Sosialisme: Utopis dan Ilmiah
Engels (1880)
________________________________________
Bab II
Dialektika
Dalam pada itu, bersama dengan dan sesudah filsafat Perancis abad ke-18 telah muncul filsafat Jerman baru, yang memuncak dengan Hegel. Jasanya yang terbesar ialah diangkatnya kembali dialektika sebagai bentuk tertinggi dari pemikiran. Ahli-ahli filsafat Yunani kuno semuanya dasarnya adalah dialektikus-dialektikus alamiah, dan Aristotel, orang intelek yang paling ensiklopedis di antara mereka, sudah menganalisa bentuk-bentuk yang paling esensiil dari pikiran dialektik. Di pihak lain, filsafat yang lebih baru, meskipun di dalamnya dialektika juga mempunyai eksponen-eksponen (wakil-wakil) yang brilian (misalnya, Descartes dan Spinoza), telah terutama lewat pengaruh Inggris, menjadi semakin tegang-kaku dalam apa yang dinamakan metode berpikir yang metafisik, yang hampir sama sekali menguasai juga orang-orang Perancis abad ke-18, setidak-tidaknya dalam karya khusus filsafat mereka. Di luar filsafat dalam arti yang terbatas, orang-orang Perancis meskipun demikian menghasilkan karya-karya agung tentang dialektika. Kita hanya perlu mengingatkan “Le Neveu de Rameau” (Kemenakan Rameau) dari Diderot dan karya Rousseau “Discours sur l'origine et les fondements de l'inégalité parmi les homes” (Uraian tentang Asal-usul dan Dasar dari Ketidaksamaan di kalangan Manusia). Di sini secara singkat kita tunjukkan watak yang esensiil dari dua cara berpikir ini.
Apabila kita perhatikan dan renungkan Alam pada umumnya, atau sejarah umat manusia atau aktivitet intelektuil kita sendiri, mula-mula kita lihat gambaran dari suatu kekacauan yang tak ada akhirnya dari hubungan-hubungan dan reaksi-reaksi, pergantian-pergantian dan kombinasi-kombinasi, di mana tak ada yang tetap apa, di mana dan sebagaimana telah adanya, tetapi segala-sesuatu bergerak, berubah, menjadi dan melenyap. Oleh karena itu, kita lihat mula-mula gambaran keseluruhannya dengan bagian-bagian individuilnya banyak-sedikitnya masih tinggal di latar belakang; kita lebih memperhatikan gerakan-gerakan, peralihan-peralihan, hubungan-hubungan daripada benda-bendanya yang bergerak, berkombinasi dan berhubungan. Konsepsi dunia yang primitif, naïf, tetapi pada dasarnya tepat ini adalah konsepsi filsafat Yunani kuno, dan pertama kali dirumuskan dengan jelas oleh Heraclitus: segala-sesuatu itu ada dan tiada, karena segala-sesuatu itu mengalir, senantiasa berubah, senantiasa menjadi dan melenyap.
Tetapi konsepsi ini, bagaimanapun juga tepatnya menyatakan watak umum dari gambaran gejala-gejala dalam keseluruhannya, tidaklah cukup untuk menerangkan detail-detail yang membentuk gambaran ini, dan selama kita tidak mengerti detail-detail ini, kita tidak mempunyai gagasan yang jelas tentang gambaran itu seluruhnya. Untuk mengerti tentang detail-detail ini kita harus melepaskannya dari hubungan alam atau hubungan sejarah mereka dan memeriksanya masing-masing ter-sendiri-sendiri, sifatnya, sebab-sebab khusus, akibat-akibatnya, dsb. Ini pertama-tama adalah tugas ilmu alam dan penelitian sejarah: cabang-cabang ilmu yang oleh orang-orang Yunani zaman klasik, atas alasan-alasan yang baik sekali, diturunkan ke kedudukan bawahan, karena mereka pertama-tama harus mengumpulkan bahan-bahan bagi ilmu-ilmu ini untuk dikerjakan. Sejumlah bahan alam dan sejarah tertentu harus dikumpulkan sebelum mungkin ada sesuatu analisa yang kritis, pembandingan dan penyusunan ke dalam golongan-golongan, susunan-susunan dan jenis-jenis. Karena itu, dasar-dasar dari ilmu alam eksak mula-mula dikembangkan