyerah pada
posisi kaum reformis . Dalam waktu yang singkat Gustave Harve memutar balik
ketetapan yang diambil sendiri. Di Jerman sendiri , kaum revisionis dalam tubuh
partai Sosial Demokrasi, mengangkat kembali kepala mereka dengan pongahnya.
Kaum Marxis dipaksa untuk merubah taktik mereka dari taktik ofensif menjadi
taktik defensif. Upaya-upaya kaum kiri dalam mengarahkan partai-partai untuk
mengambil kebijakan yang lebih aktif , tidak membuahkan hasil. Kaum tengah
makin bergerak ke arah kanan, smbil mengepung akum radikal/kiri.
Kekuatan-kekuatan konservatif menarik nafas lega atas kekalahan revolusi 1905
(Perang dan Revolusi, halaman 63).
Dalam kuliah- kuliah (sebagaimana yang telah
disbutkan di muka) Lenin menegaskan ,"bahwa revolusi Rusia 1905,
dikarenakan watak proletariatnya … adalah merupakan prolog (pendahuluan), bagi
kedatangan revolusi Eropa " (Karya-Karya Terseleksi Lenin, Volume 23,
Halaman 252). Pandangan jernih yang tajam ini -ketika itu- di akui juga oleh
Kautsky. Namun pandangan itu tidak menjadi pandangan yang dominan dikalangan
pemimpin-pemimpin Internasional Kedua; sehingga tidak pernah di pakai sebagai
sebuah panduan strategi (terutama pada tahun 1904-19914).
Para
pemimpin Internasional Kedua tersebut, bekerja dengan menggunakan cara pandang
dan analisis yang berbeda. Walau tidak di akui secara terbuka, sesungguhnya
cara pandang kaum reformis
Apa sajakah premis-premis (landasan argumen)
mereka? Kini mereka percaya bahwa kapitalisme akan tetap berlanjut bertahan
sampai dengan mas depan yang tak terbatas. Seperti yang sudah hidup di bawah
kondisi kolonial. Keuntungan luar biasa yang ditumpuk dan akumulasi oleh
penguasa-penguasa kapitalis, memungkinkan negeri-negeri besar tersebut… (selama
masa ‘naik daunnya’ kapitalisme global) … memiliki kemampuan untuk memberikan
lapisan buruh sedikit remah-remah ( sisa-sisa makanan) yang tercecer dari mejan
makan majikan besar mereka yang rakus. Lapisan buruh yang menikmati hal- hak
istimewa inilah yang merupakan aristokrat-aristokrat buruh mereka; lazimnya
membentuk partai buruh yang besar dan mapan , ataupun juga serikat-serikat
buruh yang birokratis.
Pimpinan-pimpinan partai buruh mapan maupun
serikat buruh birokratis tersebut biasanya memilih jalan parlementer; dan
menjadi penganjur-penganjur utama bagi kampanye pengambilan jalan damai,
gampangan dan hidup berdampingan secara ‘berbudaya’. Mereka tidak bertindak,
berpikir dan merasakan -sebagaimana seharusnya perwakilan klas yang tertindas-
namun, lebih mirip penjaga-penjaga toko borjuis kecil, majikan-majikan kecil,
guru-guru sekolahan… bersamaan dengan semakin kentalnya kecendrungan borjuis
mereka - orang-orang mapan tersebut juga menjadi semakin terisolasi
(terasingkan) - dari penderitaan, kesukaran-kesukaran hidup maupun aspirasi
massa rakyat. Mereka juga sudah tidak merasa penting untuk memintakan
pertanggungjawaban majikan mereka, apalagi melawannya.
Kaum borjuis kecil bersikap sama terhadap rakyat
tanah jajahan (daerah-daerah kolonial) . Sungguhpun mereka tahu betul bahwa
–hasil-hasil bumi–, kenyamanan penghidupan, standar penghidupan yang lebih
tinggi, hak-hak istimewa yang mereka kecap - sebagian besar dihasilkan dari
penghisapan atas rakyat-rakyat tanah jajahan. Dengan dinginnya mereka
membiarkan begitu saja pengambilalihan daerah-daerah koloni… mereka juga tidak
mempedulikan kekerasan, penindasan, maupun kemorosaotan penghidupan yang
menimpa rakyat tanah jajahan. Sekali lagi mereka memilih bungkam terhadap
proses perbudakan yang berlangsugn bersamaan dengan kebijaksanaan dan
praktek-praktek kolonial maupun imprealis. Sama sekali tak terlintas dalam
mereka, perihal keharusan untuk memblejeti praktek-praktek tersebut di atas ;
dalam rangka mendidik kaum buruh. Dengan membangkitkan keadaran klasnya, dan
membangun ikatan solidaritan/persaudaraan antar klas buruh dari negeri-negeri
yang paling terinjak-injak.
Sebagai konsekwensi logisnya , kaum sayap kanan
dalam gerakan buruh, justru menjalin aliansi dengan borjuasi pribumi, untuk
menindas rakyat di tanah jajahan (khusunya klas buruh di perkotaan atau di
pinggiran
kota
) . Ternyata praktek kolaborasi klas (kerja sama antar klas) inilah yang pakai
untuk menggantikan perjuangan klas yang konsisten; dan inipulalah yang menjadi
akar oportunisme . Lenin menggambarkan hal ini sebagai," pengorbanan atas
kepentingan fundamental
massa
klas buruh, demi kepentingan-kepentingan sesaat minoritas kaum buruh (yang tak
penting) . Atau dengan lain perkataan aliansi sebagian kecil kaum buruh dengan
kaum borjuis, untuk menindas
massa
proletariat.
Ada
empat yang persoalan yang menandai petumbuhan elemen-elemen kanan kaum
oportunis , terhitung sejak tahun 1906 sampai dengan tahun 1914; di
internasional kedua. Yang pertama dan paling utama adalah dalam menghadapi
persoalan kolonial.
Pada kongres di
Stuttgart
yang tahhun 1907, kaum sayap kiri
menyerukan perjuangan yang prinsip bagi kebijakan sosialis yang sejati. Dengan
demikian sebagai konsekuensi, kaum kiri menentang tiap penaklukan,
praktek-praktek perhambaan, pemerkosaan, panjarahan yang menjadi ciri khas
dalam operasi-operasi kolonial kekuatan-kekuatan imprealis.
Kaum oportunis yang di pimpin oleh
serikat-serikat buruh Jerman, menentang tiap upaya untuk melawan
kekuatan-kekuatan imprealis . Mereka cenderung memilih untuk beradaptasi/
menyesuaikan diri dengan kekuatan-kekuatan imprealis tersebut. Seorang delegasi
Jerman bernama Eduard David, berargumentasi: Karena kebijakan dan penindasa
kolonial adalah sesuatu yang tak terhindarkan di bawah kapitalisme ; maka kaum
sosial demokrasi tidak perlu melakukan perlawanan atasnya. Yang perlu dilakukan
kaum Sosial-Demokrasi adalah berjuang bagi perbaikan-perbaikan kondisi kerja
penduduk pribumi di tanah jajahan. Ringkasnya Eduard David mau mengatakan,
bahwa perjuangan yang perlu dilakukan bukannya untuk mengakhiri perbudakan;
namun untuk memperbaiki kondisi- kondisi perbudakan.
Barnstein juga berpendapat, bahwa masyarakat
memang dapat di bagi dalam dua kategori: kaum penguasa dan kaum yang dikuasai.
Bagian tertentu dalam masyarakat memang sepeti kanak-kanak, yang selalu harus
di bimbing , dan tidak sanggup mengembangkan diri mereka sendiri. Sehingga
kebijakan kolonial –menurutnya - adalahg sesuat yang tak bisa di elakan,
bahkan di bawah tatanan sosialisme sekalipun. Bagi idiologi-idiologi (palsu)
tersebut bangsanya sendirilah yang paling beradab, dan memang terlahirkan
sebagai " bangsa yang di pertuan" ( dan tidak mungkin terjadi sebaliknya
sebagai bangsa yang di perbudak).
