Monday, November 2, 2009

Berpikir Dialektis

BERPIKIR DIALEKTIS SEBAGAI ALAT UNTUK MENCAPAI KESADARAN KRITIS SEJATI

Manusia mempunyai “akal budi” yang membedakannya dengan makhluk hidup yang lainnya. Sebagai manusia mempunyai kemampuan untuk berpikir dan mengalami dunia sebagai realita objektif. Serta mampu menjakau hari kemarin, mengenal hari ini, dan menemukan hari esok. Karena manusia memiliki akal budi maka manusia tidak terbatas pada suasana alami (biologis) melainkan berperan dalam dimensi kreatif., dan memasuki sebuah realitas dan memiliki kemampuan untuk mengubahnya. Berbeda dengan binatang yang hanya memiliki insting atau nafsu yang hanya mampu beradaptasi,tetapi manusia dengan akal pikirannya mampu berintergrasi dengan lingkungannya. Dalam hal ini kita harus membedakan antara “Adpatasi” dengan “Integrasi”.

Integrasi adalah khas aktifitas manusia, integrasi muncul dari kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan realitas ditambah kemampuan untuk membuat pilihan dan mengubah realitas. Sedangkan Adaptasi merukan kekhasan binatang yang hanya mengandalkan insting dan hanya mampu untuk menyesuaikan diri demgan lingkungannya tanpa mempunyai kemampuan untuk mengenal lingkungannya dan kemampuan untuk mengubah realitas yang ada. Maka manusia utuh adalah manusia sebagai subjek. Sebaliknya manusia yang hanya beraptasi adalah manusia sebagai objek. Dan dikala manusia sebagai objek ketika itu juga manusia memperlihatkan gejala Dehumanisasi.

Selain hal diatas manusia juga memainkan peranan yang menentukan dalam proses perjalan sejarahnya melalui pengamatan secara kritis terhadap tema-tema zamannya,dan jika manusia tidak memiliki kemampuan melihat secara kritis tema-tema zamannya dengan demikian manusia tidak bisa secara aktif menangani realitas, mereka akan terbawa hanyut oleh arus perubahan itu tanpa mampu berbuat apa-apa serta tidak memahami arti dari dari perubahan yang sedang berlangsung.

Memahmi kodrat manusia diatas maka sebagai manusia harus mengembangkan keragka berpikir kritis demi terwujudnya manusia-manusia yang memiliki kesadaran kritis sejati yang berperan sebagai subjek dalam realitas dunia. Menurut Prof.Dr. Paulo Freire Gulo salah seorang tokoh pendidikan dunia, mengklasifikasikan tingkat kesadaran manusia sebagai berikut :

1. Kesadaran Semi Intrasitif ,kesadaran yang berlaku pada masyarakat yang menerima begitu saja penjelasan-penjelasan yang bersifat magis karena tidak mampu memahami hubungan sebab akibat yang sesungguhnya, tidak logis dan anti dialog.
2. Kesadaran Transitif-Naif , tingkat kesadran manusia yang masih menjadi bagian dari massa, dimana perkembangan kemampuan berdialog masih rapuh dan mudah diselewengkan, yang ditandai dengan penyederhanaan masalah secara berlebihan, dengan nostalgia terhadap masa lalu, dengan meremehkan manusia,kecenderungan yang kuat berkumpul asal berkumpul dengan tidak adanya minat untuk menyelidiki. Sebaliknya terdapat minat besar untuk keterangan yang ganjil, dengan kerapuhan beragumentasi, sikap emosional yang kuat, dan bekunya dialog dengan keterangan-keterangan yang bersifat magis.
3. Kesadaran Transitif , kemampuan untuk menangkap dan menanggapi masalah-masalah yang berasal dari lingkungan mereka dan mengembangkan kemampuan berdialog tidak hanya dengan sesama tetapi juga dengan dunia.
4. Kesadaran Transitif Kritis , kematangan menafsirkan masalah dengan menggunakan prinsip-prinsip sebab akibat dengan argumentasi yang kuat dan lebih mempraktekannya.
5. Kesadaran Kritis Sejati , mempunyai kemampuan untuk memilih dan menciptakan posisinya sendiri dengan mengadakan campur tangan dan integrasi dengan lingkungannya.
Pada masa manusia memiliki kesadaran kritis sejati, selain mempunyai kemampuan untuk menentukan posisinya manusia juga mempunyai kemampuan untuk mengevaluasi serta merefleksikan aksi yang telah dilakukannya dalam mengadakan campur tangan dan integrasi dengan lingkungannya.

No comments:

Post a Comment