oleh orang-orang Yunani pada periode Alexandria[1], dan kemudian, dalam Abad Pertengahan, oleh orang-orang Arab. Ilmu alam yang sejati mulai sejak dari pertengahan kedua abad ke-15, dan sejak itu ia telah maju dengan kecepatan yang senantiasa meningkat. Analisa Alam ke dalam bagian-bagiannya yang khusus, penggrupan proses-proses dan obyek-obyek alam yang berlain-lainan, ke dalam golongan-golongan tertentu, studi tentang anatomi intern dari badan-badan organik dalam bentuk-bentuk mereka yang bermacam-macam-inilah syarat-syarat fundamental bagi langkah-langkah raksasa dalam pengetahuan kita tentang Alam yang telah dibuat selama empat ratus tahun yang lalu. Tetapi cara kerja demikian ini juga telah meninggalkan pada kita sebagai warisan kebiasaan memandang obyek-obyek serta proses-proses alam terpisah-pisah, terasing dari hubungan mereka dengan keseluruhan yang maha besar; memandangnya dalam diam, tidak dalam gerak; sebagai tetap, bukan sebagai yang pada hakekatnya berubah-ubah, dalam kematiannya, bukan dalam kehidupannya. Dan ketika cara memandang hal-ihwal ini dipindahkan oleh Bacon dan Locke dari ilmu alam ke filsafat, ia melahirkan cara berpikir yang metafisik, sempit, yang khas bagi abad yang lalu.
Bagi seorang metafisikus, hal-ihwal dan pencerminan-pencerminan mereka di dalam pikiran, ide-ide, adalah terpisah-pisah, harus dipandang satu demi satu dan terasing satu sama lain, adalah obyek-obyek penyelidikan yang tetap, kaku, yang ditentukan sekali untuk selama-lamanya. Dia berpikir dalam antitese-antitese yang sama sekali tak terdamaikan. “Jalan pikirannya ialah ‘ya, ya; tidak, tidak’; karena apapun juga yang lebih daripada ini datang dari setan”. Baginya suatu hal-ihwal itu ada atau tidak ada, suatu hal-ihwal tidak bisa pada waktu yang sama adalah dia sendiri dan sesuatu yang lain. Positif dan negatif secara mutlak saling mengecualikan; sebab dan akibat berada dalam antitese yang kaku satu sama lain.
Sepintas lalu cara berpikir ini nampaknya bagi kita sangat gemilang, karena itulah yang dinamakan akal sehat. Hanyalah akal sehat, orang terhormatlah dia, di dalam empat tembok dari kerajaan kamar-duduknya sendiri, yang mengalami avontur-avontur yang sangat indah segera dia memberanikan diri memasuki dunia penelitian yang luas. Dan cara berpikir yang metafisik, yang dapat dibenarkan dan perlu seperti halnya dalam sejumlah bidang yang keluasannya berlain-lainan menurut sifat obyek penelitian yang khusus, cepat atau lambat mencapai suatu batas, yang di luar batas ini ia menjadi berat-sebelah, terbatas, abstrak, tenggelam dalam kontradiksi-kontradiksi yang tak terpecahkan. Dalam memandang satu-satu hal-ihwal, ia melupakan hubungan di antara mereka; dalam memandang keadaan mereka, ia lupa akan awal dan akhir dari keadaan itu; dalam memandang diam mereka, ia melupakan gerak mereka. Karena pohon tidak dapat melihat hutan.
Untuk maksud sehari-hari kita tahu dan dapat mengatakan, misalnya, apakah seekor hewan itu hidup atau tidak. Tetapi, setelah diperiksa lebih teliti, kita ketahui bahwa hal ini, dalam banyak hal, adalah suatu masalah yang sangat rumit, sebagaimana diketahui betul oleh para ahli hukum. Mereka telah memeras otak mereka dengan sia-sia untuk menemukan suatu batas rasionil yang di luar batas ini membunuh anak dalam kandungan ibunya merupakan suatu pembunuhan. Persis sama tidak mungkinnya untuk menentukan secara mutlak saat kematian, karena fisiologi membuktikan bahwa kematian bukanlah suatu gejala yang seketika itu juga, yang sekejap mata, melainkan suatu proses yang lama sekali.