Kongres menyelenggarakan pemungutan suara
(voting) sehubungan dengan ‘persoalan kolonial’ ini. Dan hasilnya adalah kaum
revisionis memperoleh 127 suara, sedangkan kaum oportunis 108 suara, sisa 10
suara menyatakan abstain (tidak memilih). Semua kaum sosialis Rusia yang yang
hadir dalam kongres memilih dengan semangat revolusioner; sementara mayoritas
pimpinan serikat-serikat buruh Jerman mendukung kaum oprtunis. Pilihan-pilihan
yang mereka ambil ini sudah merupakan isyarat tersendiri, yang akan terbukti
nanti dalam sejarah.
Perdebatan kedua adalah mengenai kebijakan
imigrasi. Seorang delegasi Amerika berpendapat bahwa Internasional seharusnya
mengeluarkan tuntutan bagi pemberlakuan Undang-undang yang membatasi masuknya
kaum buruh-buruh berkulit kuning ke "negeri-negeri beradab". Yang
hakikatnya adalah usulan untuk membangun tembok pemisah antara klas buruh di
Asia
dengan yang tinggal di Amerika /Eropa; lewat sebuah
perundang-undangan kapitalis. Cara pandang semacam initelah menjadi semacam
tradisi dalam kebijakan buruh Amerika, yang masih berlaku sampai hari ini.
Perdebatan ketiga yang lebih penting , adalah
menyangkut hubungan antar partai-partai sosialis dengan serikat-serikat buruh.
Di satu pihak, ada kecendrungan bahwa para pimpinan serikat buruh, merasa
nyaman dengan hak-hak istimewayang dimilinya; sambil ‘membina’ kaum buruh yang
masih terbelakang. Mereka inilah yang menentang dan berusaha melepaskan diri
dari segala bentuk kontrol/pengawasan politik; yang lazim bagi sebuah partai
yang menggunalkan metode perjuangan klas. Karenanya orang-orang tersebut
senantiasa menyerukan ‘netralitas’ serikat buruh, sehubungan dengan
program-program ataupun aktifitas -aktifitas partai sosialis. Harap di catat
bahwa lahan subur bagi pertumbuhan oportunisme dan arah gerak ke kanandalam
internasionale kedua , justru di pelopori oleh serikat-serikat buruh.
Memang kita pahami benar bahwa otonomi
organisasional bagi serikat-serikat buruh adalah sebuah keharusan. Namun
independensi total bagi serikat-serikat buruh adalah sebuah keharusan. Namun
independensi total bagi serikat-serikat buruh dalam praktek dan kebijakan
adalah sesuatu yang mustahil. Mengingat bahwa dalam peta pertarungan kekuasaan
politik , serikat-serikat buruh tersebut hanya punyta dua pilihan : jatuh ke
bawah cengkeraman kapitalis dan pemerintahannya, atau berjuang bersama kaum
oposisi/penentang klas kapitalis, yakni bersama
massa
proletariat. Sehingga kita tidak
mengenal ‘jalan tengah’ dalam menghadapi persoalan diatas dengan melakukan
pemisahan antara perjuangan politik dengan perjuangan ekonomi, kaum sayap kanan
hanya menginginkan mendapatkan pengesahan atas oportunisme mereka.
Dalam kongres di
Stuttgart
tersebut, keinginan-keinginan atas
‘netralitas’ serikat-serikat buruh berhasil diselesaikan oleh kaum revolusionis
yang berpegang teguh pada prinsip-prinsip fundamental Marxime. Mengenai hal ini
Clara Zetkin menuliskan catatannya sebagai berikut, " Kini secara prinsip,
tidak ada lagi suara-suara yang mempertanyakan kecendrungan historis yang poko
dari perjuangan klas proletar; untuk mempersatukan pengorganisasian kerja-kerja
ekonomi dan politik seerat mungkin, dalam sebuah klas buruh sosialis"
(dikutip dari Karya-Karya Terkoleksi Lenin , Volume 13, Halaman 89).
Komentar Lenin sendiri atas perdebatan tersebut:
"Sambil menjalani proses pentahapan dan hubungan timbal balik yang yang
tak terelakan (antara partai revolusioner dengan serikat buruh –penerjemah)…
Dengan tidak mengambil langkah-langkah yang gegabah/tak bijaksana… Kita harus
bekerja bekerja secara konsisten dengan serikat-serikat buruh, dlam rangka
memandu mereka ke arah yang lebih dekat dengan Partai Sosial Demokratik"
(Karya-Karya Terkoleksi Lenin, Volume 13, Halaman 89).
Problem mengenai hubungan antara partai pelopor
(Vanguard party) dengan proletriatnya sebagaimana seharusnya, dikaitkan dengan
hubungan antara serikat buruh yang mencerminkan proletariat sebagaimana
seadanya (betapapun kurang maksimalnya) … adalah salah satu persoalan penting
dalam khasanah revolusioner Marxisme. Hal ini juga sekaligus merupakan problem
yang paling sukar untuk di tangani di tingkat praktek.
Hubungan-hubungan ini tidak hanya memiliki
perbedaan-perbedaan di negeri-negeri yang berlainan ; namun hubungan ini bahkan
telah memiliki perbedaan-perbedaan dalam tingkatan-tingkatan perkembangannya,
di negeri yang sama. Pergerakan serikat buruh telah menjadi saksi bagi
terjadinya dua macam hubungan yang mewakili dua kubu yang berbeda. Di Jerman
dan Rusia pada umumnya, Partai Sosial Demokrasi-lah yang mengambil inisiatif
dalam membentuk dan memipimpin organisasi serikat-serikat buruh. Bagi Inggris
dan Amerika Serikat –dilain pihak– gerakan sosialis dengan gerakan
serikat-srikat buruh dilahirkan dan berkembang secara terpisah bahkan saling
bertentangan satu sama lain.
Kaum sindikalis yang cukup berpengaruh di
Perancis dan Spanyol, jug amenentang segala kaitan/hubungan antara serikat
buruh dengan partai politik klas buruh.
Belakangan -di beberapa negeri imprealis utama-
seperti Inggris dan juga Kanada,… pergerakan politik di awali kebangkitan dari
serikat-serikat buruh. Dan secara bertahap melebur dengan partai pelopor, dalam
bentuk partai-partai buruh … (dengan ataupun tanpa program/idiologi sosialis
yang dinyatakan secara terbuka) .
Dengan variasi peluang/ kemungkinan yang begitu
beragam -dari dua kubu besar tadi- nampaknya tidak akan ada satu formula yang
final/absolut, untuk menentukan hubungan hubungan antara pergerakan ekonomi dan
politik kaum buruh. Apakah pilihan terbaik yang perlu diambil -dalam tahapan perkembangan
tertentu- sangat tergantung pada keseluruhan faktor politis historis yang
kompleks.
Betapapun, ada satu pertimbangan yang akan tetap
konsisten bagi kaum Marxis. Yaitu soal peranan politik yang dinilai lebih
menentukan/lebih penting dibandingkan peran ekonomi (yang secara organisasional
tercerminkan dalam peranan partai atas urusan-urusan serikat-serikat buruh).
"Politik" demikian ungkap Trotsky, " Adalah pencerminan umum
yang terfokus, yang berangkat dari persoalan-persoalan ekonomi".
Trotsky menggambarkan tujuan ideal atas hubungan
(partai dan serikat buruh), sebagai berikut: Partai - kalau memang cukup
berharga untuk disebut demikian- mencakup keseluruhan pelopor klas buruh.