Begitu juga, setiap keadaan organik pada setiap saat adalah yang itu juga dan bukan yang itu juga; setiap saat ia mengasimilasi materi yang disediakan dari luar, dan membebaskan diri dari materi lain; setiap saat beberapa sel dari badannya mati dan sel-sel lain membentuk diri lagi; dalam waktu yang lama atau pendek materi dari badannya diperbaharui sama sekali dan diganti oleh molekul-molekul materi lain, sehingga setiap keadaan organik adalah senantiasa dia sendiri dan juga sesuatu yang lain daripada dia sendiri.
Selanjutnya, setelah menyelidiki lebih teliti kita ketahui, bahwa kedua kutub dari suatu antitesis, positif dan negatif, misalnya, adalah sama tak terpisahkannya sebagaimana mereka itu juga saling bertentangan, dan bahwa kendatipun segala pertentangan mereka, mereka saling menyusup. Dan, begitu juga, kita ketahui bahwa sebab dan akibat adalah konsepsi-konsepsi yang hanya berlaku dalam penerapan mereka pada satu-satu hal; tetapi segera sesudah kita perhatikan satu-satu hal itu dalam hubungan umum mereka dengan alam-dunia sebagai keseluruhan, mereka saling bertumbuk, dan mereka menjadi campur-aduk apabila kita pandang aksi dan reaksi yang universal di mana sebab dan akibat secara langgeng bertukar tempat, sehingga apa yang merupakan akibat di sini dan sekarang akan menjadi sebab di sana dan pada waktu itu, dan vice versa (sebaliknya).
Dari proses-proses dan cara-cara berpikir ini tidak ada yang masuk rangka berpikir secara metafisik. Dialektika, sebaliknya, memahami hal-ihwal-hal-ihwal serta gambarannya, ide-ide mereka, dalam hubungan, rangkaian, gerak, awal dan akhir mereka yang hakiki. Karena itu, proses-proses seperti yang tersebut di atas adalah sebegitu banyak pembenaran dari metode prosedurnya sendiri.
Alam adalah bukti dialektika, dan harus dikatakan tentang ilmu modern bahwa ia telah melengkapi bukti ini dengan bahan-bahan yang sangat kaya yang bertambah banyak setiap hari, dan dengan demikian telah menunjukkan bahwa pada tingkatan yang terakhir Alam berlaku secara dialektik dan tidak secara metafisik; bahwa ia tidak bergerak dalam kesatuan abadi dari suatu lingkaran yang berulang terus-menerus, tetapi mengalami evolusi historis yang nyata. Dalam hubungan ini Darwin harus yang pertama-tama disebut sebelum semua lainnya. Dia telah memberikan pukulan yang paling berat kepada konsepsi metafisik tentang Alam dengan pembuktiannya bahwa semua keadaan organik, tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia sendiri, adalah hasil dari suatu proses evolusi yang berlangsung selama jutaan tahun. Tetapi kaum naturalis yang telah belajar berpikir secara dialektik sedikit dan jarang, dan bentrokan antara hasil-hasil penemuan dengan cara berpikir yang sudah berprasangka ini menerangkan kekacauan yang tiada habisnya yang sekarang sedang berkuasa dalam ilmu alam teoritis, keputusasaan baik para guru maupun para siswa, keputusasaan para penulis dan juga pada pembaca.
Karena itu suatu penggambaran yang tepat tentang alam-dunia, tentang evolusinya, tentang perkembangan umat manusia dan tentang pencerminan evolusi ini dalam pikiran manusia, dapat diperoleh hanya dengan metode dialektika dengan perhatiannya tetap pada aksi-aksi dan reaksi-reaksi yang tak terhitung banyaknya dari hidup dan mati, dari perubahan-perubahan yang progresif dan yang mundur. Dan dalam semangat inilah filsafat Jerman yang baru itu telah bekerja. Kant memulai kariernya dengan memecahkan sistem surya yang stabil dari Newton dan kelangsungannya yang abadi, sesudah dorongan permulaan yang terkenal itu sekali diberikan, menjadi hasil dari proses bersejarah, pembentukan matahari dan semua planet dari massa berkabut yang berputar. Dari sini dia bersamaan waktu menarik kesimpulan bahwa, andaikan ini asal sistem surya, kematiannya di masa depan akibat keharusan. Teorinya ini setengah abad kemudian telah dibuktikan secara matematik oleh Laplace, dan setengah abad sesudah itu spektroskop membuktikan adanya dalam ruang angkasa massa gas pijar yang sedemikian itu dalam berbagai tingkatan kondensasi.
Filsafat Jerman baru ini memuncak dengan sistem Hegel. Dalam sistem ini-dan di sinilah jasanya yang besar-untuk pertama kali seluruh dunia, dunia alam, dunia sejarah, dunia intelek, digambarkan sebagai suatu proses, yaitu, sebagai dalam senantiasa gerak, berubah, peralihan, berkembang; dan dilakukan percobaan untuk menyelidiki hubungan intern yang membuat semua gerak dan perkembangan ini suatu keseluruhan yang terus-menerus. Dari titik pandangan ini sejarah umat manusia tidak lagi tampak sebagai olakan liar dari tindakan-tindakan kekerasan yang tolol, yang semua sama-sama terkutuk di meja pengadilan dari akal filsafat yang matang dan yang sebaik-baiknya dilupakan secepat mungkin, tetapi sebagai proses evolusi manusia sendiri. Sekarang adalah tugas intelek untuk mengikuti kemajuan yang berangsur-angsur dari proses ini melalui semua jalannya yang berliku-liku, dan untuk mengusut hukum intern yang menembus semua gejalanya yang nampaknya kebetulan.
Bahwasanya sistem Hegel tidak memecahkan masalah yang dikemukakannya di sini tidaklah penting. Jasanya yang membikin-zaman ialah bahwa ia telah mengajukan masalahnya. Masalah ini adalah masalah yang tak seorangpun akan dapat memecahkannya. Meskipun Hegel-dengan Saint-Simon-merupakan pikiran yang paling ensiklopedis dari zamannya, namun dia adalah terbatas, pertama, karena keluasan pengetahuannya sendiri yang semestinya terbatas dan, kedua, karena keluasan serta kedalaman yang terbatas dari pengetahuan serta konsepsi-konsepsi abadnya. Pada batas-batas ini harus ditambahkan batas yang ketiga. Hegel adalah seorang idealis. Bagi dia pikiran-pikiran di dalam otaknya bukanlah gambar-gambar yang sedikit atau banyak abstrak dari benda-benda dan proses-proses yang sebenarnya, melainkan, sebaliknya, benda-benda dan evolusi mereka hanyalah merupakan gambar-gambar yang direalisasi dari “Ide”, yang ada di sesuatu tempat sejak selama-lamanya sebelum dunia ini ada. Cara berpikir ini telah menjungkirbalikkan segala-sesuatu, dan sama sekali berlawanan dengan hubungan yang sebenarnya dari benda-benda di dunia. Banyak kelompok fakta-fakta khusus dipahami dengan tepat dan cerdik oleh Hegel, namun, karena alasan-alasan yang baru saja diberikan, maka banyak yang dirusak, dibuat-buat, sukar, pendek kata, salah dalam hal detailnya. Sistem Hegel, dengan sendirinya, adalah suatu keguguran yang maha besar-tetapi ia juga merupakan yang terakhir dari yang semacam itu. Ia sebenarnya menderita kontradiksi intern dan yang tak dapat disembuhkan. Di satu pihak, dalilnya yang hakiki ialah konsepsi bahwa sejarah manusia adalah suatu proses evolusi yang, menurut kodratnya sendiri, tidak bisa mendapatkan batas intelektuilnya yang terakhir dengan penemuan sesuatu apa yang disebut kebenaran absolut. Tetapi, di pihak lain, ia menuntut sebagai hakekat dari kebenaran absolut itu sendiri. Sistem pengetahuan alam dan sejarah, yang meliputi segala-galanya, dan definitif untuk selama-lamanya, adalah suatu kontradiksi terhadap hukum fundamentil dari berpikir dialektik. Hukum ini, sesungguhnya, sekali-kali tidak mengecualikan tetapi, sebaliknya, meliputi ide bahwa pengetahuan sistematis tentang alam-dunia luar dapat membuat langkah-langkah raksasa dari abad ke abad.