Partai menggunakan pengaruh pengaruh idiologisnya, untuk membangun tiap
‘cabang’ dari pergerakan buruh menghasilkan buah (khusunya bagi gerakan serikat
buruh). Namun kalau serikat-serikat buruh juga hendak benar-benar dianggap
cukup berharga … serikat-serikat buruh itu juga harus merangkul
massa
buruh yang terus
tumbuh berkembang, meliputi juga elemen-elemen buruh yang belum maju. Sehingga
mereka (serikat-serikat buruh) baru akan menuntaskan tugas mereka, ketika
berhasil memandu buruh-buruh tersebut, secara sadar denagn prinsip-prinsip yang
fundamental. Dan mereka hanya akan meraih kepemimpinan semacam ini, bila
elemen-elemen terbaik dari buruh-buruh tersebut telah dipersatukan didalam
partai proletariat yang revolusioner" (tulisan Leon Trotsky mengenai
serikat-serikat buruh, halaman 12) Internasional Kedua memang sudah cukup baik
dalam menyerukkan hal diatas, sayang sekali masih kurang cukup dalam meyadari
sepenuh-penuhnya.
Sementara itu, kekuatan-kekuatan utama di Eropa
telah terlibat dalam manuver-manuver diplomatik dan berpacu dalam perlombaan
senjata, yang akan memuncak dalam perang tujuh tahun kemudian… Dengan demikian
dalam rangka mengantisipasi persipan tersebut di ata, kaum sosialis memberikan
porsi yang sentral dalam kongres Internasional kedua di Stuttgart.
Ada
tiga posisi
klasik yang mengedepan pada kongres internasional kedua di
Stuttgart
tersebut … cara pandang
oportunistik diwakili oleh georg Vollmar (seorang pemimpin sayap kanan dari
Partai Sosial Demokrasi Jerman). Vollmar secara terbuka menolak prinsip-prinsip
revolusioner proletariat, dan malah berkhotbah tentang petriotisme bagi ‘tanah
air’ (baca : membela negeri jerman yang kapitalistik). Bukanlah tanpa alasam
bila kita menelusuri akar perkembangan teori sosialisme di satu negeri ;dalam
pernyataan Vollmar ini Vollmar menyatakan :" Tidak benar kalau ada yang mengatakan
bahwa kita tidak memiliki air. Segala kecintaan kita akan kemanusiaan, tidak
dapatr menghindarkan kita untuk menjadi orang-orang Jerman yang baik… Kami
berpendapat bahwa prpaganda anti militer bukan saja tidak benar dari sudut
pandang teori, tapi juga sama sekali berbahaya secara prinsip".
Dari sudut pandang yang sama sekali bertolak
belakang belakang dengan yang diatas; seorang Perancis yang bernama Herve,
mewakili posisi kaum ultra kiri. Herve berpendapat bahwa tiap peperangan dapat
diantisipasi dengan aksi pemogokan buruh besar besaran, yang diikuti dengan
pemberontakan. Menurut Lenin, Herve telah melupakan, " Bahwa penggunaan
atas suatu alat/sarana (maupun sarana-sarana lainnya), dalam perjuangan (
menghadapi perang) … sangat bergantung pada kondisi-kondisi obyektif dari
krisis tersebut -secara ekonomi ataupun politik - yang dipercepat oleh perang
tersebut. Sehingga bukanlah bergantung pada keputusan-keputusan yang telah
dibuat oleh kaum revolusioner " (Karya-Karya Terkoleksi Lenin, Volume 13,
halaman 91).
Pengalaman yang telah menunjukan , bahwa aksi
pemogokan umum (ditingkat nasional) adalah sesuatu yang mustahil pada saat
pecahnya perang … ketika chauvinisme dan persatuan nasional sedang begitu
memuncak. Ketika klas pemodal begitu kuat dan klas buruhnya masih sangat lemah.
Menurut Lenin formula yang diusulkan oleh Herve adalah salah, karena,
"tidak sanggup mengaitkan perang dengan rejim kapitalis secara keseluruhan
; dan juga agitasi anti milite rdengan kerja-kerja sosialisme secara keseluruhan
" (dikutip dari Lenin, volume 13).
Kasus herve ini terutama sangat penting untuk
mempertunjukan bagaimana semua seruan kaum borjuis kecil bagi avonturisme
(petualngan) dai arah ultra kiri, dengan berjudi atas persoalan-persoalan
sedemikian pentingnya, yang merupakan kebalikan ekstrim oportunisme … justru
dapat merupakan sisi lain dari mata uang yang sama : sejarah mencatat bahwa
Herve -si anti militer yang fanatik- menjadi patriot yang bebal pada tahun
1914.
Sayap Marxis dalam Internasional Kedua yang dipimpin
oleh Lenin, Roxa Luksenburg dan Clara Zetkin memenangkan perdebatan (keempat)
terakhir mengenai peperangan. Zetkin mengekspresikan momen tersebut sebagai
berikut :" keberanian semangat dan energi revolusioner klas buruh dalam
kapasitas tempurnya… berhasil memukul mundur keyakinan mandul yang digrenggam
erat oleh orang-orang yang bersandar pada metode perjuangan parlementarian ;
dan juga berhasil mengatasi kedangkalan cara pandang anti militeris kaum semi
anarkis Perancis yang di kampanyekan oleh orang-orang seperti Herve "
(Lenin, Volume 13, Halaman 92)
Kongres mengeluarkan kesimpulan yang ditetapkan
dalam resolusi yang menyatakan bahwa peperangan, "adalah bagian yang tak
terpisahkan dari Kapitalisme. Peperangan hanya bisa dihentikan ketika sistim
kapitalisme itu sendiri di hapuskan …" Resolusi ini mengumandangkan seruan
yang menolak segala pengeluaran untuk pembelian senjata dan juag bago
propaganda anti militer , Dinyatakan pula bahwa sementara belum ada ketentuan
umum "bentuk-bentuk baku dari aksi-aksi antimilitrer yang perlu dilakukan
oleh klas buruh.( dalam mengantisipasi momen-momen ancaman perang… betapapun
adalah tugas internasional kedua untuk "mengkordinasi dan meningkatkan
upaya-upaya yang paling maksimal klas buruh dalam menghadapi peperangan".
Sebagai tambahan, resolusi ini juga mengutip sejumlah contoh mengenai aksi anti
perang oleh klas buruh yang cukup berhasil. Antara lain di sebutkan pula
revolusi Rusia 1905 yang dipercepat oleh perang Rusia-Jepang. Bahaya ancaman
tak langsung yang dapat mengarah ke revolusi, di jelaskan dalamn alinea penutup
resolusi, yang di rancang bersama Rosa Luxemburg Lenin dan Martov:
"Bila sebuah perang nampaklnya akan meletus, adalah tugas klas buruh dan
perwakilan-perwakilan parlementer mereka di negeri-negeri yang bersangkutan…
Untuk mencurahkan dukungan ( dengan aktifitas-aktifitas yang di kordinasi dari
kantor pusat sosialis Internasional) , dengan mengerahkan sgala upaya dal;am
rangka mewncegah meletusnya perang. Juga dengan sarana apapun, yang paling
efektif menurut mereka. Yang kesemuanya ini sangat bergantung pada penguatan
perjuangan klas dan juga penajaman situasi politik secara umum".
Bila peperangan tersebut nampaknya tidak dapat di cegah dengan cara apapun
juga. .. Maka adalah tugas klas buruh untuk melakukan intervensi (campur
tangan). Kesemuanya ini dalam rangka untuk mendorng terjadinya percepatan, dan
bersamaan dengan segenmap kekuatannya … Memanfaatkan krisis ekonomi dan politik
(yang diciptaka oleh peperangan) untuk membangkitkan
massa
rakyat , agar memacu kejatuhan
kekuasaan klas kapitalis " ( untuk teks selengkapnya dari resolusi , lihat
Braunthal, hal 361-363).
Nampaknya bahwa dari ringkasan pertimbangan
mauoun kettapan yang di buat dalam satu kongres internasional kedua di
Stuttgart ( yang merupakan ciri khas bagi kongres-kongres lainnya sampai dengan
tahun 1914)… Bahwa selain gangguan-gangguan yang di picu oleh kaum oportunis
gagasan Marxis tetap bertahan di dalam tubuh Internasional kedua,. Penilaian
semnacam ini akan keliru bila kita bila kita hanya melihat posisi-posisi formal
yang diambil oleh orang-orang ( dilihat dari luar saja )… Sehubungan dengan
situasi nyata yang melingkupi Internasional kedua.
Penampilan yang kontradiktif dari Internasional
Kedua menjadi semakin nyata setelah kongres di
Copenhagen
tahun 1910. Dari tahun 1910 sampai
dengan 1913 pergolakan sosial dan konflik-konflik klas yangtajam mengguncang
hampir semua negeri.
Para
buruh tambang,
buruh-buruh kereta rel api. Di Rusia buruh-buruh mesin dan buruh-buruh
penambangan emas Di Amerika buruh-buruh perusahaan tekstil maupun penambangan.
Ternyata kondisi-kondisi sosial ini malah bermuara pada gerakan reformasi, yang
nenotong kebangkitan elan revolusioner.
Perjuangan nasionalis juga menyebar di Turki, di
Timur Dekat, di China. Semua perkembangan domestik ini, berjalan erat dengan
krisis-krisis di tingkat imternasioal: Insiden agadir yang memoicu bentrokan
antara Perancis-Jerman di Maroko tahun 1911, Perang merebut Libya antara
Turki-Italia, Perang Balkan pertama tahun 1912 dan lain-lain.
Inilah goncangan-goncangan yang menggoyahkan
Eropa di tahun 1914. Namun sementara itu sentimen-sentimen nasionalisme,
kekuatiran akan perubahan-perubahan drastis, keraguan atas daya kekautan klas
buruh dan aliansi-aliansinya… mengakibatkan merebaknya kecendrungan-kecendrungan
oportunis dan munafik, yang merupakan perpaduan yang pengecut dari oportunisme
dari kaum tengah.
Pertumbuhan yang menular ini di dalam tubuh
partai-partai sosial utama, ternyata memang sangat berbahaya. Mengakibatkan
mandul dan runtuhnya Internasional kedua, sebagai sebuah kekuatan progresif ..
padahal gejolak konflik perang dunia sudah mulai pecah tepat di hadapan
mukanya.
Bab IV :
Perang Dunia Pertama dan Keruntuhan Internasional
Pada bulan Oktober 1912
Montenegro
menyatakan perang
terhadap Turki, yang tak lama kemudian menjalar ke seluruh wilayah Balkan. Bau
aroma mesiu sudah tercium sampai ke Eropa, dan hanya di butukan sedikit
percikan api untuk membuatnya meledaknya. Kantor pusat Internasional segera me
rancang rapat-rapat anti perang, dan mempersiapkan KLB ( Kongres Luar Biasa)
sosialis Internasional yang akan di selenggarakan di
Basle
pada tanggal 24-25 November 1912.
Sungguhpun dipisahkan dalam jangka waktu yang
kurang dari satu bulan, kongres tersebut dihadiri tidak kurang dari 555
delegasi dari 23 negeri Kongres yang juga bertujuan sebagai ajang ‘unjuk gigi’
soliudaritas klas buruh internasional, dalam mengantisipasi ancaman perang yang
akan segera menjalar. Pada hari kedua kongres, para delegasi secara bulat telah
menandatangani manifesto yang telah dirancang kantor pusat.
Manifesto Basle-lah untuk pertama kalinya
mengumandangkan bahwa- perang Eropa yang akan segera menjelang - pada
hakikatnya berwatak imprealis. Manifesto Basle juga mengukuhkan posisi
prinsipil perjuangan kaum buruh berkenaan dengan persoalan peperangan, yang
telah di tetapkan kongrews-kongres interrnasional kedua di
Stuttgart
(1907) dan
Copenhagen
(1910). Manifesto
Basle
juga menggarisbawahi
peluang revolusi sosial yang dapat meletus menyusul pecahnya perang.. Dengan
mengambil contoh-contoh sperti pemberontakan Komune Paris yang meletus menyusul
perang Perancis- Prussia (Jerman) tahun 1871, juga revolusi 1905 di Rusia
selama perang Rusia Jepang. Manifesto tersebut antara lain juga menyatakan
bahwa "Adalah suatu ketololan yang luar biasa, bila pemerintah-pemerintah
yang berkuasa saat ini tidak menyadari luar biasanya ancaman perang dunia… yang
dapat dengan mudah memicu revolusi klas buruh" (Landauer, sosialisme
Eropa, halaman 495).
Lenin dan perwakilan-perwakilan kaum bolshevik
lainnya pada kongres
Basle
ini ’sangat puas’
dengan resolusi tersebut . Lenin dan kawan-kawan manifesto
Basle
ini sebagai pernyataan penting tentang sikap kaum marxis dalam menghadapi
perang kaum imprealis. Sungguhpun demikian Lenin sendiri menyadari bahwa
kata-kata/ pernyataan belaka, tidaklah boleh disamakan bobotnya dengan
tindakan-tindakan konkrit/aksi. Lenin menyadari betul tentang kecendrungan
patriotik (nasionalis) dan arus oportunisme yang sedang berkembang di dalam
internasional kedua. Menurut Zinoviev, setelah selesai membaca manifesto
Basle
tersebut Lenin berkata. "Mereka telah
memberikan kita catatan-catatan yang menjanjikan, mari kita lihat seberapa
besar usaha mereka untuk mencapainya".
Catatan yang menjanjikan tersebut di uji pada
bulan Juli 1914 kaetika
Austria
dan Hungaria menyampaikan ultimatum kepada
Serbia
. Anggota-anggota
internasional kedua langsung mananggapi krisis ini, dengan mengacu pada
ketetapan pertama resolusi
stuttgart
(1907) , yang berbunyi : "Bila sebuah perang nampaknyua akan meletus,
adalah tugas klas-klas buruh … dan seterusnya … untuk mencurahkan dukungan…
dengan mengerahkan segenap upaya dalam mencegah meletusnya perang".
Pada tanggal 19 juli 1914, sementara pasukan
tentara
Austria
sedang
bergerak di Belgrade ; Kantor pusat sosialis Internasional menggelar
demonstrasi anti perang besar-besaran
di
Jerman
,
Austria
,
Italia, Perancis dan Belgia. Demonstrasi besar-besaran itu di pindah ke Wina
pada 23 Agustus 1914, dan kemudian pindah ke
Paris
pada 9 agustus. Dua hari kemudian
Partai Sosialis Jerman mencanangkan Manifesto, yang mendesak agar pemerintah
Jerman tidak perlu ikut-ikutan dalam perang yang mengerikan" tersebut.
Partai Sosialis Jerman juga menggelar rapat-rapat akbar untuk perdamaian, yang
dihadiri jutaan kaum buruh. Pada hari di mana Jerman mengumumkan perang
terhadap Rusia … Herman Muellle yang telah menjanjikan bahwa partainya sama
sekali tidak akan mentokong peperangan, di kirim ke
Paris
. Sehari sebelumnya Jean James pimpinan
sosialis Perancis terbunuh oleh seorang nasionalis fanatik
Di tengah hawa patriotik untuk membela tanah air
yang menjalar ke seluruh penjuru negeri, pimpinan-pimpinan partai sosialis
demokrasi nampaknya terlalu optimis … bahwa aksi-aksi dan tekanan yang mereka
berikan, akan dapat memaksa pemerintah-pemerintah untuk menunda rencana perang
mereka. Sejarah menunjukan bahwa sungguhpun aksi-aksi demonstrasi massal
mendapatkan perhatian juga dari pemerintahan negeri-negeri imprealis ; namun
kepentingan yang lebih besar di antara kekuatan-kekuatan imprealsi (untuk
memperluas cakupan kekuasaannya), membuat mereka tidak kuasa menahan diri.
Setelah gagal untuk mencegah meletusnya
peperangan di anttara kekuatan-kekuatan imprealis; Kantor pusat dan
anggota-anggota Internasional kedua kemudian menimbang-nimbang momnen dan cara
yang paling tepat untuk mengemban tugas kedua yang di tetapkan oleh Resolusi
Stuttgart: " Bila peperangan tersebut nampaknya tidak dapat di cegah
dengan cara apapun juga… maka, dalam rangka untuk mendorong terjadinya percepatan…
memanfaatkan krisis ekonomi dan politik (yang diciptakan oleh peperangan) untuk
membangkitkan massa rakyat, agar mamacu kejatuhan kekuasaan klas
kapitalis".
Inilah saat yang genting bagi persaudaraan
internasionalisme klas proletar untuk menguji dirinya sendiri. Menguji
kapasitas anggota-anggota dan partai-partai yang tergabung di dalamnya, untuk
mengatasi tekanan-tekanan kaum bojuis. Pada titik inilah kaum revolusionis
sejati akan dapat di bedakan dengan kaum peng-ekor/pem-bebek, yang dapat dengan
segera mengubah-ngubah prinsipnya sendiri. Seperti halnya dewasa ini
–peperangan dan revolusi menyediakan batu penjuru– yang dapat membedakan kaum
Marxis sejati.
Namun kesatuan dan kebulatan tekad yang di
pertunjukan oleh kaum sosialis dari berbagai negeri untuk mencegah meletusnya
perang ; di kacaukan oleh seruan-seruan untuk segera melakukan mobilisasi
(wajib militer). Seruan-seruan wajib militer dengan dalih menyelematkan
"tanah air tercinta" ternyata di sambut oleh mayoritas
massa
. Sedemikian rupa
sehingga begitu memukul solidaritas sosial Internasional.
Peperangan ternyata memecah Imternasional menjadi
tiga pengelompokan yang berbeda ; Kaum sayap kanan, kaum tengah, kaum kiri.
Kecendrungan-kecendrungan yang telah menjalar dalam periode -periode sebelumnya,
ternyata semakin di percepat akibat peperangan. Dalam manifesto pertamanya yang
di keluarkan pada bulan nopember 1914, kaum Bolshevik menuding para penganjur
nasionalsime (dengan dalih-dal;ih "patriotoknya") , hanya sekedar
mencari-cari alibi … bagi jalur oportunis yang telah mereka tempuh dan
khotbahkan selama tahun-tahun terakhir ini.
"Mereka mengatakan bahwa keruntuhan
Internasional Kedua –adalah keruntuhan yang telah di picu oleh oportunisme–
yang tumbuh dengan subur selama periode sejarah (yang di sebut sebagai
"masa terang dan tanpa gejolak") … masa-masa yang kini telah lewat ;
namun selama tahun-tahun terakhir ini, praktis telah mendominasi Internasional
Kedua. Kaum oportunis memang telah lama mempersipkan landasan bagi keruntuhan
ini; dengan menolak revolusi sosialis dan menggantikannya dengan reformasi
borjuis. Dengan menentang perjuangan klas (yang pada titik tertentu secara tak
terjhindarkan akan berubah menjadi perang saudara) … dan dengan menganjurkan
kolaborasi klas, maupun dengan meyerukan nasionalisme borjuis (dengan
topang/selubung ‘patriotisme’ untuk membela tanah air)… Atau dengan menolak
kebenaran fundamental atas sosialisme ( yang telah sekian lama termaktubkan
dalam Manifesto Komunis) ; " Bahwa kaum buruh tidak memiliki tanah air".
Denagan membatasi diri mereka pada cara pandang orang-orang murtad, dan bukanya
menyadari keharusan untuk mengemban perang revolusiner yang sesungguhnya bagi
kaum buruh sedunia, dengan melawan borjuasoi di seluruh permukaan bumi ini…
Akhirnya juga dengan terlalu mendewa-dewakan penggunaan parlementarisme borjuis
… sedemikian rupa sehingga melupakan bahwa bentuki-bentuk ilegal dari
organisasi dan propaganda adalah sebuah keharusan, di masa-masa krisis".
(Lenin, Karya-Karya Terkoleksi Lanin, Volume 21, halaman 32).
Tidaklah mengherankan bahwa mayoritas partai dan
pimpinan-pimpinannya kemudian membuat manuver ‘banting setir, peperangan yang
telah mereka nyatakan pada bulan juli sebagai "agresi antar
kekuatan-kekuatan imprealis ". Tidak sampai satu bulan kemudian pada bulan
Agustus, mereka menjilat ludah mereka sendiri, dengan mencanangkan perang
sebagai upaya pembelaan bangsa secara umum.
Partai sosial demokrasi Jerman menyerukan
"pembelaan bangsa" dalam menghadapi Rusia. Seturut sikap partai,
anggota-anggota sosialis demokrasi di parlemen (reichstag), memberikan suara
mereka untuk mendukung pernyataan perang negeri Jerman pada tanggal 4 Agustus
1914. Baru saja pada malam sebelumnya tanggal 3 agustus pada rapat fraksi di
parlemen di adakan pemungutan suara. Dan hasilnya adalah 14 banding 110. Hanya
sekali suara yang menentang posisi partai untuk menolak dukungan terhadap
perang. Termasuk di antaranya adalah Haase, pimpinan kaum tengah dan Liebknecht
pimpinan kaum sayap kiri. Betapapun sehari kemudian pada pertemuan 4 agustus di
Reichstag, Haase mewnyampaikan pernyataan yang sama sekali bertolak belakang.
Haase menggambarkan perang sebagai sebuah "fakta suram yang tak bisa
dielakkan" dan dengan demikian "menolak untuk meninggalkan tanah air
dalam ancaman mara bahaya dan teror yang di akibatkan negeri Belgia, yang saat
itu sedang di serang dan hampir di duduki oleh Jerman.
Di Belgia sendiri kaum sosialis dan
pimpinan-pimpinan serikat buruhg berhimpundan meyatakan dukungan mereka pada
raja Albert. Bahkan Vandervelde sendiri, kepala kantor Pusat Sosialis
Internasional, menyatakan kesediaannya menjadi menteri dalam kabinet perang
raja Albert!. Di Perancis bukan saja kaum sosialis, bahkan kaum sindikalis
(yang secara teoritis menolak segala bentuk pemerintahan) kali ini bangkit
mendukung pemerintah Perancis. Rupanya sebuah "serikat suci" yang
meliputi segenap kelompok maupun partai untuk membela "la patrie "
(tanah air) telah di kumandangkan.
Di Inggris pada tanggfal 1 sampai dengan 2
Agustus 1914 memang di selenggarakan rapat-rapat akbar uyntuk
"menghentikan peperangan" , yang di prakarsai oleh kaum sosialis dan
partai Buruh. Namun hanya beberapa hari kemudian Partai Buruh dan Kongres
Serikat-serikat Buruh memberikan dukungan penuihnya kepada pemerintahan perang.
Memang masih ada juga kecendrungan pasifis (yang pasif /menolak segala bentuk
kekerasan) yang di kampanyekan oleh Ramsay Mac Donald ( yang keluar dari
jabatannya sebagai ketua Partai Buruh), ataupun juga oleh Partai Buruh
Independen … bersama-sama dengan kelompok-kelompokj kecil kaum sosialis, yang
meneruskan upaya-upaya penentangan perang. Namun jumlahnya memang sedikit.
Hal-hal yang sama juga terjadi di
Austria
dan Hungaria.
Dengan cara seperti inilah partai-partai yang
tadinya sangat berbobot tersebut jatuh ke dalam oportunisme (lewat dalih
patriotisme) . Melepaskan prinsip perjuangan klas demi pembelaan tanah air dan
persatuan nasional. Tunduk pada para penguasa/ tuan-tuan kapitalis dan
menghianati sosialisme. Tindakan-tindakan yang memalukan ini manandai keruntuhan
internasional kedua, tidak hanya secara organisasional (karena pengaturan dalam
peperangan melarang berfungsinya Kantor pusat sosialis Internasional )namun
terutama pada urusan-urusan politik yang menentukan (decisive polical sense) .
Dengan demikian internasional kedua talah lalai menjalankan tugas-tugas (yang
telah di perjanjikannya pada trahun 1912), yang harus di pertanggungjawabjkan
oleh para pemimpinya di hadapan klas proletar. Penghianatan yang oprtunistik
atas sosialisme sedemikian menodai dan mendiskreditakan Internasional kedua,
sehingga citra dan kekuatannya tidak pernah bisa di pulihkan lagi (seperti masa
sebelum perang).
Sikap yang selalu berubah-rubah dari
pimpinan-pimpinan kaum tangah sepereti Haase dan Kautsky mewngenai persoalan
perang, ada;lah sebuah ciri yang manandai watak mereka yang tidak teguh
(sepanjang karir politik mereka) . Lewmnin menggambarjkan kaum tengah sebagai
orang-orang yang di bimbangkan oleh pilihan untuk menjadi chauvinis -sosial
atau atau internasional sejati. Pada bulan April 1917 Lenin menuliskan:
"Kaum ‘tengah’ senantiasa bersumpah dan mengikrarkan bahwa bahwa diri
mereka adalah marxis dan internasionalis sejati, bahwa mereka selalu cinta
damai dan tak ragu-ragu untuk melakukan segala ‘tekanan’ terhadap pemerintah…
Lewat ‘tuntutan-tuntutan mereka ‘ agar pemerintah’memastikan kelangsungan
perdamaian yang di kehendaki rakyat’. Bahwa dalam kecintaan mereka terhadap
perdamaian mereka menentang segala bentuk aneksasi (pencaplokan wilayah/negeri
tertentu) , dan seterusnya, dan seterusnya, dan seterusnya… singkatnya kaum
tengah senantiasa berorienbtasi pada persatuan, kaum tengah senantiasa
menentang segala pertengkaran dan perpecahan…"
" Inti dari persoalannya adalah bahwa kaum tengah tidak yakin pada
keharusan jalan revolusioner dengan sepenuh hati , tidak pernah juga
menyeruhkan revolusi dengan sungguh-sungguh. Sehingga dalam rangka mengelakkan
tanggung jawab tersebut mereka berlindung di balik jargon-jargon ultra kiri
yang sudah usang".
"Kaum ‘tengah’ terdiri dari orang-orang yang terjangkit penyangkit
legalis, sangat menyandarkan diri pada kecendrungan-kecendrungan
parlementarian. Orang-orang yang sudah mulai terbiasa dengan tugas dan
posisi-posisi yang ‘empuk ‘. Secara ekonomi dan historis, mereka bukanlah
orang-orang yang terpisah/tersendiri dari gerakan klas buruh. Namun dalam
proses transisi dari tahapan yang sudah lampau (tahapan antara tahun 1871s/d
1914) ke tahapan yang baru, mereka hanya ‘mandeg’ atau jalan di tempat
sajaSebagaimana yang kita ketahui, dalam tahapan antara tahun 1971-1914, adalah
momen ketika pergerakan masih dalam tahap merangkak; tumbuh dan bertahan dalam
kerja-kerja organisasional yang masih seadanya. Namun dengan pecahnya
pertarungan antara kekuatan imperealis dalam perang dunia pertama … sampailah
kita pada tahapan baru, yang seharusnya merupakan pintu gerbang bagi era
revolusi sosial (Karya-Karya Terkoleksi Lenin, Volume 24, halaman 76-77).
Namun betapapun perlu di catat bahwa tidak semua
partai sosialis mendukung peperangan, dengan mengabaikan amanat yang di serukan
oleh resolusi
Basle
.
Ada
dua pengecualian yang mencolok di Eropa.
Di Rusia, perwakilan-perwakilan sosial demokratik, yakni kaum Bolshevik dan
Menshevik keduanya menolak peperangan. Di Serbia, invasi(penyerbuan)
Austria
dan
Hungaria, membuat sukarnya menolak teori pembelaan diri. Namun orang-orang
Sosial Demokrat
Serbia
(tidak seperti rekan-rekannya di Perancis dan Belgia), merekaa dengan tegas
menolak segala dukungan terhadap rejim borjuasi. Mereka bersikukuh dengan
menegaskan bahwa invasi (penyerbuan) Perancis dan Belgia, tidaklah cukup untuk
di jadikan alasan yang sah untuk meninggalkan prinsip-prinsip kaum sosialis.
Dalam pada itu, Lenin menggambarkan
Internasionalisme sejati sebagai berikut:
Watak imternasionalisme di cirikan dengan penolakan total atas kecendrungan
chauvinis-sosial ataupun sentrisme (yang di anut kaum tengah). Juga perjuangan
revolusioner yang tak gentar melawan pemerintahan imprealis ataupun imprealis
borjuasi negerinya sendiri. Prinsipnya adalah ‘lawan kita yang utama
sesungguhnya ada di rumah kita sendiri’.
Para
internasionalis sejati mengemban perlawanan yang keras terhadap
ungkapan-ungkapan manis kaum pasifis sosial (kaum pasifis sosial adalah seorang
’sosialis di mulut’ namun seorang pasifis borjuis dalam perbuatan; mereka
adalah orang-orang yang memimpikan penciptaan perdamaian tanpa
penyingkiran/penghapusan dominasi kapital). Mereka — sekali lagi– adalah
orang-orang yang menentang segala dalih yang di kemukakan opleh orang-orang
oportunis… dengan segala alasan-alasannya, berkilah bahwa penbcanangan revolusi
sosialis proletarian, pada saat peperangan tersebut adalah tidak tepat, karena
saatnya belum tiba, ataupun untuk singkatnya mereka mengeluarkan kesimpulan
sepihak bahwa revolusi tidak dapat di lancarkan pada masa-masa perang (lihat
Karya-Karya Terkoleksi, Lenin, Halaman 77-78).
Lenin menunjuk Karl Liebknecht sebagai contoh,
yang di penjarakan oleh pemerintah. Karena dari tribun parlemen, secara terbuka
menyerukan kepada kaum buruh maupun prajurit prajurit– sebagai representasi
arus revolusioner yang sedang melanda Jerman– untuk berbalik; dan mengartahkan
moncong senjatanya kepada pemerintah mereka sendiri. Lenin menambahkan
(sambilmengutip kata-kata tajam Rosa Luxemburg) Bahwa kaum sosial demokrasi yang
selebihnya … tidak lain dari pada ‘mayat-mayat kaku yang menjijikan’ (sementara
Liebknecht sebagai anggota sekaligus pimpinan "kelompok separatis").
Kaum internasionalis yang paling konsisten dan
berpandangan paling jauh ke depan adalah kaum Bolshevik yang di pimpinoelh
Lenin. Namun anggota-anggota Bolshevik yang di buru-buru dan yang banyak berada
di pengasingan menghadapi kesukaran/kendala dan tekanan-tekanan selama krisis
peperangan ini. Komite Organisasi Luar Negeri (yang berfungsi sebagai kantor pusat
perwakilan Bolshevik di luar Rusia), bermarkas di Paris. Komite inipun ternyata
pecah. Dua anggota komite mendaftarkan diri sebagai anggota tentara Perancis,
sementara selebuhnya mengundurkan diri. Jaringan yang seharusnya terjalin
antara Komite Sentral Bolshevik di Rusia ; antara lain –Zinoviev–
anggota-anggota kantor Komite Sentral di luar negeri terputus.
Ketika Lenin dan Zinoviev berangkat dari
Galicia
ke
Swiss pada permulaan perang. Mereka mengangkut semua yang masih tertinggal di
sekretariat Komite Sentral Bolshevik di luar negeri.
Lenin bekerja keras untuk membangun kembali,
menghidupkan lagi Sosial Demokrat (baca organ sentral Partai). Juga memperbarui
kontak, jaringan-jaringan, seksi-seksi Bolshevik yang tercerai berai;
mengupayakan penyelundupan literatur-literatur partai ke dalam Rusia dan
menyerap informasi perkembangan terakhir di Rusia. Di atas segalanya, Lenin tak
jemu-jemunya melancarkan polemik — melawan kaum nasionalis/’patriotis’ maupun
kaum tengah — tidak hanya di Rusia, tapi juga poada tingkatan internasional.
Secara khusus Lenin memacu kebijakan Bolshevik, agar menolak keikutsertaan
dalam perang.
Berikut ini adalah butir-butir pokok dari program
yang di kedepankan oleh Lenin, pada bulan Oktober 1914 (dalam tulisannya,
tentang perang dan sosial demokrasi di Rusia).
1. Peperangan pada hakikatnya adalah beradunya kekuatan imprealis dalam tapal
batas masing-masing (batlefronts). Pertahanan/pembelaan tanah air tidak
memiliki relevansi dalam agresi yang saling bertarung tersebut di atas.
2. "Adalah kewajiban dari segenap proletariat yang berkesadaran klas,
untuk membela dfan mempertahankan solidaritas klasnya, juga untuk membela
semangat internasionalisme, maup[un ketegaran sosialisnya… melawan chauvinime
yang tak terkendalikan dari klik-klik ‘Patriotik’ Borjuis di seluruh dunia.
Bila kaum buruh yang berkesadaran klas pada akhirnya ‘angkat tangan’ dari
kewajiban ini… maka ini berarti bahwa mereka telah mencampakan aspirasi bagi
demokrasi dan kebebasan; singkatnya mencampakan aspirasi sosialis diri mereka
sendiri" (Karya-Karya Terkoleksi Lenin, Volume 21, Halaman 29).
3. Kaum oporutnis telah menghianati prinsip-prinsip sosialisme. Untuk itu
perlawanan tanpa akhir harus di tujukan kepada mereka. Kaum oportunis tersebut
adalah ‘penghianat-penghianat keji yang paling membahayakan’. Kami memandang
tidak ada lagi penyatuan ataupun perdamaian dengan mereka; sebagaimana yang di
usulkan oleh kaum tengah.
4. Internasional yang lama( baca;internasional kedua)telahg gugur. Dan kita
hanya perlu melakukan up[acara penguburan sekedarnya. Yang terpenting adalah,
kita harusa belajar dari sebab-sebab keruntuhannya, dan segera bangkit untuk
meletakkan pondasi/syarat-syaratbagi kelahiran internasional yang baru.
5. Musuh utama kita sesungguhnya ada di dalam rumah kita sendiri (baca; didalam
negeri). Tugas mendesak dan strtegis bagi kita sesungguhnya adalah, untuk
mengembalikan perang imprealis … menjadui perang kaum buruh bagi penggulingan
yang revolusioner atas kapitalisme. Satu-satunya jalan bagi sosialisme dan
perdamaian sejati adalah justru lewat akasi
massa
yang revolusioner.
Sungguhpun kemudian, Trotsky tidak lagi menjadi anggota Bolshevik, namun ia
tetap menerima cara pandang di atas. Trotsky masih harus mengatasi sisa-sisa
kecendrungan untuk ‘rujukan’ atau ‘berbaik-baikan’ kembali dengan kaum tengah
Rusia, maupun untuk memformulasikan posisinya setegas dan stajam Lenin.
Betapapun, ia memiliki cara pandang internasionalis dan masih berpegang
kepadanya.
Dalam otobiografinya, Trotsky mengingat
pemungutan suara pada tanggal 14 Agustus 1914, sebagai berikut: "Hari itu
membekaskan salah satu kenangan yang paling tragis dalam hidupku" (Aku
kira Lenin juga mengalami hal yang sama). Kemudian pada 9 agustus 1914 Trotsky
kembali menulis di buku hariannya, "Jelaslah sudah bahwa persoalan yang
menimpa kita di sini, bukanlah sekedar kekeliruan atau kesalahan akibat
tindakan beberapa kaum oportunis … bukannya sekedar statemen (pernayataan) yang
keliru dalam tribun di parlemen, ataupun sekedar pemungutan suara bagi penetapan
anggaran belanja partai Sosial Demokrasi. Bukan pula di karenakan terobosan
yang coba-coba di lakukan dengan militerisme Prancis, di mana beberapa pimpinan
membelot menjadi petualang… Tidak. Persoalannya adalah tentang keruntuhan
internasional, pada saat di mana tanggung jawab yang sepenuh-penuhnya justru
sangat di butuhkan. Saat-saat ini di mana keseluruhan kerja-kerja terdahulu
kita, masuk dalam persiapan " (dikutip dari Trotsky, My Life/Kehidupanku,
halaman 238).
"Pada tanggal 11 Agustus 1914, "tulis Trotsky,
"Aku manyatakan hal ini: ‘hanya kebangkitan pergerakan yang berbobot
setara dengan kondisi awal peperangan … yang akan memberikan syarat-syarat bagi
penegakkan internasional yang baru. Tahun-tahun ke muka akan menjadi saksi bagi
periode revolusi sosial" ( lihat, Kehidupanku)
Sementara kegagalan internasional telah di
ketahui secara um,um oleh perwakilan-perwakilan dari arus/kecendrungan yang
berbeda-beda tersebut tidak mempunyai kesepakatan tentang apa yang seharusnya
mereka kerjakan. Kaum oportunis berkayikanan bahwa — setelah peperangan usai,
dan tanah air merka menang perang– maka internasional akan kembali memutar
roda kegiatannya. Sungguhpun konstalasi seluruh dunia telah tergeser, bahkan
mengalami perubahan yang sangat besar akibat guncangan peperangan … dalam sudut
pandang mereka, tidak ada hal-hal pokok yang benar-benar berubah; dan mereka
sendiri siap untuk kembali ke cara-cara maupun sarana-sarana yang lama, ketika
perdamaian sudah pulih.
Kaum tengah yang menyesuaikan diri dengan kaum
oportunis, berusaha untuk menutup-nutupi keruntuhan internasional. Mereka
bimbang, dan menolak untuk memutuskan hubungan sama sekali dengan kaum
‘patriot’ (nasionalis). Mereka terilusi dengan kemungkinan untuk membenahi
internasional yang lama; dan tidak bersedia menanggung konsekuensi untuk
membangun internasional dengan pondasi/landasan yang sama sekali baru.
Dalam berkilah tentang kegagalan internasional,
Kautsky kemudian berdalih bahwa, " Internasional adalah alat/instrumen
bagi perdamaian, dan bukannya bagi peperangan". Stalin menyatakan hal yang
sama ketika ia mencampakan komintern pada tahun 1943. Bagi Marxis sejati –
betapapun– internasional paling di perlukan keterlibatannya, bukan pada
periode tenang dan tanpa gejolak … justru pada periode ketika antagonisme
sosial maupun nasional mencapai titik puncaknya, justru ketika perang saidara,
atau ketika kekuatan-kekuatan imprealis atau kolonial saling berperang.
Atau andil mereka yang brengsek, kaum
internasionalis sejati tentulah menuntut kaum oportunis dengan kebijakan
‘patriotik’ — nasionalnya; yang mengakibatkan keruntuhan internasional kedua.
Kaum internasionalis sejati tak akan berkompromi dalam program maupun
organisasi dengan agen-agen busuk borjuasi tersebut.
Sewlama tahun-tahun pertama peperangan, tiga
pengelompokan tersebut (kiri, tengah, kanan) melakukan upaya-upaya untuk
menyatukan bagian-bagian yang memisahkan diri dari sosial demokrasi (terutama
sehiubungan dengan cara pandang dan posisi mereka secara umum) . Partai-partai
sosialis Italia, Swiss, dan Amerika yang mewakili negeri-negeri netral …
mnereka berusaha untuk menyerukan sebuah konfrensi bersama, tanpa hasil.
Pertemuan kelompok-kelompok skandinavia pada januari 1915 untuk meraih titik
temu juga berakhir sia-sia.
Konfrensi perempuan sosialis yang di adakan pada
tanggal 26s/d 28 maaret 1915 di Berne, Swiss ; adalah konfreensi internasional
kaum sosialis pertama, yang berhasio di selenggarakan setelah pecahnya perang.
Kaum perempuan Bolshevik Rusia, bekerja sama dengan Clara Zetkin (Seorang pimpinan
sosial demokrasi Jerman) mengambil inisiatif untuk menyelenggarkan konfrensi
tersebut. Dalam konfrensi tersebut terjadi dua kubu perdebatan besar .
mayoritas suara — di sponsori oleh Zetkin– mengutuk peperangan sebagai ajang
kekuatan-kekuatan imprealis, dan menyerukan agar kaum buruh ‘memperjuangkan
perdamaian’. Akan tetapi tidakj ada kesimpulan final yang terakhir dari kubu
ini. Sementara minoritas di kedepankan oleh kaum Bolshevik… yang menekankan
bahwa mayoritas partai sosialis "telah menjadi penghianatdengan
menggantikan sosialisme dengan nasionalisme". Sehingga mereka menyerukan
agar kaum buruh berjuang untuk menumbangkan kapitalisme, dan menegakkan
perdamaian lewat sosialisme.
Konfrensi anti perang kaum sosialis yang penting
lagi adalah yang di selenggarakan pada bulan spetember 1915 di
zimmerwald,Swiss. Konfrensi ini di hadiri oleh 42 delegasi, Trotsky termasuk di
antaranya. Berikut ini adalah cuploikan tentang konfrensi tersebut:
Hari-hari penyelengaraan konfrensi tersebut yakni antara tanggal 5 s/d 8
September 1915, begitu dipenuhi dengan perdebatan yang keras. Lenin — mewakili
sayap revolusioner– menghadapi sayap pasifis. (yang merupakan mayoritas dalam
delegasi) … masing-masing pihak memaklumi kesulitan untuk menghasilkan
manifesto bersama (yang rancangannya aku buat). Akhirnya redaksional manifesto
yang di hasilkan ternyata jauh dari yang di harapkan oleh masing-masing pihak.
Namuyn, betapapun itu adalah satu langkah maju ke muka. Dalam konfrensi itu
Lenin berada di pihak kiri jauh. Ia berada di posisi yang minoritas dalam
banyak perdebatan di kongres. Bahkan Lenin sendiri tidak mendapatkan dukungan
mayirotas, di dalam sayap kiri tuan rumah/penyelenggara kongres (baca: kaum
kiri di Zimmerwald, Swiss) . Aku sendiri, –walaupun secara formal tidak gabung
dengannya — namun punya banyak kesamaan dalam persoalan-persoalan pokok.
Betapapun harus dicamkan bahwa di konfrensi inilah, Lenin memperkuat
‘kuda-kuda’ bagi kebangkitan kembali Internasional di masa yang akan datang. Di
sebuah dusun pegunungan Swiss, ia meletakkan batu penjuru bagi Internasional
yang revolusioner (Trotsky, Kehidupanku, Halaman 249-250).
Konfrensi berikutnya yang masih membahas
persoalan yang sama, di selenggarakan pada bulan April tahun berikutnya (1916)
; di
kota
Kienthal, masih di Swiss, konfrensi tersebut menetapkan resolusi yang mengancam
pasifisme dan sepak terjang kantor Pusat Sosialis Internasional. Konfrensi
mencatat satu langkah maju berkenaan dengan pematokan/ garis batas yang tegas
antara arus/kecendrungan yang berbeda-beda perihal persoalan peperangan.
Perjuangan idiologi dan politik yang di emban oleh Lenin, trotsky dan Luxemburg
maupun kawan-kawan sejawatnya, tercatat memiliki makna historis yang penting.
Dalam tahun-tahun pertama perdebatan, mereka nampaknyaterdesak, terisolasi
tanpa harapan …menggerutu dan mengecam di pojok forum … menyayangkan perihgal
alur perklembangan ataupun rangkaian perjalanan yang di pilih/ di tempuh oleh
sebagian terbesar orang-orang di muka bumi.
Betapapun mereka bertahan dengan tegar atas
gagasan-gagasan yang mereka perjuangkan. Mereka juga optimis dengan kapasitas
daya-penyembuhan-diri yang di miliki oleh kekuatan-kekuatan anti kapitalis;
maupun dengan prospek atas revolusi sosial. Kekuatan mereka yang teguh, berasal
dari wawasan teoritik perihal arah perkembangan kapitalisme, yang telah di
sediakan oleh Marxisme. Dan juga dari pengalaman praktek mereka, dalam
bergabung dengan kekuatan dan kapasitas perlawanan proletariat..yang
disingkapkan (walaupun hanya sebentar) dalam revolusi 1905 dan pertarungan klas
lainnya.
Semangat mereka di cerminbkan dengan sangat
mengesankan dalam penutupan buku Trotsky yang berjudul Perihal Perang dan
Internasionale (The War and The Interntional);
Kalaupun peperangan ternyata berkembang sedemikian rupa melampaui jangkauan
yang dapat di kontrol oleh internasional kedua … maka konsekuensi
langsungnyapun akan berbalik menghantam ; di luar kemampuan kontrol kaum
borjuis di seluruh dunia. Kami kaum sosialis yang revolusioner tidak
menghendaki peperangan, namun kami tidak jeri atau gentar atasnya. Kami tidak
menyerah dan berputus asah aytas fakta keruntuhan internasional ( kedua ).
Sejarah telah senantiasa meletakkannya kembali, pada posisi sebenarnya. Era
revolusioner akan menumbuhkan kembali benih-benih berupa bentuk-bentuk baru
organisasi, yang bermunculan dari "sumber-sumber mata air" yang tak
pernah kering dari sosialisme proletariat. Bentuk-bentuk baru perjuangan akan
setara dengan tugas-tugas baru yang tidak kalah besarnya, kami akan tetap menjaga
kejernihan pikiran dan orientasi yang tak terpadamkan. Kami merasakan betul
kekuatan-kekuatan kreatif hasir bersama kami, memberikan panduan bagi masa
depan. Sudah hadir bersama-sama kami, bahkan lebih banyak dari yang nampak di
permukaan. Esok akan menunjukan, bahwa kita lebih besar dari hari ini. Dan esok
lusa, jutaan kawan akan bangkit, tegak bersama di bawah panji-panji kita.
Jutaan kawan buruh — bahkan setelah 67 tahun sejak kelahiran manifesto komunis
– akan bangkit berjuang. Seberat apapun tekanan yang akan menimpa … Mereka
tidak akan kehilangan apa-apa, selain mata rantai yang membelenggunya (Trotsky,
Perihal Perang dan Internasional, Halaman 76-77).
Terdorong oleh gagasan-gagasan ini, kaum sosialis
revolusioner memanggul ke muka, perjuangan bagi internasionalisme, dari tahun
1914 s/d 1917. Sejarah memulihkan kembali keharuman nama baik mereka, dalam
Revolusi Oktober 1917. Kejayaan inilah yang menghantarkan syarat-syarat bagi
penegakkan kembali Internasional Ketiga.
* * *
This entry was posted on Monday, February 19th, 2007 at 12:57 pm and is filed under Uncategorized. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.
----------------------------------
Tuesday, October 27, 2009
Subscribe to:
Posts (Atom)