Persepsi dari kontradiksi fundamentil dalam idealisme Jerman mesti menuju kembali kepada materialisme tetapi, nota bene, bukan kepada materialisme metafisik semata-mata, materialisme mekanis khas dari abad ke-18. Materialisme lama memandang semua sejarah yang telah lalu sebagai tumpukan kasar dari ketidakrasionilan dan kekerasan; materialisme modern melihat padanya proses evolusi umat manusia, dan bertujuan untuk menemukan hukum-hukumnya. Dengan orang-orang Perancis abad ke-18, dan bahkan dengan Hegel, berlaku konsepsi Alam dalam keseluruhannya, yang bergerak dalam lingkaran-lingkaran sempit dan tak berubah-ubah untuk selama-lamanya, dengan benda-bendanya di langit yang abadi, seperti diajarkan oleh Newton, dan dengan jenis-jenis organik yang tak dapat berubah-ubah, sebagaimana diajarkan oleh Linnaeus. Materialisme modern meliputi penemuan-penemuan yang lebih baru dari ilmu alam, yang menurut penemuan-penemuan itu Alam juga mempunyai sejarahnya dalam waktu, benda-benda di langit, seperti jenis-jenis organik yang di bawah syarat-syarat yang menguntungkan mendiami mereka, karena lahir dan musnah. Dan kalaupun Alam, dalam keseluruhannya, masih harus dikatakan bergerak dalam siklus-siklus yang berulang, siklus-siklus itu mengambil ukuran-ukuran yang tak terbatas lebih besarnya. Dalam kedua aspek itu, materialisme modern pada hakekatnya adalah dialektik, dan tidak lagi memerlukan bantuan dari semacam filsafat yang, bagaikan ratu, seolah-olah menguasai timbunan ilmu-ilmu selebihnya. Segera sesudah masing-masing ilmu yang khusus it harus membikin jelas kedudukannya dalam keseluruhan yang besar dari hal-ihwal dan dari pengetahuan kita tentang hal-ihwal itu, maka ilmu khusus mengenai keseluruhan ini adalah mubazir atau tidak perlu. Yang masih ada dari semua filsafat terdahulu ialah ilmu tentang pikiran dan hukum-hukumnya-logika formil dan dialektika. Segala-sesuatu lainnya termasuk dalam ilmu positif tentang Alam dan sejarah.
Akan tetapi, sedang revolusi dalam konsepsi Alam dapat dilakukan hanya jika seimbang dengan bahan-bahan positif yang bersesuaian yang diberikan oleh penelitian, sudah-jauh lebih dulu fakta-fakta sejarah tertentu telah terjadi yang menuju kepada perubahan yang menentukan dalam konsepsi sejarah. Dalam tahun 1831, pemberontakan kelas buruh yang pertama terjadi di Lyon: antara 1838 dan 1842, gerakan kelas buruh nasional yang pertama, yaitu gerakan kaum Cartis di Inggris, mencapai puncaknya. Perjuangan kelas antara proletariat dengan borjuasi tampil ke muka dalam sejarah negeri-negeri yang paling maju di Eropa, seimbang dengan perkembangan, di satu pihak, dari industri modern, di lain pihak, dari kekuasaan politik borjuasi yang baru diperoleh. Fakta-fakta makin lama makin kuat menunjukkan kebohongan ajaran-ajaran ekonomi borjuis tentang persamaan kepentingan kapital dan kerja, tentang keselarasan universal dan kemakmuran universal yang akan menjadi akibat dari persaingan yang tidak berkekang. Semua hal ini tidak lagi dapat dianggap sepi, seperti juga Sosialisme Perancis dan Inggris, yang merupakan pernyataan teori dari hal-hal itu, meskipun sangat tidak sempurna. Tetapi konsepsi sejarah idealis yang lama, yang belum didepak, tidak mengetahui apa-apa tentang perjuangan-perjuangan kelas yang berdasarkan kepentingan-kepentingan ekonomi, tidak mengetahui apa-apa tentang kepentingan-kepentingan ekonomi; produksi dan semua hubungan ekonomi nampak baginya hanya sebagai unsur-unsur yang kebetulan, bawahan dalam “sejarah peradaban”.
Fakta-fakta baru telah membikin penyelidikan baru mengenai seluruh sejarah yang lampau menjadi urgen. Kemudian nampak bahwa seluruh sejarah yang lampau, terkecuali tingkatan-tingkatan primitifnya, adalah sejarah perjuangan-perjuangan kelas; bahwa kelas-kelas masyarakat yang berperang ini adalah selamanya produk cara-cara produksi dan pertukaran-pendeknya, produk syarat-syarat ekonomi pada zamannya; bahwa struktur ekonomi masyarakat itu selamanya merupakan basis yang sesungguhnya, hanya bertolak dari sini kita dapat memberikan penjelasan yang terakhir tentang seluruh bangunan-atas dari lembaga-lembaga hukum dan politik maupun dari ide-ide keagamaan, filsafat dan ide-ide lainnya pada periode sejarah tertentu. Hegel telah membebaskan sejarah dari metafisika-dia telah membuatnya dialektis; tetapi konsepsinya tentang sejarah pada dasarnya idealis. Tetapi sekarang idealisme didesak dari tempat perlindungannya yang terakhir, filsafat sejarah; sekarang telah diajukan perlakuan yang materialis mengenai sejarah, dan telah ditemukan suatu metode untuk menerangkan “pengetahuan” manusia dengan “keadaan-keadaan"-nya, bukannya seperti dulu, menerangkan “keadaan-keadaan"-nya dengan “pengetahuan"-nya.
Sejak waktu itu Sosialisme tidak lagi merupakan suatu penemuan yang kebetulan dari otak cendikia ini atau itu, tetapi merupakan akibat yang mesti dari perjuangan di antara dua kelas yang berkembang dalam sejarah-proletariat dan borjuasi. Tugasnya tidak lagi membikin suatu sistem masyarakat sesempurna-sempurnanya, tetapi menyelidiki rangkaian kejadian-kejadian histori-ekonomi dari mana telah timbul sebagai keharusan kelas-kelas ini dan antagonisme mereka, dan menemukan alat-alat untuk mengakhiri konflik itu yang dengan begitu diciptakan dalam syarat-syarat ekonomi. Tetapi Sosialisme dari hari-hari terdahulu tidak bisa dipersatukan dengan konsepsi materialis ini sebagaimana konsepsi Alam dari kaum materialis Perancis tidak bisa dipersatukan dengan dialektika dan ilmu alam modern. Sosialisme dari hari-hari terdahulu tentu saja mengkritik cara produksi kapitalis yang sedang berlaku dan akibat-akibatnya. Tetapi ia tidak dapat menjelaskannya dan, karenanya, tidak dapat menguasainya. Ia hanya dapat menolaknya begitu saja sebagai buruk. Semakin keras Sosialisme terdahulu ini mencela penghisapan atas kelas buruh, yang tak dapat dielakkan di bawah kapitalisme, semakin kurang mampu ia menunjukkan dengan terang berupa apa penghisapan ini dan bagaimana timbulnya. Tetapi untuk ini perlulah-(1) mempertunjukkan cara produksi kapitalis dalam hubungan sejarahnya dan ketak-terelakkannya selama periode sejarah tertentu dan oleh karena itu juga mempertunjukkan keruntuhannya yang tak terelakkan; dan (2) menelanjangi watak hakikinya yang masih merupakan suatu rahasia. Hal ini telah dilakukan dengan penemuan nilai-lebih. Telah ditunjukkan bahwa perampasan atas kerja yang tak dibayar adalah dasar dari cara produksi kapitalis dan dari penghisapan atas buruh yang terjadi di bawah cara produksi kapitalis itu; bahwa kalaupun si kapitalis membeli tenaga-kerja buruhnya dengan nilainya yang sepenuhnya sebagai suatu barang dagangan di pasar, namun dia memeras lebih banyak nilai darinya daripada yang dia bayar untuknya; dan bahwa dalam analisa terakhir nilai-lebih ini merupakan jumlah-jumlah nilai dari mana ditimbun massa kapital yang senantiasa meningkat dalam tangan-tangan kelas yang bermilik. Asal-mula produksi kapitalis dan produksi kapital kedua-duanya dijelaskan.
Dengan dua penemuan besar ini, konsepsi sejarah materialis dan pembongkaran rahasia produksi kapitalis melalui nilai-lebih, kita berhutang budi kepada Marx. Dengan penemuan ini Sosialisme menjadi ilmu. Hal berikutnya ialah mengerjakan semua perincian serta hubungannya.
________________________________________
Catatan
1 Periode Alexandria dari perkembangan ilmu meliputi periode yang merentang dari abad ke-3 S.M. sampai abad ke-7 M. Ia memperoleh nama itu dari kota Alexandria di Mesir, yang merupakan salah satu pusat yang terpenting dari hubungan ekonomi internasional pada waktu itu. Dalam periode Alexandria, matematika (Euclid dan Archimedes), geografi, astronomi, anatomi, fisiologi, dll., mencapai perkembangan besar.-Red.
Monday, November 2, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment